
Andai saja Chesy memilih untuk bersikap kejam, dia pastu sudah menurunkan Sneja di pinggir jalan saja. Tapi dia masih memiliki perikemanusiaan. Tujuannya menolong murni karena nurani. Hanya saja, hatinya terasa panas saat Senja bersama dengannya seperti ini.
Bahkan Chesy harus menahan api cemburu saat Cazim menggendong Senja sampai ke ruangan UGD. Gadis itu mengaku tidak bisa berjalan.
Rasanay Chesy ingin menjambak-jambak rambut pirang Senja biar gundul. Terlebih gadis itu terlihat sengaja menempelkan pipinya ke dada bidang Cazim, ditambah lengannya yang memeluk tubuh Cazim erat ketika ia di posisi sedang digendong oleh Cazim.
Repot urusannya mencintai suami dalam diam begini. Sebenarnya sejak kemarin Chesy sudah mengakui cintanya ke Cazim, tapi semenjak terungkapnya kasus pembunuhan itu, Chsey merasa enggan dan berat untuk mengakui bahwa rasa cinta itu tidak berubah.
“Cazim, apa kita bisa tinggalkan Senja di sini?” tanya Chesy saat dokter melakukan penanganan terhadap luka di kaki Senja.
“Apa? Aku mau ditinggalin di sini? Aku tidak mau sendirian di sini,” sahut Senja sebelum Cazim menjawab. “Kalian mau pulang ke rumahnya Cazim kan? kalau begitu kita satu tujuan. Biarkan aku ikut bersama kalian. Kendaraanku rusak. Aku juga tidak bisa berjalan. Ini akan sangat menyulitkanku untuk pulang.” Senja duduk di bed sesekali merintih saat merasakan sakit. Padahal kakinya sudah dibius.
Lihatlah, Senja bicara banyak padahal Chesy baru bicara satu kalimat saja.
“Aku hanya bertanya, dan aku belu mendapat jawaban dari Mas Cazim. Jadi bagaimana Mas? Apakah senja akan ikut bersama kita?” tanya Chesy.
“Kupikir lebih baik ikut saja. kondisi Senja juga sedang tidak baik. Kita akan membantunya sampai dia pulang ke rumahnya,” jawab Cazim. “Kau tidak keberatan kan?”
“Keberatan,” celetuk Chesy. “Tapi mau bagaimana lagi. Ya sudahlah. Biarkan Senja ikut bersama kita. Tapi ingat, jangan merepotkan!”
“Iya.” Senja tersenyum. “Makasih ya, Chesy. Kamu mau membantuku.”
Chesy hanya memutar mata. Entah kenapa perasaannya panas setiap kali melihat Senja.
“Aku kedinginan. bajuku agak basah ini gara-gara kena gerimis tadi.” Senja memeluk lengannya sendiri. “Bisakah kamu membantuku, Cazim?”
“Apa?” tanya Cazim.
“Aku pakai jaketmu ya?”
Cazim menatap jaket yang dia kenakan. “Oh.” Ia melirik Chesy seakan meminta ijin, namun tidak mendapatkan aba-aba apa pun dari istrinya. Chesy hanya diam memalingkan wajah.
Cazim melepas jaketnya dan menangkupkannya ke pundak Senja.
“Makasih, Cazim.” Senja tersenyum lebar.
Ugh, gedeg sekali melihat senyuman Senja. Kenapa niat menolong malah seperti menimbulkan dosa begini? bukannya mendapat pahala, malah menimbun dosa karena gedeg bawaannya.
Andai saja Chesy tidak melihat kecelakaan itu, pasti ia tidak akan semobil lagi dengan Senja. Gadis itu benar-benar mengganggu ketenangan Chesy. Jika saja sosok yang kecelakaan itu adalah orang tak dikenal, mungkin situasinya akan berbeda.
__ADS_1
Perjalanan memakan waktu lama karena mengurus Senja di rumah sakit.
Bahkan sampai malam hari mereka masih berada di perjalanan. Senja tertidur di kursi belakang, sedangkan Chesy sesekali tertidur, namun sering terjaga. Cazim fokus menyetir, sesekali meneguk kopi.
Pria itu menutup mulut saat menguap. Lalu menggelengkan kepala membuang kantuk.
“Ngantuk?” lirih Chesy membuat Cazim menoleh.
Pria itu hanya diam.
Dari matanya yang merah, jelas kalau Cazim sedang mengantuk berat.
“Bahaya nyetir sambil ngantuk begitu,” imbuh Chesy.
“Lalu bagaimana lagi?”
“Apa masih jauh?” Chesy melirik jam digital di mobil. Jam satu dini hari.
“Masih.”
“Ya sudah, biar gentian aja. Aku yang nyetir.”
Mobil menepi saat menemukan hotel. Mereka menginap di kamar bersebelahan. Satu kamar untuk senja. Kamar lainnya untuk Chesy dan Cazim.
Senja mengaku tidak bisa berjalan hingga terpaksa Cazim kembali menggendong gadis itu hingga sampai kamar.
“Apakah aku tidur di sini sendirian?” tanya Senja ketika tubuhnya ditaruh ke kasur oleh Cazim.
“Menurutmu?” tanya Chesy yang berdiri di ambang pintu.
“Setidaknya aku ditemani.”
“Kamar kita bersebelahan. Jaraknya dekat. Atau… Kamu butuh kruk? Biar aku belikan.”
“Malam-malam begini tidak mungkin ada toko yang buka.”
“Ya sudah. Istirahatlah!” Chesy mematikan lampu.
“Kau bisa telepon kalau butuh apa-apa,” ucap Cazim membuat Chesy merasa panas.
__ADS_1
Kalimat itu sebenarnya memang tepat, tapi Chesy merasa cemburu mendengar Cazim melontarkan kalimat yang menandakan perhatian.
Cazim meninggalkan kamar Senja bersama dengan Chesy. Mereka masuk ke kamar sebelah.
Chesy meneguk vitamin, barulah ia naik ke kasur setelah mematikan lampu.
Cazim menyusul naik ke kasur. Berbaring miring menghadap Chesy yang menelentang.
“Kau gelisah? Kenapa?” tanya Cazim yang melihat Chesy sebentar-bentar membuka mata setelah beberapa kali memejamkannya.
Chesy menggeleng.
“Masih marah?” tanya Cazim.
Chesy hanya diam.
“Sepertinya berat sekali untuk bersikap leluasa seperti dulu. But, no problem. Aku paham. Aku mengantuk sekali. Aku tidur dulu ya.” Cazim memejamkan mata. Dalam hitungan detik, dia sudah tertidur pulas sekali.
Dari napasnya yang terdengar keras, jelas terlihat kalau Cazim sudah pulas.
Klung.
Sebuah chat masuk ke hp Cazim.
Saat hp dalam keadaan menyala, Chesy dapat melihat dengan jelas nama pengirim chat tersebut adalah Senja.
Ya ampun, mau apa lagi sih bocah tengil ini? Chesy gemas sekali. Ia membaca chat melalui notifikasi tanpa membukanya.
.
‘Cazim, aku kebelet pipis. Bantuin aku! Aku tidak bisa sendiri.’
.
Hah? Terus? Cazim suruh masuk ke kamar Senja untuk mengambilkan membantu gadis itu buang air kecil ke kamar mandi, begitu? Waras nggak sih nih bocah?
Bersambung ...
Follow instagram @emmashu90 untuk kenal lebih dekat yah 😊😊
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol permintaan update di bawah, dan kasih hadiah koin tentunya, biar ngebut nulis 🥰🥰