Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Ayah Salah Paham


__ADS_3

Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah berukuran besar. Tak lain rumah Senja.


"Turunlah! Cepat pulang dan temui orang tuamu. Mereka pasti menunggumu," ucap Cazim.


"Loh, kamu tidak ikut turun?" tanya Senja. "Bawa saja Chesy untuk turut masuk dan diperkenalkan pada orang tuaku. Orang tuaku kan kenal dekat denganmu, Cazim. Mereka sudah menganggap mu seperti anak sendiri. Dulu kamu sering menginap di rumahku, makan bersama dengan keluargaku, apa kamu tidak rindu dengan momen itu?" tanya Senja membuat Chesy menjelajah dengan segala pikiran, mengenai Cazim yang katanya sedekat itu dengan Senja dan keluarganya.


Ternyata hubungan Cazim dan Senja memang sangat dekat sekali, mereka bersahabat sudah lama. Pantas saja hubungan mereka sedekat ini.


"Tidak. Sampaikan saja salamku pada mama dan papamu. Aku tidak bisa mampir. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan bersama dengan istriku."


"Baiklah." Senja tampak kecewa. Ia menuruni mobil.


Cazim membunyikan klakson dan berlalu meninggalkan Senja.


"Kalian ternyata sedekat itu ya dulu?" tanya Chesy dengan tatapan ke arah luar jendela.


"Ya." Cazim tidak mau mengatakan banyak hal. 


Tak lama kemudian mobil memasuki sebuah halaman rumah sederhana. Rumah yang terkesan klasik alias bangunan jaman dulu. Ada banyak ukiran di tiang rumah. 


"Ini rumahmu?" tanya Chesy.


"Rumah ayahku. Ayo!" Cazim menuruni mobil dan membukakan pintu untuk Chesy.


Menyadari pintunya dibukakan, Chesy merasa dihormati sebagai wanita. Cazim memang full cuek, dingin dan tidak seromantis suami lainnya, namun caranya menghargai wanita cukup mengagumkan.


Chesy mengikuti Cazim melangkah menuju rumah.  Tidak ada yang mewah dari rumah sederhana nan mungil itu, namun kesannya asri dan nyaman.


“Ayah!”  Cazim mendorong pintu sesaat setelah mengucap salam.  Pintu rumah mungil itu tidak dikunci.


Chesy mengikuti Cazim masuk ke dalam rumah.  Lelaki itu menyusuri ruangan lain.  Hingga akhirnya sampai ke dapur.


Lelaki tua berusia tujuh puluh tahun tampak sibuk dengan pekerjaannya merebus dan mencetak bakso, dibantu oleh pegawai muda.  Meski usianya sudah memasuki angka tujuh puluh tahun, namun ia tampak masih bugar dan sehat.  Bahkan tubuhnya masih tegap dan kuat.

__ADS_1


“Ayah!”


Lelaki tua itu meletakkan baskom berisi bulatan bakso, terkejut menatap kedatangan Cazim.  Lalu bibirnya merekah oleh senyum lebar.  Wajahnya sumringah.


“Ya Allah, ini kamu, Cazim?”  Logat Jawa-nya kental sekali.  “Owalaah… Nang.  Kok baru pulang?  Ayah dari kemarin menunggumu.  Ayah setiap malam kepikiran kamu terus.”  Lelaki bernama Fatih itu mendekati Cazim setelah mengelap kedua tangannya yang basah dengan handuk khusus untuk lap.


Beberapa kali Fatih meyentuh-nyentuh lengan dan pundak Cazim dengan pandangan bangga.  “Sebenarnya kamu kemana, Nang?  Kenapa menghilang?  Ayah cemas.  Apa yang terjadi padamu?”  Lelaki tua itu polos sekali.  


Cazim menarik sedikit sudut bibirnya.  Tidak ada sepatah kata yang dia ucapkan.


“Le, ini ada Cazim, putraku.  Ayo, salim dulu,” pinta Fatih pada karyawannya.


Pemuda yang tengah sibuk membuat butiran bakso itu pun mencuci tangannya dan mengelap sampai kering, kemudian menyalami tangan Cazim.  “Monggo, Mas!” sapanya ramah sambil menundukkan kepala.  


Cazim pun mengangguk.


Pemuda itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Kamu ada tugas ke luar kota, atau apa?  Kok kalau ayah hubungi ndak bisa to?  Apa di sana tidak ada jaringan?” tanya Fatih.


“Nah, kalau begini kan enak.  Jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkanmu.”  Kegembiraannya terpancar jelas di wajahnya yang berseri-seri.  “Tapi kok rambut kamu jadi agak panjang begini toh?  Tuh rambutnya melewati telinga, bagian depan melewati alis.  Apa seorang polisi itu boleh punya rambut gondrong begini?”  Fatih memperhatikan kondisi putranya dengan cermat.  “Oh ya, kamarmu masih seperti dulu.  Ayah selalu bersihkan kamarmu itu.  Kamu bisa langsung istirahat di kamar.  Pasti capek.”


“Ayah, aku tidak sendiri.”  Cazim mengabaikan perkataan ayahnya yang sejak tadi panjang lebar.


“Sama siapa?  Senja?” 


Pertanyaan itu membuat Chesy yang berdiri di belakang dan tubuhnya terhalang oleh Cazim itu pun menjadi insecure.  Apakah ini artinya ayahnya Cazim mengharapkan Senja menjadi menantunya?  Sampai-sampai yang disebut pun harus nama Senja.


“Bukan,” jawab Cazim dengan raut wajah seperti biasa, dingin dan datar.


“Biasanya kamu selalu bersama dengan Senja terus.  Kemana-mana juga selalu Senja.  Kemarin ayah sempat marah-marah sama Senja.  Ayah menanyakan keberadaanmu, tapi Senja tidak mau mengatakannya.  Lha wong hape kamu itu tidak aktif, jadi ayah mau telepon siapa?  Senja itu seperti menyembunyikan sesuatu, jadi ayah kesal.  Kamu mendadak pergi meninggalkan ayah begitu saja, seolah-olah sedang ada masalah besar.  Ayah mengira Senja mengetahui keberadaanmu tapi dia tidak mau terbuka pada ayah.  Akhirnya ayah marah- marah sama dia.  Kalau tahu kamu pergi karena tugas, ayah kan tidak harus mengambil sikap begini.  Seharusnya ayah tidak memarahi Senja.  Kasian dia.  Dia anak yang manis.  Jadi kapan kamu melamarnya?”


Cazim segera menyingkir dan menunjuk Chesy di belakangnya, membuat Fatih mengangkat alis menatap sosok wanita cantik mengenakan hijab putih yang mengangguk ke arahnya.

__ADS_1


“Aku bersama dengan Chesy.”  Cazim menatap ke arah istrinya.


Chesy melangkah maju dan berdiri di sisi suaminya.  “Siang, ayah!”


“Siang.  Ya sudah, kalia duduk di depan sana.  Ayah buatkan minum dulu,” ucap faith.


Cazim melenggang ke depan sesuai permintaan ayahnya, sedangkan Chesy masih bertahan dan berkata, “Nggak usah, Yah.  Jangan repot-repot.”


“Nggak apa-apa.  Ini mah biasa.  Cuma tah saja kok.  Tunggu di depan sana!”


Chesy pun tidak bisa menolak.  Dia menyusul Cazim ke depan, duduk di kursi bersebelahan dengan Cazim.


“Ayahmu berharap banget ya supaya Senja jadi menantunya, kalian begitu dekat,” celetuk Chesy dengan sebal.  Ia jadi seperti menantu yang tidak diharapkan.


“Kedekatan aku dan Senja bukan berarti membawa kami pada jalan pernikahan.  Tidak usah dipikirkan!”


Bagaimana mungkin Chesy tidak memikirkan?  Sedangkan mertuanya sekarang mengharapkan gadis lain untuk dijadikan menantu.  Sah- sah saja Cazim bilang supaya Chesy tidak perlu memikirkan, nyatanya ia merasa tidak nyaman atas harapan Fatih itu. 


“Ini tehnya, ayo diminum.  Mumpung hangat.  Perjalanan kalian pasti jauh kan?”  Fatih muncul membawa dua gelas teh hangat.


“Makasih.”  Chesy datar saja.


“Tadi waktu kamu bilang kalau kamu datang tidak sendiri dan tidak pula bersama dengan Senja, ayah pikir kamu datang bersama dengan Alando.  Rupanya ada orang lain lagi yang menjadi temanmu.”  Fatih tertawa.  “Jadi Nak Chesy ini temannya Cazim dari mana?”


“Dari Jakarta Timur,” jawab Chesy singkat. 


“Ayah kaget kok tiba-tiba Cazim datang membawa teman baru.  Tapi nanti jangan sampai membuat situasi jadi salah paham, sebab Cazim ini sudah punya teman spesial, atau disebut dengan calon istri, namanya Senja.  Berteman boleh, tapi diharapkan tidak menimbulkan fitnah.”  Fatih membetulkan posisi kopiah di kepalanya.


“Chesy ini adalah istriku, Ayah,” sebut Cazim membuat Fatih langsung membungkam dan kaget.


Bersambung


Makasih untuk kalian yang udah sawerin koin. Semoga rejekinya lancar.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak dan klik tombol permintaan update di bawah ya! 🥰 Salam sayang selalu


__ADS_2