Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Situasi Berbeda


__ADS_3

Tak lama Joseph langsung sadar dengan posisi wajahnya yang sangat berdekatan dengan wajah Revalina, ia langsung mengalihkan pandangan sembari kembali berdiri tegap.


"Maaf Reva, aku tak bermaksud untuk," ucap Joseph terhenti.


"Nggak papa Pak," sahut Revalina tak sengaja memotong ucapan Joseph.


Tak hanya Joseph yang panik, Revalina pun begitu bahkan tak lagi berani menatap mata CEO muda itu untuk saat ini.


"Sudah paham kan apa yang aku jelaskan barusan?" tanya Joseph.


"Sudah Pak," sahut Revalina mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu, aku juga sudah selesai fotokopi. Terimakasih, aku kembali ke ruanganku," pamit Joseph.


Klekkk.


Bunyi pintu kembali tertutup, menandakan Joseph sudah keluar dari ruangan kerjanya.


Tak sengaja Revalina memandang ke arah Rival, dilihatnya wajah Rival memerah padam seperti tengah menahan amarah.


'Kenapa dia begitu,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Meski dirinya dan Rival sekarang sedang marahan kaan tetapi ia masih tak enak hati walaupun kejadian tadi pyur ketidaksengajaan.


"Reva, aku nggak suka kamu dekat-dekat sama CEO itu," ujar Rival dengan tegas.


"Ya terus mau mu gimana Mas, aku harus jauhin atasan ku sendiri?" tanya Revalina bingung dengan larangan Rival untuknya.


"Itu lebih bagus," jawab Rival ketus.


Seketika kepala Revalina menggeleng kebingungan, ia tak bisa mencerna larangan Rival dengan mentah-mentah.


"Gila, mana bisa seorang ajudan pribadi berjauhan sama CEO nya yang benar-benar saja Mas," ucap Revalina dengan nada kesal.


"Bisa, kau saja yang tak mau cari cara untuk menjauh atau jangan-jangan kau ini suka dekat-dekat laki-laki itu," sahut Rival berujung praduga.


Reflek Revalina memutar bola matanya, semakin malas mendengar ucapan Rival yang sejak tadi tak mengenakkan hatinya.


Beberapa jam berlalu, Revalina telah menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruangan Joseph dan kembali lagi ke ruangan kerjanya sembari membawa perintah baru.


Ketika kembali ke ruangan kerjanya tak disangka di dalam sudah ada Yakub tengah berbincang santai dengan Rival di sofa sana.


"Eh kak Yakub, sudah pulang ngantor Kak?" tanya Revalina sembari tersenyum ke arahnya.


Melihat ada Kakak iparnya di sana dengan cepat Revalina berbelok ke arah sofa laku duduk bersama mereka.


"Sudah Rev, dari luar kota aku langsung kesini niatnya mau ajak Rival jalan-jalan sambil lihat rumah sakit baru rekomendasi ku," jawab Yakub beberapa detik setelah berucap langsung melirik Rival.


"Bagus itu Kak, silahkan aku tak keberatan," ucap Revalina mendukung penuh aksi sang Kakak ipar.


Siang itu Rival dibawa Yakub berpergian tanpa syarat, namun Yakub tak ingin seenaknya meski dirinya adalah Kakak kandung Rival sendiri, tapi semua itu sudah terjamin keamanannya hanya saja masih harus memperhatikan sendiri sekarang


Setelah Rival pergi, Revalina semakin memaksakan dirinya untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, kepulangan Revalina tepat di jam 5.

__ADS_1


Klekk klekkk.


Secara bersamaan Revalina dan Joseph keluar dari ruangan masing-masing, menutup pintu ruangan kerja rapat-rapat. 


"Eh, Reva baru mau pulang juga," tegur Joseph sembari tersenyum ke arah Revalina.


"Pak Joseph, iya Pak" sahut Revalina menyahut teguran Joseph.


Mereka pun bergegas pulang, berjalan beriringan keluar dari kantor yang sepi tinggal beberapa saja yang masih berkerja.


"Aku lihat tadi siang Rival di bawa seorang lelaki, siapa dia?" tanya Joseph sembari mengiringi langkah kaki Revalina.


"Itu Kakaknya," jawab Revalina.


"Oh Kakaknya," ucap Rival mengangguk paham.


"Kenapa dia dibawa pergi Kakaknya pas masih siang?" tanya Joseph kembali.


Sebenarnya Revalina malas menjawab pertanyaan Joseph, namun pertanyaan ini tak beresiko sama sekali dan lagi pun bukan suatu perkara yang patut untuk di sembunyikan dari orang luar.


"Kakaknya mau ajak jalan-jalan Pak, rindu mungkin ya sudah lama nggak ajak jalan-jalan adiknya apalagi seminggu terakhir ini Kakaknya sibuk sekali bahkan beberapa hari tak kelihatan sama sekali batang hidungnya," jawab Revalina berusaha sesantai mungkin.


Seperti biasa ketika di lobi Revalina menunggu mobilnya di keluarkan oleh satpam dari parkiran, sementara Joseph menunggu mobilnya keluar bersama dengan supir pribadi.


"Nah mobil ku sudah datang duluan," ucap Joseph sesaat setelah mobilnya terhenti tepat di hadapannya.


"Ya sudah aku pulang duluan ya," pamit Joseph.


Joseph pun bergegas masuk ke dalam mobil, tak lama mobil itu langsung melaju dengan kecepatan rendah keluar dari kawasan kantor.


Sore itu Revalina tak langsung pulang ke rumah mertuanya, ia justru mampu ke rumah Uminya yang terletak tak jauh dari kantor.


Maksud tujuannya datang ke rumah Chesy adalah untuk mengobati rindu sekaligus memuaskan bibirnya yang ingin berita dengannya.


Di rumah hany ada Chesy, sedangkan Rafa masih belum pulang juga.


"Lain kali kalau ke sini suami mu diajak, jangan pergi sendiri begini," tegur Chesy sembari menyuguhkan masakannya ke atas meja ruang makan.


"Iya Ma, kebetulan tadi itu kan Mas Rival lagi diajak keluar sama Kak Yakub makanya aku kesini sendiri," sahut Revalina.


Tentu Revalina berusaha sebisa mungkin untuk menutupi permasalahan rumah tangganya di depan keluarga mau pun di depan orang lain, terlebih Rafa. Ia tak mau membuat Rafa marah karena atas kepeduliannya semalam justru di salah artikan oleh Rival.


Sore itu Revalina menghabiskan waktu bersama Chesy, hingga tiba saatnya makan malam di saat yang bersamaan Rafa pulang dari kantor membawa sesuatu di tangannya.


"Assalamualaikum," ucap salam Rafa.


"Waalaikumsalam," sahut salam Revalina dan Chesy bersamaan.


Keduanya langsung menoleh ke arah Rafa dengan serentak, memandangi Rafa yang kini semakin mendekat ke arah ruang makan.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga," ucap Chesy sambil tersenyum.


"Lah Umi, kenapa nungguin aku. Makan malam duluan saja," sahut Rafa.

__ADS_1


"Ini tumben anak bontot habis pulang kantor kesini," their Rafa sembari meletakkan barang bawaannya ke atas meja makan.


Tak bersih-bersih terlebih dahulu, Rafa justru langsung ikut bergabung bersama mereka.


"Setiap aku kesini bilangnya tumben terus ih," gerutu Revalina kesal.


Melihatnya kesal, Rafa justru terkekeh agaknya memang suka membuatnya kesal. Setelah itu baru tertawa puas, apalagi ketika sudah membuatnya menangis. Sekejap Revalina teringat dengan kejahilan-kejahilan yang Rafa lakukan dulu pada dirinya.


"Biarkan Rafa, Umi senang kalau Reva sering-sering kesini," tegur Chesy pada Rafa.


"Masalahnya nggak sering Umi, dia kesini cuma setahun sekali makannya aku bilang tumben," sahut Rafa sembari tersenyum-senyum.


Mendengar ucapan Rafa, Revalina kembali meradang. Kakaknya yang satu ini sudah terlalu hiperbola dalam mengisyaratkan tentang dirinya.


"Mana ada setahun sekali, aku menikah saya baru berapa bulan sih," gerutu Revalina kesal.


"Itu kode Reva, supaya kau sering-sering kesini," ucap Chesy tersenyum-senyum memandangi kedua anaknya.


"Oh begitu," ucap Revalina mengangguk-angguk, kini kembali tersenyum setelah menyadari Kakaknya tengah gengsi mengungkapkan kerinduannya.


"Enggak, aku nggak kasih kode apa-apa. Reva nggak kesini juga nggak papa," sahut Rafa acuh membuang muka.


"Halah, kemarin malam saja merengek terus ajak Umi ke rumah mertua mu Reva. Ya karena Ini ada urusan jadi dia nekat pergi sendiri," ujar Chesy membongkar sesuatu hal di balik kedatangan Rafa di rumah Candini.


Revalina semakin tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, Rafa benar-benar tak berubah kepedulian terhadap dirinya begitu besar hanya saja sering tertutup oleh rasa gengsi.


"Ini mau sampai kapan bicara terus, kapan makan malamnya," tegur Rafa cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya, ayuk di mulai jangan dilihatin saja," ucap Chesy.


Kini Chesy langsung sibuk melayani kedua anaknya, mengambilkan satu persatu nasi dan lauk yang sudah di masakannya.


"Aku bawakan kue, di makan ya," ucap Rafa membuka barang bawaannya lalu menyuguhkannya ke tengah meja.


Terlihat kue yang dibawa Rafa adalah kue macaron, Revalina mulai kebingungan sejak kapan Kakaknya ini suka kue warna-warni ini apalagi dalam satu kotak terdapat warna pink dan putih saja.


'Memang kue ini bisa request warna sih, tapi kalau cuma ketidaksengajaan niat sekali Kak Rafa beli cuma warna putih sama pink saja,' ucap Revalina dalam hati.


"Sejak kapan kamu suka kue ini?" tanya Chesy menatap heran.


Akhirnya Chesy menyuarakan kebingungannya, kini Revalina hanya menunggu apa jawaban yang akan keluar dari mulut Kakaknya.


"Sejak tadi, aku lihat kue ini paling bagus ya sudah aku beli yang ini," jawab Rafa dengan santainya.


Akan tetapi tetap saja ada yang janggal di mata Revalina, yaitu pada bagian box kue itu yang berbentuk love dengan pita cantik di atasnya rasanya ada yang aneh di sini.


"Ah masa begitu, jangan-jangan kau habis nembak perempuan tapi ditolak," duga Revalina sembari melempar lirikan maut ke arah Rafa.


Uhukk uhukk.


Tiba-tiba Rafa tersedak, reflek membuat Chesy panik langsung memberinya minum miliknya. Sangking paniknya Chesy sampai berdiri.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2