
Chesy melangkah memasuki rumah. Ia mendapati Yunus yang tengah duduk sendirian di ruang tamu dengan raut sedih.
"Abi!" Chesy mendekati Yunus. Duduk di sisi abinya.
Sebelum Chesy bicara, Yunus sudah lebih dulu angkat suara, "Maafkan abi. Selama ini abi sudah memaksakan kehendakmu. Abi memaksa kamu menikah dengan Cazim, bahkan mempercayakan kamu kepadanya. Seorang pembunuh, tetaplah pembunuh. Dia melenyapkan umi kamu."
"Sejak awal juga aku udah bilang ke abi, bahwa Cazim itu bukan manusia baik. Ada banyak rahasia yang dia simpan tentang masa lalunya. Dia bukan pemuka agama seperti yang abi lihat. Kefasihannya dalam ilmu agama hanyalah kedok. Tapi abi nggak pernah mau mempercayai aku." Chesy cemberut.
"Abi salah. Abi terlalu mempercayai Cazim. Abi sudah sangat sering bertukar pikiran dengannya, membahas masalah keagamaan. Dia begitu paham dengan ilmu agama. Semua itu telah membius otak abi hingga seratus persen mempercayainya. Mulai dari sikap, penampilan, tutur bahasa, ditambah dengan ilmu pemahamannya dengan agama yang baik, abi benar-benar terbius.” Yunus menyesali keadaannya.
tidak sepenuhnya salah Yunus. Andai saja Chesy adalah sosok yang mencerminkan anak baik, pasti Yunus juga aka langsung mempercayai Chesy. Tapi ini masalahnya perkataan Chesy sejak dulu juga tidak bisa dipercaya. Dia sering berbohong, nakal dan tidak patuh. Lalu bagaimana abinya akan mempercayai perkataan seorang pembohong?
Coba saja Chesy mencerminkan sebagai anak baik yang alim, yang setiap perkataannya tidak pernah ada dusta, yang patuh dan taat pada orang tua seperti Aisyah, istrinya nabi. Pasti Yunus akan mempercayai perkataan Chesy. Tapi faktanya Chesy kesulitan mendapatkan kepercayaan abinya karena memang dia adalah anak yang nakal.
“Abi tidak bisa bicara banyak mengenai rumah tanggamu, Chesy. Maafkan abi. Maaf, abi sudah menjadi orang yang mematahkan semangatmu hidupmu dengan cara ini. Maaf abi sudah menjerumuskan rumah tanggamu. Abi hanya inginkan yang terbaik buat kamu, dan ternyata itu justru memberikan hal terburuk buatmu.” Yunus mengusap wajahnya sendu.
Duh, gimana sih ini? Seharusnya Chesy yang galau dan pasang muka sendu, ini kenapa malah abinya yang duluan baper begini? Jadi bingung mau menunjukkan ekspresi bagaimana.
“Sekarang semuanya terserah padamu, abi pun tidak bisa memaksakan kehendakmu. Pilihan ada padamu,” ucap Yunus.
“Maksud abi?”
“Apa yang menjadi keputusan dalam rumah tanggamu, semuanya bergantung padamu.”
__ADS_1
Chesy baru paham maksud perkataan abinya. “Aku mau cerai. Kali ini abi nggak menghalangi kemauanku kan?”
Yunus hanya menepuk lengan putrinya, tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya menunjukkan keprihatinan dan penyesalan yang mendalam.
“Hanya satu nama yang menyebabkan kita kehilangan tiga nyawa sekaligus. Kehilangan umi, Bang Ismail, juga nenek. Da itu adalah Mas Cazim. Dia adalah seorang polisi, yang juga menjadi mafia di tubuh polri. Dia ditugaskan untuk memberantas narkoba, namun malah dia yang melindungi gembong narkoba, dia yang memberikan wadah dan jalan mulus untuk para pelaku. Dia mafia. Sekarang dia berada di sini karena bersembunyi dari pengejaran polisi setelah dia ditetapkan menjadi tersangka. Aku harap abi bisa mempercayai perkataanku kali ini.” Chesy menghea napas.
“Kamu yakin ingin bercerai?”
“Memangnya apa yang membuatku harus bertahan? Nggak ada, abi. Aku nggak akan sanggup hidup berdampingan dengan pembunuh umi.” Chesy menghambur pergi meninggalkan abinya.
Ia masuk kamar. Lalu menarik dengan kuat sprei dan membuangnya ke lantai. Ia juga membuka lemari yang di sana ditemukan banyak pakaian milik Cazim, lalu menghempaskan baju-baju yang ada di lemari dengan sekali usap lengannya.
Pakaian yang tergantung di hanger pun dilepaskan dari tempatnya lalu dionggokkan ke lantai. Tak lupa pula ia comot celana segi tiga yang tersusun manis di laci bawah. Tiba-tiba saja ingatannya melayang pada keperkasaan Cazim saat menyentuh benda itu. tidak bisa dipungkiri, lelaki itu menawarkan sejuta kehebatan yang luar biasa dalam hal bercinta.
Jangan diingat! Jangan diingat!
Lupakan! Lupakan!
“Biiiiik! Bik Parti!” seru Chesy melengking keras, membuat Bik Parti tergopoh memenuhi panggilan.
“Ya, Non Chesy yang cantik sekecamatan! Ada apa, Non? BIbik datang!” Bik Parti tampak ketakutan. Suara Chesy yang melengking keras itu menunjukkan nada tinggi. lebih baik ia membujuk Chesy dengan kata- kata rayuan supaya tidak kena imbas kekesalan Chesy. Akhir-akhir ini majikannya itu memang sedang mengamuk terus. Jadi ia haru waspada.
“Cepat ganti sprei, alas bantal, alas apa aja semuanya!” titah Chesy.
__ADS_1
“Siap, Non. Alas kasur, alas bantal, alas apa lagi? Alas kaki juga siap saya basmi ini, Non. Biar saya kemas dan langsung diganti.” Bik Parti memungut alas kaki di depan pintu kamar mandi.
“Pakaian itu masukkan ke tas dan bawa keluar!”
Bik Parti terbengong sbeentar. Takut kualat kalau sampai membuang pakaian milik suami majikannya.
“Non, beneran dibuang?”
“Beneran. Udah, jangan banyak tanya.”
“Non, nggak takut durhaka sama suami buang pakaian miliknya begini?”
“Bibik jangan pancing emosiku deh. Buruan sana kerjain aja tugas bibik.”
“Oh eh, baik, Non!” Bik Parti mengemas pakaian itu ke dalam tas.
Melihat pakaian Cazim, sama seperti dia melihat pembunuh ibunya. Hatinya panas menggemuruh, dipenuhi dengan dendam. Maka lebih baik ia menyingkirkan semua pakaian itu.
“Non ada tamu!” seru Darel dari luar.
“Siapa?”
Bersambung
__ADS_1