
Seorang mahasiswi lain duduk di samping Revalina. Membuat Revalina menoleh dan membalas senyuman gadis yang tak dikenalnya itu. Meski tidak kenal dengan gadis itu, namun Revalina sudah sering melihat gadis itu di area kampus, baik di kantin atau pun di perpustakaan.
“Sory, numpang duduk,” ucap gadis itu merasa perlu meminta ijin.
“Ini tempat umum, kok. Siapa aja bebas duduk,” sahut Revalina.
“Makasih.”
“Sedang apa di sini?” tanya Revalina. “Kena kasus ya?”
“Aku lagi nungguin cowokku. Dipanggil dosen. Kena kasus dia.”
Revalina mengangguk. Jaman sekarang, kuliah di perguruan agama pun tidak lantas membuat para mahasiswa menjauh dari kata pacaran. Tetap saja mereka berpacaran meski secara sembunyi- sembunyi. “Kasus apa?”
“Tauk tuh, udah dibilangin jangan suka bolos, tapi bolos juga. Dia mangkir di pelajarannya si dosen killer. Alhasil kena panggil begini.”
“Kejadiannya barusan?”
“Udah seminggu yang lalu.”
Revalina tertarik saat melihat kalung yang menyelinap keluar dari jilbab gadis disisinya itu. Posisi jilbab yang dililit di leher membuat Revalina dapat melihat dengan jelas bandul itu mencuat keluar dan kini berada di atas dada. Baju gadis itu gombrang alias mengembang sehingga aman saat jilbabnya dililit, tidak memperlihatkan lekuk badan.
Kampus Islam Terpadu tidak memperkenankan mahasiswi berpakaian tidak sopan. Kalung yang dikenakan gadis itu sama persis seperti yang dikenakan oleh salah satu pelaku kejahatan terhadap Rajani.
Benak Revalina geram sekali melihat kalung itu. ingin menarik kalung dan menanyai banyak hal pada gadis itu, tapi ia harus tahan emosi.
“Kalungmu bagus.” Revalina memulai penyelidikan.
Gadis itu tersenyum sambil menunduk, menatap bandul kalung miliknya. “Iya. Pemberian kekasih.”
“Pasti mahal ya.”
“Standar aja, kok.” Gadis itu tersipu malu.
“Boleh lihat? Aku suka bentuknya.”
“Boleh.”
__ADS_1
Revalina meraih bandul kalung, melihat ada inisial di balik bandul tersebut. Y.
“Yana, namaku.” Gadis itu menjelaskan inisial tersebut.
“Kekasihmu pasti memakai kalung yang sama.” Revalina sok akrab. Kelihatannya gadis itu sangat bersemangat diajak mengobrol tentang kekasihnya. Begitulah kalau sedang kasmaran.
“Benar. Inisial di kalungnya sesuai dengan namanya. D. Damar.”
Revalina mengingat inisial di kalung yang dia temukan. D. petunjuk mulai mendekati. Dan tadi Yana mengatakan bahwa Damar mangkir alias tidak masuk di kelas dosen killer seminggu yang lalu, artinya tepat di kejadian Rajani dibunuh sadis.
Well, Revalina sudah mendapatkan petunjuk.
Tak lama kemudian sosok lelaki keluar dari ruangan dosen. Tak lain Damar.
“Udah?” tanya Yana pada Damar.
“Udah!” jawab Damar pada gadisnya. Detik berikutnya pria itu menatap ke arah Revalina dan sedikit kaget melihat gadis cantik itu duduk santai di sisi kekasihnya.
“Kok, kaget?” tanya Revalina saat mendapati wajah setengah syok pada Damar.
Fix, kali ini Revalina tidak salah orang. Damar adalah salah satu pelakunya.
Tangan Revalina menggenggam erat, membayangkan Damar dalam remasan tangannya itu.
***
Setelah selesai mata kuliah, Damar masuk ke mobil. Lalu menyetir mobilnya itu meninggalkan gedung kampus. Sambil menyetir, ia menelepon seseorang.
“Bro, aku baru saja ketemu Revalina. Dia masih hidup. Dia datang ke kampus. Jika melihat gerak- gerik gadis itu, sepertinya dia tahu kalau aku adalah salah satu pelakunya.” Damar berbicara dengan panik. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Revalina memiliki saudara kembar, sebaliknya juga teman- teman sekelasnya Rajani juga tidak banyak yang tahu bahwa Rajani memiliki kembaran bernama Revalina.
Kampus itu sangat besar dan dihuni oleh ribuan mahasiswa, tak heran jika seluruh penghuni kampus tidak saling mengenal kecuali orang- orang terdekat.
“Aku pikir gadis itu mati waktu kita tinggalkan, rupanya tidak. Dia muncul di hadapanku!” sambung Damar. “Sudahlah. Aku sedang di jalan. Nanti aku telepon lagi.”
Damar meletakkan ponsel.
“Uhuk… Sepertinya kamu udah bosan hidup. Ingin menemui neraka ya?”
__ADS_1
Mendengar suara itu, sontak Damar menoleh. “Hah?” Ia terkejut melihat Revalina sudah duduk manis di kursi belakang dengan kaki menyilang dan tangan juga menyilang di dada, santai sekali.
Damar membelalak sambil mengusap kening yang tiba- tiba berkeringat. Revalina masuk ke mobil saat tadi Damar sempat turun dari mobil untuk mengambil hp yang ketinggalan di kelas. Saat itulah Revalina mengambil kesempatan untuk memasuki mobil dan menyelinap di sana.
“Kenapa? Takut? Setelah kamu memperlakukan seorang wanita dengan biadab, kamu pikir kamu akan bisa lari dari hukuman?” Revalina menatap tajam. “Siapa yang menyuruhmu?”
“Aku… Aku hanya diajak.”
“Siapa yang mengajakmu?”
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Damar menatap ke spion, ia terkejut melihat Revalina memegangi pisau yang kemudian ujungnya ditekan ke leher Damar. Seketika kaki Damar gemetaran.
“Katakan siapa yang menyuruhmu? Dalsa?” Revalina sudah merekam pembicaraan mereka di hp.
Sial, sebelum Damar sempat menjawab, mobil meliuk ke kanan dan ke kiri. Konsentrasi dammar buyar melihat pisau yang ditekan ke lehernya.
Tubuh Revalina terhuyung dan jatuh ke belakang, menjauh dari kursi Damar.
Setelah sempat mobil meliuk- liuk, hampir berserempetan dengan mobil berlawanan arah, akhirnya mobil tersebut terguling sesaat setelah menghindari motor dari arah berlawanan dan menabrak truk.
Brak.
Mobil di posisi terbalik.
Tubuh Damar terjepit. Kepalanya retak. Darah segar mengalir dari kepalanya yang terbalik.
Revalina yang duuk di belakang merasa bersyukur karena dia tidak apa- apa. hanya ada luka ringan di siku dan lengannya. Ia bahkan masih bisa merangkak keluar dari jepitan mobil. Kemudian menjauh dari mobil tersebut.
Dari kejauhan, Revalina menyaksikan bagaimana Damar menggapaikan tangannya ke udara dengan posisi tubuh yang terbalik. Kemudian terkulai lemas dengan kondisi mengenaskan.
Revalina berada diantara kerumunan orang- orang yang berdatangan dan menyaksikan kejadian itu. seiring dengan sirine ambulan dan mobil polisi yang datang, Revalina pun berlalu pergi.
Satu orang sudah ditemukan. Tiga lainnya akan menanti ajal.
***
Bersambung
__ADS_1