
Tidak mau mendengar suara gagap Bik Parti lebih lanjut, Chesy menuju ke belakang, melihat belakang rumah sudah berantakan. Sedangkan Yunus dan Cazim berdiri berhadapan. Cazim tampak tenang, tatapan datar. Sedangkan Yunus sebaliknya, wajahnya merah padam dan tegang.
"Kau sudah terbiasa melakukan kejahatan, menghalalkan segala cara demi kenikmatan hidup, tanpa peduli bahwa itu menzalimi banyak orang, bahkan membunuh istriku. Aku kehilangan orang yang mengayomi anak-anak. Dan kau sekarang hadir di hadapanku untuk mengakui putriku sebagai istrimu setelah kau rahasiakan kebusukan mu itu. Aku berusaha untuk menerima kenyataan, tapi faktanya tidak. Aku tidak akan pernah bisa merestui keberadaanmu di sini! Andai saja membunuhmu adalah dibenarkan, maka aku sudah membunuhmu sekarang juga." Yunus tampak emosi dan melayangkan pisau yang baru saja dia sambar dari piring apel di meja.
"Abi!"
Suara Chesy menghentikan gerakan Yunus. Pisau terhenti di udara.
Chesy tidak menyangka jika ternyata abinya selama ini memendam emosi dan kebencian yang mendidih terhadap Cazim, hal itu karena ia menemukan pelaku yang telah membuatnya kehilangan istri, namun Yunus menyembunyikan semua itu dari Chesy. Yunus terlihat baik-baik saja dan menyerahkan semua keputusan kepada Chesy, padahal sesungguhnya hatinya terluka dan sangat marah.
Tepat ketika Yunus hanya berdua saja dengan Cazim, barulah Yunus meluapkan segalanya, dia tidak kuasa menahan diri. Unek-unek di pikirannya pun dilepaskan. Yunus kini tampak beristighfar berusaha untuk melapangkan hati, beberapa kali ia mengusap wajah yang dipenuhi dengan kemarahan. Ia terus menyebut nama Allah dalam lafaznya untuk menenangkan diri.
Antara Cazim dan Yunus tadi sempat terlibat pembicaraan, Cazim kebanyakan diam dan menerima. Kemudian Yunus tersulut emosi karena tidak kuasa menahan beban di dada, ia menghancurkan semua benda di sekitarnya, sampai akhirnya hampir melukai Cazim.
Chesy mendekati Yunus. Meraih pergelangan tangan abinya dan menurunkan pisau itu. “Aku pernah di posisi seperti yang abi lakukan bukan? Aku angat terluka, marah dan terpukul, aku memegang pisau dan sangat ingin melenyapkan Cazim, itu karena kemarahan benar-benar memuncak di ubun-ubun. Tapi abi melarangku. Lalu kenapa sekarang malah abi yang melakukan hal yang sama?”
Mata Yunus yang memerah itu akhirnya berembun. Ia hendak menangis namun ditahan. “Abi masih bisa memaafkan kesalahan Cazim yang telah membuat nyawa umimu melayang, anggap itu sudah berlalu dan abi harus legowo atas takdir ini. Tapi abi sulit menerima saat tahu Cazim mengkhianatimu, masuk di keluarga ini dan menjadi suamimu, diam-diam dia merahasiakan semua ini sejak awal. Jika abi tahu dia pembunuh umimu, tentu abi tidak akan pernah menerimanya.”
“Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua ini? Abi mau aku cacat? Baiklah, silakan lakukan apa pun untuk membuatku cacat.” Cazim meraih pisau yang tadi diletakkan di meja. “Aku siap. Lakukanlah, abi. Apa pun utu aku siap menerimanya!”
“Jangan!” Chesy menjerit dan meraih pisau itu. “Nggak ada seorang pun yang harus terluka, dianiaya, atau pun dihukum. Abi pernah bilang bahwa masalah ini diserahkan kepadaku kan? sekarang aku punya keputusan, bahwa gugatan cerai aku cabut.”
Semuanya terkejut.
“Aku tidak mau bercerai. Aku akan lanjutkan pernikahan ini,” imbuh Chesy membuat Yunus mengangkat alis heran.
__ADS_1
“Alasan apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Yunus.
“Banyak, abi. Banyak sekali. Abi pasti tahu apa saja yang mesti aku pertimbangkan.” Chesy belum berminat untuk mengatakan bahwa dia sedang mengandung. Rasanya berat sekali mengatakan hal itu. hatinya masih kebas untuk jujur.
Menurut Yunus, beban yang dipikul putrinya tentu berat saat harus bercerai. Disamping status yang berubah menjadi janda, pandangan warga tentang putri seorang ustad yang malah bercerai, dan banyak lagi.
“Sebelum semuanya terlambat, saran abi, mungkin lebih baik kamu pikirkan lagi keputusan ini. Kamu belum memiliki anak, maka tidak ada yang membuatmu merasa berat untuk berpisah dari Cazim. Abi tidak sedang berusaha untuk memisahkanmu dari Cazim, tapi abi hanya ingin kamu pertimbangkan resiko ke depannya. Apakah resiko hidup bersama dengan Cazim lebih berat, ataukah resiko berpisah yang malah berat?” Yunus tampak kecewa dengan keputusan Chesy. Meski demikian, ia tidak memaksakan supaya Chesy menuruti kemauannya.
“Aku udah pikirkan ini matang, abi. Aku mau lanjutkan hidupku dengan Mas Cazim,” sambung Chesy.
“Baiklah.” Yunus mengangguk pasarh. Tatapannya kemudian tertuju pada Cazim. “Cazim, kau boleh melanjutkan pernikahanmu seperti yang diminta putriku, tapi aku minta kau temui orang tuamu dan bawa mereka kemari. Pertemukan aku dengan besanku. Dan satu lagi, selesaikan masalahmu yang tersangkut skandal narkoba!”
“Baik, dua syarat itu akan aku penuhi,” jawab Cazim tenang. Wajahnya yang tampan tetap terlihat rileks meski sejak tadi ia disudutkan oleh sang mertua.
“Tiga bulan, abi!” tawar Cazim.
“Dua minggu!”
Eh, ternyata Yunus masih bisa diajak tawar menawar.
“Dua bulan. Aku akan selesaikan dua syarat itu dalam dua bulan.” Cazim kembali menawar.
“Satu bulan.”
“Satu bulan dua minggu," tawar Cazim lagi.
__ADS_1
“Tidak. Satu bulan.”
“Baiklah.” Cazim mengangguk. “Aku akan temui orang tuaku dan mengajak mereka kemari dengan membawa serta Chesy bersamaku.”
Yunus membelalak. “Tidak. Jangan bawa Chesy. Pergilah sendiri.”
“Maaf abi, walau bagaimana pun, aku ini suaminya Chesy, jadi aku berhak membawanya. Biarkan Chesy meyakinkan orang tuaku bahwa aku sudah menikah. Memang lebih baik aku datang menghadap kepada mereka dengan membawa Chesy,” ungkap Cazim.
“Aku akan ikut dengan Mas Cazim,” sahut Chesy membuat Yunus pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Chesy sudah mengambil keputusan, maka apa yang bisa dia lakukan? Dia merasa tidak punya wewenang untuk mengatur Chesy mengingat aturannya yang dulu sudah menjerumuskan anaknya sendiri.
“Jika masalahku selesai, dan aku sudah membawa orang tuaku menghadap kepada abi, aku harap abi bisa menerimaku, juga merestuiku kembali seperti dulu,” ucap Cazim dengan ketegasan yang sulit dielakkan.
“Aku pergi sekarang.” Cazim meraih pergelangan tangan Chesy. Keduanya bertukar pandang.
Ah, seandainya saja dalam kondisi normal, seharusnya ini mendebarkan sekali.
“Harus sekarang?” tanya Yunus dengan dahi mengernyit. “Secepat ini kau pergi?”
“Abi memberiku waktu hanya singkat. Maka aku harus selesaikan secepatnya,” singkat Cazim telak.
Yunus pasrah saat Cazim menggandeng Chesy meninggalkannya.
***
Bersambung
__ADS_1