
"Chesy!"
Suara Yunus di luar memanggil.
Chesy gugup, bingung harus melakukan apa. Ia yakin ayahnya pasti ingin melihat kondisi Cazim setelah mendengar kalau Cazim sedang tidak enak badan. Lalu bagaimana ini?
Chesy melihat jam di dinding, sudah menunjuk angka delapan lewat tiga puluh menit, sudah malam. Para tamu juga sudah sepi. Hanya tinggal beberapa orang tamu khusus yang merupakan keluarga besar Yunus yang mengisi tuang tamu.
Sore tadi Yunus juga sudah mendatangi kamar Chesy untuk melihat kondisi Cazim, namun Chesy melarang dengan alasan Cazim sedang mandi dengan air hangat jadi percuma masuk kamar.
Sekarang, Yunus kembali mendatangi kamarnya lagi. Haduh, lalu ia harus bagaimana?
Chesy kemudian mengambil kemeja dan memasangkannya di badan Cazim dengan hati- hati.
"Ya Allah, panas banget." Chesy kaget saat kulitnya bersentuhan dengan kulit badan Cazim, suhunya panas sekali. "Bagaimana ini?"
Chesy mempercepat gerakan mengancing kemeja hingga perban di tubuh Cazim tertutup sempurna.
"Chesy! Abi mau bicara sebentar!" seru Yunus di luar.
"Sebentar, abi!" balas Chesy setengah berteriak.
__ADS_1
Yunus bersabar menunggu, mengira putrinya sedang memakai baju atau apa pun itu yang mengharuskannya mesti menunggu.
"Plis, jangan kenapa- napa. Aku takut terjadi hal buruk jika sampai kamu nggak sembuh." Chesy berbisik. Bahkan Hamdan dan Alando yang katanya aka mencarikan obat pun tak kunjung datang.
Chesy membuka pintu. "Ada apa, Abi?"
"Bagaimana kondisi Cazim? Sejak siang tadi dia tidak keluar?"
"Demam, abi. Mas Cazim mau istirahat. Menurutku jangan diganggu dulu."
"Abi mau lihat kondisinya sebentar."
"Besok aja, abi."
Chesy tidak bisa menahan lagi. Semakin ia menahan Yunus untuk tidak masuk kamar, maka semakin Yunus akan mencurigai ada sesuatu yang tidak beres. Maka lebih baik ia mengalah, membiarkan Yunus mendekati ranjang.
"Ya Allah, pucat begini." Yunus menatap wajah Cazim yang pias. "Cazim!" Tangannya terjulur hendak membangunkan.
"Abi, jangan!" cegah Chesy. "Biarkan Mas Cazim istirahat. Sejak tadi dia nggak bisa tidur, dan baru ini bisa tidur."
"Sudah minum obat?"
__ADS_1
"Mungkin karena efek obat makanya bisa tidur. Kepalanya pusing katanya." Chesy terpaksa berbohong demi membuat situasi seperti nyata. Jika Yunus sampai menyentuh badan Cazim, dikhawatirkan Yunus akan merasakan suhu di atas normal.
"Apakah badannya panas?"
"Iya, abi. Tapi jangan dipegang, soalnya Mas Cazim suka kaget kalau kesentuh sedikit aja. Kasian sejak tadi nggak bisa istirahat karena suara berisik di luar." Chesy menelan. Padahal sejak tadi Cazim belum sadarkan diri, dan tak tahu apakah akan baikan atau tidak.
"Kenapa tidak dibawa ke dokter saja?"
"Aku idah panggil dokter, nanti juga dokternya datang."
"Baiklah." Yunus mengangguk. "Oh ya, kamu ke depan gih temui para tamu. Itu saudara saudaranya abi datang dari jauh. Mereka belum bertemu denganmu. Tadinya abi mau ajak Cazim juga supaya menemui tamu, tapi kondisinya malah begini. Cazim biar istirahat saja ,kasian dia. Kamu saja yang menemui paman, bibi dan lainnya. Mereka pasti juga mengerti jika mendengar kondisi cazim seperti ini."
"Ya, abi. Aku akan temui mereka."
Yunus melangkah keluar.
Chesy mengelus dada lega. Sampai kapan kondisi akan begini?
Cepetan kamu sembuh, Mas Cazim. Jangan bikin aku repot kalau sampai masalah ini membesar.
Chesy melangkah keluar kamar dan mengunci pintu. Jangan sampai ada yang masuk kamar selain dirinya.
__ADS_1
Bersambung