Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Demi Suami


__ADS_3

Tiba-tiba Rival terdiam sejenak, menatap kedua mata Revalina dengan sangat dalam dan tak lama dia mengunyah kembali makanannya serta langsung mengalihkan pandangan mata.


"Kenapa Mas, aku terkejut aku tak pernah selembut ini bicara padamu?" tanya Revalina mulai menebak keterkejutan Rival.


Sayang, Rival enggan membuka mulut. Agaknya sekarang ini mood-nya langsung anjlok ketika Sarah menghilang dari kamarnya.


"Aku sekarang sudah berubah Mas, aku berubah menjadi lebih baik untukmu. Aku harap kau mau menerima permintaan maafku sudah itu saja aku nggak mau lebih," ucap Revalina kembali membahas tentang maafnya, ia kembali meminta maaf mesti yakin akan mendapat penolakan untuk yang kesekian kalinya.


"Sudahlah kau tidak nyaman membahas ini, kita bicarakan saja lain waktu. Sekarang kamu makan saja dulu," ucap Revalina enggan menekan Rival untuk menerima maafnya.


Selama di dalam kamar Revalina terus memandangi wajah Rival yang masih terlihat sisa-sisa pukulan di wajahnya, melihat luka-luka itu entah kenapa ia jadi ikut merasakan rasa sakitnya.


Rasa bersalah kembali menyelimuti perasaanya, sungguh ia makin tak kuasa melihat luka-luka itu. Sekarang ia baru sadar jika memaafkannya memang tak semudah itu. Namun di sini ia bisa melihat kebijaksanaan Yakub yang luar biasa, meski keadaan adiknya seperti ini dan ulahnya pula tapi dia memilih untuk jadi orang yang menengahi masalah bahkan mau membantu Revalina dalam proses perdamaian ini.


"Sudah," ucap Rival menepikan nasi dan sup itu.


Revalina agak terkejut melihat isi rantangnya masih penuh seperti tak diambil sama sekali.


"Memangnya kenapa Mas, apa ada yang kurang sepeti garam atau apa begitu?" tanya Revalina penasaran sekaligus sedih.


"Aku cuma mau udahan," jawab Rival dengan tegas.


Tak mendapatkan jawaban dari Rival sendiri, Revalina yang terlanjur dikuasai rasa penasaran tak bisa diam saja ia pun langsung mengambil sendok menyuapi mulutnya sendiri dengan sup itu.


Di dalam mulut sup itu mulai mengolak-alik seluruh lidah tak lama berujung masuk ke dalam tenggorokan, saat itu juga Revalina langsung meletakkan sendok belas Rival yang juga jadi bekasnya juga ke wajah rantang itu tadi.


"Nggak asin, nggak amis juga. Enak pas tapi kenapa kau mau udahan," ucap Revalina bertanya-tanya.


"Sudah kenyang, ah sudahlah kau banyak bicara. Sekarang aku sudah makan makananmu saatnya kamu pergi bawa makanan ini balik," sahut Rival dengan nada kesal mengusir Revalina dari rumahnya.


"Nggak usah pakai marah-marah juga kali Mas, aku juga nggak akan lama-lama di sini asal kau mau habiskan makananku dan minum obat mu," ucap Revalina kekeh ingin terus berada di sana, minimal melihat Rival makan dan minum obat secara teratur.


Beberapa detik terdiam menimbulkan hawa sunyi di dalam kamar, tiba-tiba Rival menyambar sendok itu dengan kesal menyantap lahap sup dan nasi itu secara bersamaan. Jika sebelumnya dia makan sedikit demi sedikit layaknya orang sakit sekarang dia makanan seperti orang kesetanan.


Sementara Revalina tak peduli akan hal itu yang ia tahu sekarang Rival sudah makan banyak dan kini ia mulai beranjak dari duduknya mengambil obat-obatan yang harus diminum sang suami setelah makan.


Hanya memerlukan waktu 3 menit untuk Rival menghabiskan semua, lalu kini berlanjut sodoran 5 pil obat dengan satu gelas air minum tersodorkan ke arah Rival.


Lagi-lagi dia meminum semua pil itu seperti orang kesetanan, memasukkan 5 pil sekaligus dalam satu telan  dorongnya hanya bermodalkan air mineral.


Revalina yang melihat hal itu merasa seperti ada yang mengganjal di leher, membayangkan pil itu berhenti sebab tak sama-sama saling berlomba-lomba masuk ke dalam perut terlebih dahulu.


"Ya Tuhan, kan bisa satu-satu kenapa harus lima-limanya kamu masukkan bersamaan," tegur Revalina merasa miris dengan cara Rival menelan obat.


"Biar saja, biar kamu cepat pergi dari sini," sahut Rival dengan acuhnya tak melirik Revalina sedikitpun ketika berucap.


Untuk yang kesekian kalinya hati ini terasa remuk, mungkin sudah tak terhitung berapa kali hati ini remuk, menyatu kembali dan remuk kembali. Tapi ini semua resiko atas perbuatannya, tak adil jika ia protes akan sikapnya saat ini.


"Baiklah aku pergi," ucap Revalina bergegas beranjak dari duduknya.


Langkah pertama yang ia ambil sebelum hengkang dari rumah ini adalah merapikan kembali rantang yang ia bawa ke sini dan meja yang Sarah ambil untuk alas Rival menyantap sarapan tadi ke tempat semula. Hanya itu, sisanya ia tak berani menyentuh meski hanya sekedar ingin membebarkan, tahu jika Rival sekarang masih sangat sensitif.


"Cepat sembuh ya Mas, aku pulang," pamit Revalina.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina mulai berjalan keluar dari kamar.


"Waalaikumsalam," jawab salam Rival lirih.


Tiba kakinya menapak keluar dari kamar Rival, ia mendengar gemercik air dari arah belakang. Dugaannya Dalsa masih belum selesai mandi.


"Nggak aman kalau aku lewat belakang bisa-bisa dia pas sekali mau keluar dari kamar mandi karena memang sudah dari tadi," gumam Revalina lirih.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk tak kembal melintasi belakang rumah, mengganti arah pulangnya dengan melintasi arah depan.


Dengan santainya Revalina melenggang pergi, jika dibilang ia masih tak rela meninggalkan Rival secepat ini padahal ia ingin banyak berbincang padanya dan ada banyak pula pertanyaan dalam kepalanya yang belum bisa ia pecahkan sendiri.


"Nggak bisa, memang waktu yang aku punya segini aku harus bersyukur bisa ketemu Rival hari ini," ucap Revalina coba menyadarkan dirinya.


Rumah itu mendadak sepi ditinggal Yakub dan Candini pergi, Sarah yang tadinya ada di rumah pun kini tak entah kemana.


Tak ingin nantinya ketahuan Revalina mulai mempercepat langkah kakinya ke luar dari rumah itu.


"Hey, ngapain kamu di situ?" tanya seseorang dari belakang Revalina yang berarti dari dalam rumah.

__ADS_1


"Sepetinya aku kenal suara ini," ucap Revalina lirih.


Seketika Revalina terdiam kaku, memejamkan mata sebentar untuk menguatkan mental dan hatinya perlahan ia mulai memberanikan diri membalikkan badannya.


Tepat tembakannya, orang yang memanggilnya dari belakang adalah Dalsa. Kini Dalsa dengan bibir manyun dan hentakan kaki tegas mulai mendekati Revalina.


"Ya Tuhan, masa aku ketahuan sekarang. Nanti saja lah pas sudah di rumah, bukan apa-apa aku nggak enak sama Mama sama Kak Yakub apalagi, dia sudah bantu aku banyak," gumam Revalina berisik lirih pada dirinya sendiri.


"Ngapain kamu kesini, masih punya muka datang kesini?" tanya Dalsa dengan nada ketus.


Meski rasanya gondok sekali mendengar pertanyaan dan wajah Dalsa sekarang namun ia masih mengunakan akal jernihnya.


Kalimat tanya Dalsa menunjukkan bahwa dia belum tahu Revalina telah masuk ke dalam rumah bahkan berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar pribadi Rival. Dan tanpa ia duga posisi berdirinya ada di depan pintu utama.


'pantas saja dia bicara begitu,' ucap Revalina dalam hati.


"Terserah aku lah, aku istrinya jadi aku berhak kesini menjenguk suami ku," jawab Revalina dengan nada meledek.


"Hemh," Dalsa membalas jawaban Revalina dengan senyum tengil.


"Sekarang saja kau bahas hak mu, sementara Kak Rival nggak pernah tuh bahas hak nya yang sudah kamu rampas," singgung Dalsa.


"Sama, Rajani juga begitu nggak pernah menyinggung hak nya yang sudah kamu rampas," sahut Revalina membalikkan kondisi yang sama pada Dalsa.


Seketika bibir Dalsa terkunci, tak mampu berkata-kata. Melihat hal ini Revalina tak ingin membuat dirinya semakin panas dan nantinya akan melakukan hal yang tak terduga di sini.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina bergegas pergi meninggalkan rumah dan anak bungsu dari si pemilik rumah yang begitu menyebalkan.


"Waalaikumsalam," jawab salam Dalsa.


***


Hari kedua Revalina kembali memasakkan makanan untuk Rival, kali ini ia sudah membuatkan jajanan mochi untuknya mengingat kabar terkini dari Sarah ternyata Rival sudah makan banyak pagi-pagi buta tadi.


"Wihh kelihatanya enak nih," goda Rafa tiba di dapur langsung mencomot mochi yang sebenarnya sudah ada di dalam tempat makan.


"Ihh Kak Rafa asal ambil saja, itu kan sudah aku sisihkan buat Kaka di sana," gerutu Revalina kesal dengan serangan gangguan pagi ini.


Dengan kesal Revalina kembali memasukkan satu mochi yang kurang dari mochi yang ada di piring.


"Orang sudah aku sisihkan tapi tetap saja Kak Rafa comot dari wadah bekal," gerutu Revalina terus kesal pada Rafa.


"Ya maaf namanya juga nggak lihat," ucap Rafa berusaha membujuk Revalina.


"Ya nggak papa, aku nggak marah cuma kesal saja sudah menyusun susah-susah malah Kakak ambil," jelas Revalina pada Rafa yang mulai minta maaf padanya.


Tiba-tiba Rafa terkekeh di tengah hawa tak enak di dapur itu akibat kekesalan Revalina terhadap kejahilan sang Kakak.


"Hehehehe, gimana ceritanya itu nggak marah tapi cuma kesal," ledek Rafa sambil terkekeh.


"Haduh masa harus dijelasin juga. Ini aku mau cepat ke rumah Mas Rival antar monchi buatan ku ini," ucap Revalina segera mengakhiri perbincangannya dengan sang Kakak, berujung pamit pergi.


Tak tunggu lama Revalina bergegas menuju ke.rumah Rival, menenteng satu paper bag cantik dengan berisikan Mochi buatannya.


"Kali ini aku yakin dia akan habiskan semua secara langsung, nggak pakai gerakan seperti kemarin," gumam Revalina sambil perlahan masuk ke dalam mobil taxi.


Lagi-lagi ia sengaja mengenakan transportasi umum, selain karena antisipasi untuk Uminya, ia juga masih trauma dengan aksi yang dia perbuat sendiri. Sungguh kejadian tabrak menabrak saat itu jadi ketakutan tersendiri bagi Revalina.


Di perjalanan ketika tengah memikirkan hal itu ia jadi teringat akan mobil Akram yang terdampar di jalanan ini, jalanan yang tengah ia lewati sekarang.


'Apa kabar mobil itu ya apa masih dalam penyelidikan polisi'," ucap Revalina bertanya-tanya.


Tak lama kemudian ia berada di titik lokasi, revalina hafal betul titik lokasi itu namun anehnya tak ada satu pun mobil terparkir di sana, sementara garis police line pun sudah tak ada lagi.


"Apa mungkin mobil itu sudah di bawa ke kantor polisi ya dan sedang diusut siapa pelakunya," ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Kini ia mendadak takut, sebab ia adalah pelaku yang sudah menghajar Akram dan dengan sengaja menabrakkan mobil agar Akram terhenti.


"Mohon maaf sebelumnya Mbak, memangnya orang yang punya mobil ringsek di pinggir jalan itu temannya Mbak ya?" tanya supir taxi sambil melirik-lirik lewat spion kecil yang ada di depannya.


"Enggak Pak, cuma waktu kapan itu aku lihat masih ada terus, sekarang tiba-tiba nggak ada kan kaget," sahut Revalina sambil tersenyum ke arahnya.


"Oh kirain itu temannya, dari cerita orang yang punya mobil itu sampe rumah sakit karena dia pingsan mana keluar darah juga dari hidungnya," ujar supir taxi itu.

__ADS_1


Wajah Revalina mendadak menegang, terkejut mendengar ucapan supir itu mengenai kondisi korban. Namun seingatnya memang genggaman tangannya sempat menonjok hidung Akram waktu itu.


"Kalau urusan polisi, Bapak tahu nggak sudah sampai mana?" tanya Revalina penasaran karena jujur ia tak mengikuti berita ini.


"Oh kalau itu saya nggak tahu Mbak, yang jelas kata teman sesama supir taxi online saya bilang kalau korban sudah siuman hari itu juga dan katanya sudah keluar dari rumah sakit," jawab supir itu seadanya.


Mendengar hal itu Revalina sedikit panik sekaligus tak menyangka Akram akan membawa-bawa polisi dalam permasalahan ini padahal ia tak pernah menuntut apapun padanya. Jika di ukur dengan kesalahan masing-masing yang sudah diperbuat sepertinya lebih ringan ia berbeda dengan Akram yang jelas berat karena sudah memfitnah Rival dan coba menghasutnya.


Beberapa lama kemudian akhirnya Revalina tiba di kediaman Candini, makin ia datang bukan untuk Candini melainkan untuk Rival sang suami yang masih sakit.


Tepat ketika ia datang Rival yang berada di kursi roda  tengah diajak Yakub untuk berjemur di halaman depan rumah, Revalina pun bergegas menghampiri mereka berdua.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," jawab salam Yakub dam Rival berbarengan.


"Ini pada mau kemana?" tanya Revalina dengan senyum cerianya.


Berbeda dengan Rival yang terus menekuk wajahnya lagi masam ketika Revalina datang, tapi entah hanya karena adanya Revalina atau memang begitu karakternya.


"Mau jalan-jalan keliling sini saja, sambil berjemur," jawab Yakub dengan suaranya yang teduh.


"Oh mau keliling, aku ikut," ucap Revalina.


Pada akhirnya tanpa menunggu izin entah dari Yakub atau Rival sendiri, Revalina langsung ikut jalan-jalan bersama dengan Sarah juga.


Selama perjalanan Rival hanya terdiam menikmati hawa segar setelah berapa hari yang di pandanginya hanya tembok dan tembok terus, hirupan nafasnya seakan seperti menghirup nafas baru.


Revalina terdiam membiarkan Rival menikmati udara segar ini dengan caranya, dengan tidak mengajaknya bicara sa.dengan tidak membuatnya stres.


"Rev, rencana setelah lulus kuliah ini kau mau apa?" tanya Sarah mulai membuka pembicaraan di antar mereka meski pembicaraannya tergolong pembicara berat.


Revalina sedikit tersentak, terkejut mendengar suara Sarah yang tiba-tiba memecah keheningan apalagi pikirannya saat itu tengah melayang ke udara membayangkan banyak hal yang belum terjadi.


"Eh terkejut aku," celoteh Revalina reflek memegangi dadanya.


"Aku sih maunya bangun bisnis, tapi sepertinya jadi wanita karir seru juga," jawab Revalina atas pertanyaan Sarah barusan.


"Malah cari seru-seruan anak ini," ucap Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Memangnya kau nggak mau jadi Dosen saja Rev?" tanya Yakub mulai masuk ke dalam pembicaraan santai ini.


Revalina terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Yakub yang sepetinya sarkas untuk menyinggung Rival yang sejak tadi terdiam tanpa suara.


"Emm, gimana ya kalau Dosen aku takutnya nanti di godai mahasiswa. Lihat dari Dosen-dosen muda di kampus sering begitu soalnya kak," jawab Revalina menunjukkan ketidak minatannya dalam profesi itu.


Dari membicarakan ke depan tentang pekerjaan, tiba-tiba mereka menggeser sedikit dari kata masa depan.


"Harus dipikirkan dari sekarang Rev, mumpung masih muda cari pengalaman yang banyak," tegur Yakub.


"Iya Kak, makasih petuahnya aku bakal pegang terus. Aku coba pikirkan nanti," sahut Revalina seperti mendapatkan pencerahan pagi dari kedua iparnya.


"Bukan cuma pekerjaan yang harus kamu pikirkan Rev, tapi juga suami mu, dia harus kamu utamakan jauh di atas pekerjaan mu," ucap Yakub mulai membelokkan pembicaraan.


Revalina langsung malu-malu mendengar hal itu, berbeda dengan Rival yang masih menekuk wajah kakunya.


Beberapa lama perjalanan akhirnya mereka tiba di salah satu taman dekat rumah, ketika disana tiba-tiba Yakub memberikan kendali kursi roda pada Revalina memaksakan kedua tangannya untuk menggenggam kedua gagang kursi roda.


"Reva aku mau beli es potong dulu, kau jagain Rival nanti sebagai upahnya aku belikan kau juga," ucap Yakub seperti orang tengah buru-buru.


Dia langsung menarik Sarah dari sana berlari ke arah penjual es potong yang sebenarnya tak kemana-mana tapi kenapa mereka sepeti anak yang tak.. memberi kesempatan untuk penjual itu pergi.


"Seperti anak kecil saja jajan es potong," gerutu RIval kesal.


"Biarkan saja, namanya juga lagi kepengen," ucap Revalina membela kedua iparnya.


"Sudah bicara sama anak kecil, jelas bela anak kecil lainnya," gerutu Rival kembali.


Seketika kedua bola mata Revalina berputar merasa malas dengan ucapan Rival kali ini.


'Bisa-bisanya dia itu hih, padahal dia sendiri aslinya juga suka es potong,' gerutu Revalina di dalam hati.


"Eihhh," Revalina terkejut. seketika menjaga keseimbangannya.

__ADS_1


__ADS_2