Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pertengkaran


__ADS_3

Chesy pasrah merasakan bokongnya nyeri akibat terhempas di kursi keras itu. Ia sadar kalau ia memang salah karena sudah masuk kamar tanpa permisi. Tapi yang namanya detektif kan tidak perlu minta ijin pada pelaku untuk melakukan penyelidikan. Kalau dia minta ijin dulu, sama saja ia tidak mendapatkan bukti apa- apa.


Ya, anggap saja ia tengah menjadi detektif. Ia sedang mencari tahu banyak hal tentang Cazim untuk mengumpulkan bukti.


"Hei kecoa kecil, kau sungguh ingin tahu tentang aku, hm? Memangnya apa yang membuatmu kebelet tahu soal aku?" Cazim berjalan maju, mendekat ke arah Chesy, membungkukkan badan gagahnya hingga membuat Chesy memundurkan badan untuk menghindar. Dan ia berhenti bergerak saat punggungnya kepentok sandaran kursi.


Wajah Cazim berada sangat dekat di depan Chesy, kedua tangan lelaki itu menapak di meja. Tatapan Cazim menusuk tajam. Mata itu seperti mata elang yang siap menerkam mangsa.


"Tidak perlu kamu tanya alasan apa yang membuatku ingin tahu tentangmu. Alasan itu sudah jelas," jawab Chesy. "Kamu mengaku sebagai ustad, membantu abi mengajari anak- anak mengaji, menjadi muazin, menjadi penceramah, bahkan menjadi imam masjid. Tapi kamu ini bukan ustad. Kamu lebih pantas sebagai preman. Aku nggak mau orang- orang jadi sesat karenamu."


Brak!

__ADS_1


Cazim menepuk meja keras. Membuat tubuh Chesy berjingkat kaget. Jantungnya deg- degan sembari batin mengumpat kesal.


"Aku memang bukan manusia baik, aku pendosa dan lebih hina dari lumpur. Tapi aku tidak akan menyesatkan manusia lain karena aku bukan iblis. Kalau pun aku masuk neraka, aku tidak akan mengajak siapa pun mengikuti jalanku. Dan satu lagi, asal kau tau, aku tidak pernah meminta dipanggil ustad. Aku tidak pernah mau menjadi guru ngaji, menjadi pendakwah, muazin atau imam masjid jika bukan atas perintah abimu," geram Cazim.


"Kalau kamu tidak bermaksud menjadi manusia munafik yang bermuka dua, lantas kenapa kamu tidak tampil normal saja seperti yang lainnya. Kenapa harus berpenampilan seperti orang alim yang akhirnya semua orang beranggapan bahwa kamu ini pantas dipanggil ustad mengingat ilmu yang kamu ketahui tentang agama juga baik. Kenapa harus menutupi hal yang sebenarnya."


"Baju yang dijual di pasaran sana bukan hanya dikhususkan untuk orang alim. Siapa pun bisa memakainya. Dan aku tidak pernah berharap dianggap alim hanya dengan memakai pakaian seperti ini." Cazim menyentak baju di dadanya dengan keras. "Sama seperti hijab, alim atau pun tidak alim, wanita muslim memang diwajibkan memakai hijab. Jadi jangan mengaitkan antara penampilan dengan akhlak seseorang. Itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya."


"Aku memang penjahat, pendosa besar. Kau mau dengar itu dariku kan? Sekarang kau sudah dengar, jadi apa lagi yang mau kau ketahui sekarang dariku?" Cazim terlihat geram.


"Aku hanya ingin abiku tidak terjerumus oleh sikap manismu dan beranggapan kamu seperti malaikat. Karena pada kenyataannya kamu justru sebaliknya."

__ADS_1


"Terserah saja bagaimana kau menilai ku. Aku tidak pernah minta dinilai baik oleh siapa pun. Kalau pun abimu menilai ku baik, berarti aku memang terlihat lebih baik di matanya, tidak sepertimu yang malah dipandang buruk olehnya padahal kau adalah anak kandungnya. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulutmu tidak pernah dipercayai olehnya. Sekarang kau bisa menilai bukan? Siapa yang jauh lebih bisa memberikan kebaikan?"


"Kebaikan palsu? Setidaknya aku bukan manusia munafik bermuka dua yang hanya mencari nilai di mata manusia demi menutupi kebusukanku." Chesy mendorong dada Cazim dan melengos meninggalkan kursi hendak pergi.


Bersambung...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2