
"Pak, sebentar pak!" panggil Chesy pada security.
"Haduh, apa lagi? Aku kan sudah bilang, jangan di sini lagi pergilah sana! Bikin rusuh saja!" Security berucap dengan garang.
"Pak, saya datang bersama dengan Mas Cazim. Cazim itu anaknya Pak Diatma. Dan sekarang Cazim mau menemui papanya, tolong sampaikan itu ke Pak Diatma," seru Chesy.
"Anak? Mimpi nih orang. Bodo amat. Aku kan sudah bilang, jangan ganggu rumah ini. Kalau mau ketemu, buat janji dulu. Aku mah tugasnya cuma buka dan tutupin pintu gerbang, aku juga menjaga keamanan di rumah ini. Jadi kalau ada marabahaya seperti ente ente ini, maka patut saya kasih larangan. Pergi sana! Pergi!" hardik Security itu.
Plak!
Chesy terkejut saat melihat sendalnya melayang dan mengenai kepala si security. Loh, kok bisa begini? Gara- gara emosi tingkat dewa, Chesy tanpa sadar melepas sendal dan melemparnya. Ternyata bukan cuma Cazim yang naik pitam, Chesy pun kesal sampai tak sadar menimpuk pala si peang. Tambah peang deh tuh kepala.
"Heh, kenapa lempar- lempar kepalaku?" Security memaki dengan mata melotot. "Bedeb*h! Manusia laknat kalian ini!" Security bangkit berdiri.
"Maaf, kebablasan. Bapak sih galak amat. Jadinya emosiku meronta." Chesy nyengir.
Melihat Security menghambur mendekati Chesy dengan raut emosi, Cazim pun bergegas ambil tindakan. Ia mengambil batu dan melemparnya ke arah kaca rumah.
Prang...!
Kaca pecah.
__ADS_1
Tujuan Cazim terlaksana. Perhatian security beralih ke jendela yang pecah, urung mendekati Chesy.
"Wah, cari masalah ini!" geram security menatap Cazim emosi.
Cazim mengangkat alis tenang.
"Orang-orang membahayakan seperti kalian memang harus diusir. "******* kalian ini kan? Aku teriakin! Teroriiiiiiis... Ada teroriiiiis.... Toloooong!" teriak security itu sekeras mungkin, membuat para warga berdatangan.
Gawat, pasti bakalan jadi bulan-bulanan warga jika Cazim dan Chesy sampai ditangkap. Warga tidak akan mendengar siapa yang salah dan siapa yang benar, mereka hanya akan mendengar teriakan si security yang dianggap sebagai penjaga keamanan di sana.
Cazim menarik tangan Chesy. "Masuk!" titah Cazim memberi kode supaya Chesy memasuki mobil.
Cazim menyetir mobil meninggalkan lokasi itu.
Chesy menoleh ke belakang, melihat para warga yang berlari mengejar.
"Duh, kenapa malah jadi begini kejadiannya sih?" Chesy bingung. "Kamu kenapa lempar rumah pakai batu? Itu satpam malah jadi ngamuk."
Wajah tampan Chesy tampak tenang meski dipojokkan. "Bukankah kau duluan yang bikin masalah sama tikus jelek itu? Kau yang lempar kepalanya pakai sendal. Lihat kakimu itu, sekarang pakai satu sendal."
Chesy menatap ke arah kakinya. "Mas, satpam tadi tuh nggak akan ngamuk kalau rumah nggak dilempar."
__ADS_1
"Dia mau mencelakaimu. Memangnya kau pikir aku akan diam saat melihatmu terancam?"
Duh, kok malah dapat pembelaan begini? Padahal niatnya Chesy ingin menyalahkan Cazim sampai ke akar- akarnya, tapi kalau mendapat pembelaan dari Cazim begini, ia jadi baper. Niatnya menyalahkan Cazim pun gagal.
"Jadi sekarang kelanjutannya bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa menemui papamu?" Chesy melepas napas berat.
Cazim melirik wajah frustasi itu, sebegitu jatuhnya Chesy saat harapannya tidak terwujud. Maksudnya belum terwujud. Dia cemas takut tantangan yang diberikan abinya tidak akan terlaksana, sekuat itu keinginan Chesy untuk menyatukan rumah tangga mereka.
"Nanti kita pikirkan. Sekarang kita makan dulu. Aku lapar." Cazim membelokkan mobil ke restoran.
Hari itu, mereka benar-benar telah batal menemui Diatma. Terpaksa mereka kembali ke rumah Fatih setelah selesai makan.
"Bagaimana urusannya sudah kelar? Lalu kapan kalian bawa Pak Diatma ketemu dengan orang tua Chesy? Tadi sudah ketemu Pak Diatma kan?" tanya Fatih lagi.
"Belum ketemu," jawab Cazim. "Nanti atur jadwal lagi."
Andai saja bukan karena keutuhan rumah tangganya, Cazim pun tidak akan sudi mengemis pertemuan begini dengan Diatma.
***
Bersambung
__ADS_1