Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Salah Persepsi


__ADS_3

Seperti sejak awal Revalina masih sibuk menyantap cemilan sambil menonton televisi, makin lama posisi duduknya mulai berubah. Menyender ke samping bertumpu pada bantal kecil yang empuk, perlahan sayu-sayu matanya tak kuat menahan kantuk.


"Reva."


Sontak suara itu berhasil membangunkan Revalina dari mimpinya. Ia pun tersentak terkejut karena tak menyangka dirinya sudah tertidur.


"Iya Pak," sahut Revalina langsung melirik ke arah Rival.


"Nih, sudah selesai semua. Cek saja," ujar Rival sambil menyodorkan laptop yang masih menyala.


Tanpa melihat hasil pekerjaan Rival, Revalina justru langsung menutup laptopnya sambil terkikih lirih.


"Hihihi, aku percaya pekerjaan mu pasti benar semua," sahut Revalina dengan sangat yakin.


"Ye, jangan begitu coba lihat dulu siapa tahu ada yang kurang pas," Rival terus meminta Revalina untuk mengecek.


Namun pada dasarnya Revalina adalah anak berkepala batu, ia tetap pada keputusannya menutup laptop dan bergegas merapikan lembar-lembar revisiannya.


"Kalau sudah Dosen yang mengerjakan tidak ada yang namanya salah, sudahlah tenang saja aku percaya kerjaan mu perfect," ucap Revalina berusaha meredam kegelisahan Rival.


Rival memanggut pasrah dengan mata sayunya yang makin sayu. "Ya sudah terserah."


"Jadi sekarang kita bahas desain kartu undangan kan?" tanya Rival menagih janji Revalina untuk membahas hal ini.


"Ya Tuhan," Revalina reflek menepuk keningnya.


Entah berapa lama ia tertidur di sofa tadi sampai-sampai melupakan janjinya setelah mengerjakannya skripsi dirinya dan Rival akan lanjut membahas desain kartu undangan, sementara itu kini laptop sudah terlanjur mati.


"Masa sekarang Pak, sekarang jam berapa?" tanya Revalina coba mengalihkan perhatian Rival pada kata janji.


Lantas Rival melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, tak lama kembali menatap Revalina dengan gestur tubuh lemas.


"Kau tidak lapar Re?" tanya Rival lirih.


"Lapar sebenarnya, tapi Umi belum pulang jadi belum ada makanan," jawab Revalina bingung.


"Aku pesankan saja makanan di aplikasi," ucap Revalina sambil meraih ponselnya yang masih ada di sofa.

__ADS_1


"Tunggu," henti Rival, seketika menghentikan pergerakan Revalina.


Revalina terdiam, mematung menatap Rival.


"Kalau pesan di aplikasi nanti kena ongkos kirimnya mahal, lebih baik kita keluar saja cari makanan sendiri," ucap Rival sambil merampas ponsel Revalina, namun langsung diletakkannya di atas meja.


Mendengar hal itu Revalina hanya bisa terdiam melongo, tak menyangka akan cara pandang Rival tentang segala sesuatu sebegitunya. Bahkan ongkos kirim yang tak seberapa baginya sesuatu yang disayangkan dalam hidup.


"Sekalian cari udara segar, biar kepala mu encer sedikit. Kasihan Dosen pembimbing mu bisa-bisa stres akut kalau kamu terus malas-malasan begini," ucap Rival berujung teguran.


Revalina berpikir sebentar, menimbang balik kemalasannya. Setelah berpikir-pikir perutnya lapar juga habis bangun tidur.


"Okelah, aku izin Kak Rafa dulu," ucap Revalina sembari beranjak dari duduknya.


"Eh, tadi dia sudah pergi," sahut Rival menghentikan langkah Revalina.


Sontak ucapan Rival membuatnya shock, entah berapa lama yang sudah ia habiskan untuk tidur sampai-sampai Rafa sudah pergi saja tidak tahu.


"Berarti aku tadi tidur sudah lama ya, perasaan aku baru merem," gumam Revalina sambil memunguti bungkus snack dan lembar-lembar revisiannya.


"Kita bawa laptop saja buat pilih-pilih desain," ujar Revalina lalu bergegas ke dalam meletakkan barang-barang yang dibawahnya.


Dalam perjalanan menuju ke tempat makan, tak ada obrolan selama beberapa menit. Lama-lama menguatnya paham jika diam tak ada kesibukan menemani orang menyetir ternyata sangat melelahkan.


"Re, kamu mau makan di mana?" tanya Rival mulai melirik Revalina meski beberapa detik.


"Terserah," jawab Revalina singkat.


"Oke," sahut Rival dengan santainya.


Siapa yang tidak terkejut dengan sahutan Rival, sebagai seorang perempuan Revalina tentu kebingungan dibuatnya. Dosen menyebalkan ini ternyata tak begitu peka sebagai seorang lelaki, dia justru langsung mengiyakan ketika wanita berkata "terserah."


'Sebenarnya dia ini makhluk dari mana, bukannya kasih pilihan justru malah iya-iya saja,' gumam Revalina dalam hatinya sambil melirik sinis ke arah Rival.


Akan tetapi Revalina tak berpikir buruk, ia merasa tak mungkin Rival akan membawanya ke tempat yang buruk. Sebagai seorang laki-laki sejati pasti akan mengusahakannya yang terbaik bagi pasangnya. Kekesalan sesaat dalam hatinya hanyalah seputar ketidak pekaan Rival pada dirinya.


'Semoga dia tidak mengajakku makan makanan yang aneh, aku cuma ingin makan sampai kenyang hari ini,' ucap doa Revalina dalam hati.

__ADS_1


Kurang dari 10 menit Rival menghentikan mobilnya tepat di pinggir trotoar jalanan persis di belakang mobil-mobil yang juga parkir di sana. Perlahan Rival melepas sealt belt miliknya begitupun Revalina. Dipandangi kiri dan kanan banyak gedung-gedung Resto dan hotel di sana, ia terperangah serta bertanya-tanya akan dibawa kemana kah ia sekarang.


"Sudah sampai, ayuk turun," ajak Rival.


Keduanya pun turun dari mobil bersamaan. Revalina langsung mengikuti langkah Rival yang kini menuju ke arah selatan melintasi resto pertama, saat itu ia masih positif thinking ada kemungkinan resto sebelah yang dituju Rival.


"Pak, masih jauh?" tanya Revalina.


"Tidak, itu tempatnya sudah dekat," jawab Rival menunjuk ke arah selatan.


Revalina yang berada di samping belakang Rival melihat arah jari telunjuk menunjuk ke arah resto baru itu, seketika mata Revalina berbinar-binar membayangkan suasana di dalam resto baru itu serta menu makanan enak yang akan dipesannya.


"Cepat jalannya Pak, aku bisa mati kelaparan disini," rengek Revalina pada Rival.


Mendengar hal itu Rival bergegas mengerakkan tungkainya lebih cepat, semakin cepat ketika melintasi resto baru itu. Binar-binar di mata Revalina seketika berubah dengan edaran bola mata kebingungan, mengedar ke arah resto dan punggung Rival berulang kali.


"Sebenarnya dia ini mau kemana dari tadi jalan nggak sampai-sampai, katanya sudah dekat. Aku pikir dia bakal belok kesini," Revalina makin bingung.


Namun sekali lagi ia tak ada pilihan selain mengikuti langkah Rival, hingga pada akhirnya langkahnya terhenti ketika melihat langkah Rival terhenti.


"Mi ayam dua Pak," Rival langsung memesan.


"Pak," panggil Revalina terkejut melihat tempat yang dihampiri Rival.


"Iya," sahut Rival menoleh ke belakang.


"Kita makan di sini?" tanya Revalina menatap tak percaya.


"Iya, kita makan di sini," jawab Rival sambil tersenyum manis.


Ia makin terperangah, tak menyangka seorang Dosen akan membawanya makan di pinggir jalan dengan meja kursi seadanya di tambah pemandangan kendaraan yang terus berlalu-lalang.


"Pak, serius?" tanya Revalina kembali, masih tak percaya.


"Serius, mi ayam di sini itu juara. Kau harus coba," jawab Rival dengan bangganya.


"Gimana sih Pak, aku pikir tadi kau bakal bawa aku ke Resto," gerutu Revalina kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2