Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Takut


__ADS_3

"Boleh," jawab Fia sembari menganggukkan kepalanya.


Akram ternganga dibalik masker, terkejut dengan jawaban Fia yang berbanding terbalik dengan dugaan-dugaan yang ada di dalam kepalanya.


"Ayuk, jangan bengong terus," ajak Fia melangkah lebih dulu.


Dengan semangat Akram mengikuti langkah Fia menuju ke mobil.


Sejak pagi itu ia tak ladi menganggap pertemuannya dengan Fia adalah sebuah kesialan melainkan keberuntungan, sebab tanpa Fia entah bagaimana caranya untuk bisa keluar dari kapal ini.


Tepat seperti perkiraannya ketika hendak keluar dari pelabuhan semua diperiksa satu persatu, termasuk identitas pengemudi.


Tok.


Ketuk laki-laki berbadan tegap, terlihat jelas dia dan kawan-kawannya adalah seorang abdi negara. Sontak Akram kembali mengenakan kupluknya lalu memposisikan tubuhnya meringkuk.


Perlahan Fia menurunkan kaca mobilnya.


"Selamat pagi," sapanya.


"Selamat pagi Pak," sahut Fia dengan senyum ramah.


"Boleh saya cek kartu indentitasnya?"


Tanpa pikir panjang Fia langsung memberikan kartu identitasnya dan tak lama kartu itu dikembalikan lagi ke Fia.


"Bisa saya cek kartu identitas teman anda?" 


Mendengar hal itu Akram yang kini berlagak tertidur mulai melanjutkan aktingnya dengan menggigil hampir seperti orang kejang.


"Fia, bisa kau bawa aku ke rumah sakit sekarang?" tanya Akram dengan berlagak menggigil.


Sangking polosnya Fia tak menanyakan apapun pada Akram, dia langsung panik meminta pada seseorang yang diduga polisi itu untuk membantu dirinya, berikut dengan teman di sekitarnya keluar dari sini.


Dengan paniknya Fia mampu menembus beberapa kali penjagaan di sana.


'Good job Fia,' ucap Akram dalam hati.


********


POV Revalina


Gara-gara meladeni lawyer Dalsa tadi Revalina jadi kesiangan, meski begitu ia tetap berangkat tak peduli dengan Kakak dan atasannya akan marah seperti apa.


"Mas, aku berangkat dulu," pamit Revalina terburu-buru.


"Hati-hati ya, jangan ngebut," ucap Rival.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," jawab salam Rival.


Dengan cepat Revalina melajukan mobilnya dengan kencang dari kawasan rumah, tak ingat dengan pesan Rival barusan.


Selama dalam perjalanan menuju ke kantor, Revalina sangat gusar sesekali mengingat pagi tadi ada meeting yang terlewatkan dan dirinya batu sadar akan hal itu.

__ADS_1


Setibanya di kantor tepat jam 9 lebih 20 menit Revalina berjalan cepat menuju ke ruangan kerjanya yang ada di lantai 5, belum saja sampai di lantai 5 ia sudah ke tegur Rafa yang kebetulan batu dari lantai 1 dan akan naik ke lantai 5.


"Reva, kau baru berangkat?" tanya Rafa menatap terkejut.


"Iya Kak, maaf tadi ada masalah di rumah jadi aku batu bisa berangkat ke kantor sekarang," jawab Revalina lirih takut.


Meski ada hal apapun tak bisa dijadikan alasan untuk tak masuk kerja kecuali sakit dengan surat izin Dokter yang jelas selain itu ditolak semua oleh kantor.


Mendengar jawaban Revalina, wajah Rafa tiba-tiba berubah memerah padam namun terus terdiam hingga keluar dari lift mulutnya baru berbicara.


"Ke ruangan ku sekarang, aku mau bicara dengan," ajak Rafa melenggang lebih dulu.


Revalina terkejut bukan main, di panggil Kakaknya sendiri ke ruangannya dengan nada bicara seperti itu sudah dapat ia pastikan jika dirinya sekarang akan menghadapi sebuah masalah besar di kantor ini.


Tibalah mereka di ruangan kerja Rafa, seketika jantung Revalina terasa berdegup kencang ia sudah pasrah dengan apa yang akan menimpanya setelah ini.


Setibanya di sana Revalina langsung di dudukkan di sofa, bukan di kursi seperti biasanya. Jika sudah begini dapat dipastikan pembicaraan mereka akan semakin deep.


"Reva," panggil Rafa dengan tatapan kecewa.


"Coba jelaskan bagaimana caraku untuk menghadapimu, aku benar-benar bingung, perlu aku tegaskan padamu bukan berarti ini perusahaan milik almarhum Ayah jadinya kau semena-mena ingat beberapa persen saham di sini adalah milik umum termasuk Joseph pun punya saham di sini jadi jangan main-main dan jangan kesal kalau Joseph nanti marah padamu," ujar Rafa lirih kesal.


Sekejap kedua netra Revalina terpejam beberapa detik, ia merasakan betapa kesalnya Rafa padanya. Mendengar suaranya begitu lirih justru membuatnya semakin ketar-ketir karena tingkat kemarahan Rafa bisa dilihat dari nada bicaranya semakin lirih berarti semakin marah.


"Maaf Kak, sungguh kala nggak ada halangan di rumah aku nggak akan terlambat. Aku sudah persiapkan semua untuk meeting aku nggak semena-mena dengan pekerjaan ku tapi karena ada halangan mau nggak mau harus aku hadapi dulu," sahut Revalina panjang lebar menjelaskan pada Rafa.


Rafa mendengus kesal, lalu tak lama dia mulai mengatur nafasnya secara berulang-ulang.


"Ada halangan apa sampai kamu nggak kunjung masuk ke kantor?" tanya Rafa.


Tiba-tiba kedua mata Rafa terbelalak sesat setelah Revalina menjawab pertanyaannya, saat itu juga Revalina sedikit percaya diri bahwa alasan dirinya terlambat bukan main.


"Hah, lawyer Dalsa pagi-pagi ke rumah suamimu?" tanya Rafa terkejut.


"Iya Kak," jawab Revalina dengan nada kesal.


"Kalau bukan waktu itu si lawyer pernah datang minta Mas Rival sama Kak Yakub buat BAP ulang dan kasih keterangan palsu untuk meringankan Dalsa, aku nggak mungkin ikutan nimbrung pagi tadi pas tahu ada si lawyer itu," jelas Revalina berharap Rafa mau memahaminya.


Rafa masih ternganga mendengar penjelasan Revalina yang makin lama semakin menguatnya tercengang, perlahan tatapan kecewa itu tak lagi Revalina rasakan.


"Gila, terus respon suami sama Kakak iparmu gimana?" tanya Rafa muli khawatir akan hal itu.


"Mereka menolak bahkan mengamuk, tapi untuk yang pagi ini Kak Yakub yang mengamuk mereka berdua sama-sama menolak keras ajakan lawyer itu," jawab Revalina.


Tak lagi ada respon, Rafa terdiam menunduk lalu mengusap wajahnya. Entah apa yang ada di pikiran Rafa saat ini.


'Aku tahu Kakak pasti kaget sekali dengar ceritaku, mungkin kemarin dia sudah tahu kalau Dalsa baru pakai lawyer tapi asal dia tahu Dalsa sudah lama pakai dan sudah lama pula di lawyer itu datang ke rumah hanya saja aku selalu bersembunyi untuk memastikan kejujuran semua orang di rumah,' ucap Revalina dalam hati.


Jika pada awalnya ia merasa bersalah telah membuat Rafa kecewa, kini ia merasa kembali bersalah karena sudah membuat Rafa kepikiran setelah mendengar ceritanya.


Hari itu tak hanya Rafa yang ia datangi melainkan Joseph, namun untuk Joseph ia tak bisa menceritakan secara gamblang apa yang terjadi tadi pagi di rumah namun beruntung Joseph mau mendengar dan memahami posisinya.


Siang itu Revalina bisa kembali menjalankan aktivitasnya sebagai ajudan CEO, ia mulai menyusun rapat-rapat penting dan input jadwal harian Joseph.


"Memang Dalsa itu nggak ada di luar nggak ada di dalam tahanan tetap menyusahkan orang saja, awas kalau aku sampai ketemu sama dia bakal aku amuk," gerutu Revalina sembari terus mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


Tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" seru Revalina dari dalam ruangan.


Tatapannya masih tak lepas pada layar monitor, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini sebelum kembali ke ruangan Joseph.


"Hari ini sepetinya cuma sedikit pekerjaan kita," ujar Joseph sembari melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke arah Revalina berada.


Melihat kedatangan Joseph ke ruangannya, dengan cepat Revalina membersihkan beberapa berkas yang masih berserakan di atas meja.


"Santai Reva, aku cuma mau kamu santai saja, karena sepertinya nggak akan ada lagi kerjasama hari ini," ujar Joseph perlahan duduk di hadapan Revalina.


Ia lebih terkejut lagi mendengar kalimat yang sudah diulang dua kali oleh Joseph, setelah di dengar baik-baik ternyata Joseph ingin memberitahu bahwa tak akan lagi pekerjaan hari ini.


"Tumben Pak?" tanya Revalina keheranan.


Sambil menunggu jawaban dari Joseph ia pun bergegas mengecek jadwal harian pada layar monitornya dan terlihat agenda hati ini hanya meeting pagi tadi saja.


"Kok bisa begitu ya Pak, padahal kemarin saya sudah susuk beberapa pekerjaan yang akan saya eksekusi hari ini," ucap Revalina bertanya-tanya, masih bingung sekalipun telah melihat data pada jadwal Joseph hari ini.


"Sudah semuanya sudah aku kerjakan, jadi kalau pekerjaanmu yang ini sudah selesai kau sudah bisa langsung pulang," sahut Joseph lagi-lagi dengan begitu santai.


Mendengar hal tersebut ia jadi tak enak dengan Joseph yang ternyata sudah mengerjakannya pekerjaannya, kalau sudah begini yang ada dia merasa seperti tidak berguna.


"Lah kenapa begitu Pak, harusnya jangan di kerjakan, kan itu kerjaan saya," ucap Revalina lirih sedikit kecewa.


"Iya Maaf, tadi itu aku bingung lagi nggak ngapa-ngapain jadinya kerjain pekerjaanmu saja orang aku pikir kamu nggak masuk hati ini," jelas Yakub sembari tersenyum.


Revalina semakin tak enak hati padanya, ia pun jadi merasa bersalah karena tak memberi kabar jika dirinya hanya terlambat masuk bukan tidak bekerja.


Sedikit banyak atasnya ini tahu tentang pembunuhan almarhum Rajani, apalagi saat ini beritanya sudah ada di mana-mana. Makanya ketika tadi dirinya menyebut nama Rajani, Joseph langsung terdiam dan mau memahami situasi Revalina saat itu.


Siang itu sembari menuntaskan pekerjaannya Revalina terus ditemani Joseph, di ajak berbincang dari pembahasan ujung timur sampai ujung barat semuanya dibahas habis olehnya.


Hingga tak lama yang dinanti telah tiba, Revalina telah menyelesaikan pekerjaannya tepat di jam istirahat. Ia pun meminta izin untuk pulang sesuai dengan perintah Joseph tadi dan Joseph langsung mengizinkan karena dirinya juga mau pulang hari ini.


Tiba keduanya bersamaan di lobi kantor, sama-sama berdiri menunggu mobil masing-masing datang. Revalina diambilkan oleh satpam sementara Joseph diambilkan supir pribadinya.


'Pak Joseph cukup berani pulang jam segini, kalau aku jadi dia pasti sudah was-was takut orang kantor butuh dia walupun cuma sebatas tandatangan,' gumam Revalina dalam hati.


"Reva, kau tak mau makan siang dulu denganku?" tanya Joseph menawarkan makan siang bersama.


"Terimakasih Pak, tapi saja sudah ada janji," jawab Revalina menolak ajakannya secara halus.


"Oh, begitu," sahut Joseph mengangguk tipis.


"Memangnya kamu mau kemana siang-siang begini?" tanya Joseph penasaran.


Revalina terdiam memikirkan pertanyaan Joseph yang entah pantas untuk dia jawab jujur atau tidak, karena ini menyangkut urusan pribadinya.


Bersambung


Akan tamat sebentar lagi ya, jangan sampe ketinggalan momen tamatnya

__ADS_1


__ADS_2