
Marco. Nama ketiga. Sasaran selanjutnya. Harus berjalan mulus saat melakukan eksekusi terhadap pria itu.
Pemilik restoran Elang. Baiklah, Revalina harus mencari informasi tentang ini.
Antara Damar dan Reno tidak memiliki tanda luka atau pun tato di punggung. Ada dua pria yang memiliki tanda itu. Salah satu pelaku memiliki tanda luka di punggung agak bawah, salah satu pelaku memiliki tato di punggung atas, dekat pundak. Tapi Damar dan Reno tidak memiliki dua tanda itu. Artinya Marco memiliki salah satu tanda itu jika memang benar dia pelakunya.
Revalina sudah duduk di salah satu meja restoran Elang.
Ini adalah langkah awal untuk Revalina menyelesaikan misi berikutnya setelah dua misi terselesaikan dengan baik, tanpa halangan apa pun.
"Menu ini enak, aku suka. Bisa bicara sama managernya nggak?" tanya Revalina pada pelayan yang menyajikan minuman ke hadapannya setelah sebelumnya lebih dulu menyajikan makanan. "Aku mau tanya- tanya caranya pesan makanan di sini."
"Oh, boleh. Akan saya panggil. Ditunggu sebentar, Kak." Pelayan berlalu pergi.
Tak kama kemudian sosok lelaki dengan stelan jas warna hitam dan dasi kupu- kupu menghampiri Revalina.
"Selamat siang, Nona. Saya Romero, manager di restoran Elang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Menu makanan ini enak. Kira- kira kalau saya pesan dalam porsi banyak bisa nggak? Apakah harga bisa disesuaikan jika pesan dalam jumlah banyak?" tanya Revalina.
"Tentu bisa, Nona. Semua bisa diatur. Kira- kira Nona butuh pesanan berapa porsi?"
"Banyak. Oh ya, sebelumnya, saya mau tau apakah pemilik restoran ini benar bernama Tuan Marco ya?"
"Benar, Nona."
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Revalina ingin melihat wajah pria itu.
"Kalau soal pesanan makanan, Nona tidak perlu sampai harus menemui owner. Nona bisa diskusikan dengan saya, selanjutnya pasti akan saya follow up ke bagian terkait untuk dicover," jelas manager itu.
__ADS_1
"Ada banyak yang harus saya bicarakan dengan owner, bukan hanya sebatas pesanan makanan saja, tapi juga kerja sama besar karena menurut saya menu ini cocok dengan selera konsumen. Saya ingin bertemu dengan owner."
"Oh, kebetulan owner ada di sini juga, sedang menemani tamu yang datang makan di resto ini. Beliau di sana." Manager itu menunjuk ke arah meja yang ada di ruangan tersendiri berbatasan dinding, hanya saja pintu terbuka hingga Revalina bisa melihat isi di dalamnya. Dua pria duduk berhadapan. Berbincang serius.
Satu pria membelakangi, pria lainnya menghadap ke arahnya. Revalina tidak mengenal pria itu.
Jika dipikir- pikir secara logika, mustahil pria seperti Marco yang memiliki restoran bagus begini mau diperintah Dalsa untuk memperk*sa Rajani hanya demi uang. Atau bahkan Reno, dia pemuda yang juga berada, mana mungkin dia melakukan hal itu demi uang. Lalu apa niat mereka sebenarnya? Motif belum sempat terungkap, tapi Reno dan Damar sudah keburu mati.
Revalina melangkah menuju ke ruangan VIP itu.
"Selamat siang!" sapa Revalina dengan santai sekali, seolah menunjukkan bahwa dia ingin memberikan pelajaran hebat pada Marco. Ia sudah berada di sisi meja Marco.
Marco menatap Revalina dengan tenang, dia terlihat biasa saja. Seolah tidak terjadi apa pun diantara mereka.
Pria yang membelakangi pun menoleh. Justru wajah pria itu yang membuat alis Revalina terangkat sempurna. Rival? Kok Rival bisa mengobrol santai dengan Marco? Mereka temenan?
"Ada apa?" tanya Marco.
Rival mengernyit. Mau apa Revalina mencarinya?
"Val, ini siapa?" Marco menunjuk Revalina. Entah pura- pura tidak mengenal setelah menggagahi Rajani dengan membabi buta, atau memang lupa wajah cantik Revalina yang serupa dengan wajah Rajani. Seharusnya lelaki itu kaget atau pun heran melihat kedatangan Revalina, tapi ini malah santai sekali. Rupanya lawan Revalina kali ini cukup profesional.
"Mahasiswi di kampus. Dia juga calon istriku," sahut Rival sambil berdiri menyambut kedatangan Revalina.
Tidak perlu mengelak atas perkataan Rival. Revalina cukup diam.
"Namanya Revalina," ucap Rival memperkenalkan kepada Marco.
"Ya. Kalian bicaralah di sini. Aku akan suruh pelayan menyuguhkan makanan spesial untuk kalian. Aku pergi dulu." Marco melenggang.
__ADS_1
Pandangan Revalina mengikuti punggung Marco hingga hilang dari ruangan.
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Rival dingin.
"Maaf, Pak. Saya tadi apa nggak salah dengar, bapak memperkenalkan saya sebagai calon istri di depan teman bapak?"
"Tidak. Memang itu kemauan orang tua mu kan? Beliau tadi malam meneleponku dan bicara banyak. Sepertinya kamu jauh lebih tidak mengerti dengan kesedihan orang tua, dan aku malah memahaminya. Beliau memang tidak mau memaksakanmu menjalin hubungan denganku, sebab beliau juga memiliki masa lalu perjodohan seperti yang kamu alami. Beliau diminta menikah dengan lelaki yang tidak dia sukai, dan itu sangat buruk untuk kesehatan pikirannya. Makanya beliau tidak mau memaksamu. Tapi meski demikian, umi kamu sadar bahwa pilihan orang tuanya adalah yang terbaik, yaitu sosok yang menjadi ayahmu. Pernikahan umi kamu bahkan hanya bisa dipisahkan oleh maut. Benar begitu kan?"
Revalina tertegun. Ternyata Uminya benar- benar menaruh harapan besar pada Rival. Tapi apa sih bagusnya Rival? Bukankah dia duku katanya adalah murid paling bandel, paling nakal dan paling urakan? Bahkan sekarang pun menjadi dosen menyebalkan, lalu apa bagusnya?
Seorang pelayan datang dan menyuguhkan dua porsi makanan dan minuman. Tak lain makanan lezat paling spesial di restoran itu.
"Silakan!" ucap pelayan ramah.
Revalina terdiam menatap makanan yang disuguhkan.
"Eh, ini buat kamu aja. Aku sudah makan tadi." Revalina menyodorkan piring jatahnya kepada pelayan.
"Loh? Buat saya?"
"Iya. Aku kan di luar tadi idah makan. Jadi aku nggak akan makan lagi. Aku idah kenyang. Kami ambil aja ya. Gratis."
Pelayan mengangguk dengan senyum canggung. Kemudian membawa piring dan gelas jus pergi.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, ada apa mencariku kemari?" tanya Rival.
"Mm... Aku jadi lupa." Revalina melenggang pergi.
"Dasar gadis aneh!" Rival geleng kepala.
__ADS_1
***
Bersambung