
Setelah keputusan yang disepakati bersama, Cazim dan Chesy akhirnya memilih untuk hidup bersama. Sudah beberapa bulan mereka mengarungi kebahagiaan di rumah itu.
Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan keluarga utuh begini.
Keseharian mereka disibukkan dengan rutinitas yang tidak putus. Cazim tidak hanya bekerja mencari nafkah saja, melainkan membantu pekerjaan di rumah juga. Pagi-pagi ia membangunkan anak dan istrinya untuk shalat subuh. Sudah satu tahun mereka menjalani kebersamaan belakangan ini.
“Ayo, bangun bangun bangun!” Cazim memukuli panci dengan sendok, suaranya berisik sekali. Membangunkan istri dan anak- anak dengan mengguncang badan mereka rasanya percuma. Jadi inilah yang dia lakukan.
Ia keliling dari kamar satu ke kamar lainnya. Setelah membangunkan Chesy di kamarnya, ia berpindah ke kamar anak- anak dan melakukan kegiatan yang sama.
Anak- anak terjaga, meski dengan mata terkantuk-kantuk. Semuanya mengucek mata.
Revalina menguap. Rajani mengggaruk rambut. Rafa membanting tubuh kembali ke kasur.
“Hei hei, ayo bangun!” Cazim menegakkan kembali badan Rafa.
Tubuh Bocah itu sudah posisi duduk atas tarikan tangan abinya, namun mata masih merem.
Ketiga anak itu memang sudah duduk semua, namun mata mereka tetap terpejam.
“Siapa yang tidak mau shalat subuh? Manusia yang tidak shalat maka akan masuk neraka. Neraka itu panas. Ayo, ada yang mau amsuk neraka?” Cazim tersenyum menatap anak- anak yang langsung membuka mata.
“Nggak mau, abi!” jawab Revalina cepat.
“Pertama kali yang dihisab adalah amalan shalat loh, kalau shalatnya buruk, maka buruklah amalan yang lainnya,” kata Cazim.
Ketiga anak itu mendengarkan, kini mata mereka sudah melek sempurna.
“Tapi kan anak- anak nggak wajib shalat, abi,” celetuk Rafa enteng. “Kami kan belum baligh. Besok kalau udah baligh baru bisa shalat rutin.”
“Kalau sudah baligh, wajib shalat. Dan sebelum baligh juga tetap shalat, untuk melatih diri, mengajari diri disiplin da bertanggung jawab. Ingat, bagi anak yang umurnya sudah sepuluh tahun, maka shalat itu harus sudah dilaksanakan. Dan kalau di usia sepuluh tahun masih belum mau shalat, maka boleh dipukul. Sebentar lagi kalian akan memasuki usia sepuluh tahun. Jadi kalian harus belajar disiplin. Saat adzan subuh berkumandang, cepat bangun dan berwudhu! Ayo ayo, cepat!” titah Cazim.
Brang!
Suara keras panci dipukul membuat ketiga bocah itu menghambur memasuki toilet. Berebutan. Saling sikut, saling dorong.
“Awas, Revalina duluan!”
“Jangan halangi.”
__ADS_1
“Ini kenapa tarik-tarik gini!”
“Jangan didorong.”
Waduh, kalau sudah beranjak bareng- bareng malah jadi gaduh begini.
“Rafa, kamu laki- laki, wudhunya di kamar lain saja!” titah Cazim membuat Rafa menghambur pergi.
Mulai besok, Rafa harus sudah pindah kmar. Tidak satu kamar bersama dengan kembaran lainnya.
Shalat subuh kali itu, Cazim melaksakannya di rumah. Hujan deras membuatnya malas beranjak ke masjid. Ia menjadi imam, mengimami istri dan anak- anaknya.
Suaranya yang merdu saat membacakan Al Fatihah membuat Chesy meremang. Betapa indah lantunan ayat itu. lantunan yang diserukan untuk memuji nama Tuhan.
“Allahu Akbar!” Cazim menyerukan takbir, mengganti posisi duduk diantara sujud ke posisi sujud.
Bisikan dalam menyerukan keagungan Tuhan pun terasa merasuk ke jiwa di posisi sujud bersama-sama dengan suami dan anak. Kesejukan mengalir di ubun-ubun. Semuanya terasa indah dan mengharukan. Kesombongan, keegoisan dan kemarahan tidak ada lagi. Semuanya terasa rendah, sama rendahnya seperti kepala yang diletakkan di bawah.
Puuuuuth.
Suara apa itu?
Fokus kekhusyukan sujud pun buyar mendengar suara angin mamiri yang meluncur bebas dengan indahnya.
Suara tawa kecil dari arah belakang meramaikan ruangan. Cekikikan. Kemudian terdengar bisikan kecil. “Bauk!”
“Allahu Akbar.” Cazim mengucap takbir untuk tahiyat akhir.
Sudah di posisi itu pun masih terdengar kegaduhan di belakang. entah suara apa.
“Assalamualaikum warahmatullah…” Cazim mengucap salam, menoleh ke kiri dan ke kanan.
Setelah berdoa sebentar, Cazim membalikkan posisi duduk, bersila menghadap ke arah anak dan istrinya yang kemudian bergiliran menyalami tangannya peuh takzim.
“Rafa kentut!” seru Revalina keras, menunjuk Rafa dengan sewot.
Rafa terkekeh. “Nggak bisa ditahan. Keluar sendiri.”
“Kalau mau e’ek, cepetan pergi sana. Jangan malah bikin orang mau muntah cium bau kentutmu!” kesal Revalina.
__ADS_1
“Tauk nih Rafa, bauknya nggak jelas banget. Kayaknya udah lama nggak beol deh, makanya baunya gini,” celetuk Rajani dengan kalem sambil menjepit hidung.
Melihat reaksi anak- anaknya, Cazim tersenyum.
“Jadi begini, kalau sudah kentut, maka shalatnya batal. Tidak sah,” ucap Cazim dengan sneyum.
“Yaaah… Jadi Rafa nggak dapat amal dong capek-capek ikutin gerakan shalat sejak tadi?” protes Rafa.
“Urusan perhitungan amal itu hanya Tuhan yang tahu. Rafa tadi kan sudah niat untuk beribadah, jadi Tuhan pasti perhitungkan itu. Allah tidak tidur kok. Semua amalan dan dosa di dunia ini bakalan diperhitungkan tanpa sedikit pun yang dirugikan. Tapi untuk shalat yang dikerjakan tadi tetap tidak sah, sebab buang angin merupakan salah satu yang dapat membatalkan wudhu dan shalat. Jadi, Rafa harus berwudhu kembali dan mengulang shalat.”
Wah, Cazim memang jago kalau urusan berceramah, praktiknya sulit. Dia kan mantan ustad gadungan dulu. Buktinya, sejak dulu ia sangat paham dengan hukum dan aturan agama, tapi tidak dipraktikkan. Semoga saja mulai sekarang dia sudah bisa mempraktikan ilmu yang dia miliki.
“Ayo cepat, sebelum waktu subuh habis!” titah Chesy.
Rafa menghambur pergi meninggalkan ruangan shalat.
Rajani berpindah dan duduk di pangkuan Cazim, menggelayut manja.
Revalina nyender di lengan Chesy.
“Tadi siapa yang berbisik saat shalat?” tanya Cazim.
“Revalina tuh!” tunjuk Rajani.
“Saat shalat dilarang melafazkan bacaan selain bacaan shalat ya. Lain kali tidak boleh diulang lagi,” ucap Cazim.
Revalina menyembunyikan wajahnya dibalik mukena Chesy, mukanya memerah malu.
“Baiklah, kalian mengaji ya! Ini kan hari libur! Waktu kalian dipergunakan untuk mengaji sampai matahari terbit. Ambil Al Quran, abi akan pandu kalian mengaji!” titah Cazim.
“Kalau ini hari libur, kenapa kita nggak liburan, abi?” tanya Rajani.
“Rajani mau liburan?”
“Iya.” Rajani mengangguk.
“Ya sudah, nnti selepas mengaji, kalian mandi dan berkemas. Kita akan jalan- jalan.”
“Horeeeee!”
__ADS_1
***
Bersambung