Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Berlian


__ADS_3

“Pst…!”


Siang- siang begini ada saja jin lewat.  Suaranya sat set sat set nggak jelas.  Revalina heran.  Ia menoleh ke sumber suara saat baru saja memegang handle pintu mobil.


Rupanya bukan jin, tapi Akram.  Pria itu berlari kecil mendekati Revalina.


“Ada apa?”  Revalina batal membuka pintu mobil. Ia mneyenderkan badan ke mobil dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Aku dengar Pak Rival mau menikah,” ucap Akram.  Dia mengabarkan berita yang sudah lebih dulu diketahui oleh Revalina.


“Kamu dengar dari siapa?”


“Pembicaraan Dalsa sama teman- temannya tadi.  Tapi Dalsa seperti tidak setuju gitu.”


“Lalu?”


“Aku setuju dengan Dalsa.  Kasian wanita yang akan menikah dengan Pak Rival.  Dia kebagian sosis bekas.”


“Maksudmu?”  Pikiran Revalina mulai keliyengan tak tentu arah.  Sosis bekas?  Maksudnya apa coba?


“Pak Rival itu kan udah celupin miliknya dengan jalan biad*b.  Aku pikir kasian calon istri yang bakalan dapat dia.  Gadis itu akan menikah dnegan lelaki tidak bermoral sepertinya.  Jadi ini tugas kita.  Kita mesti gagalkan pernikahan Pak Rival.  Kita mesti cari tahu siapa gadis yang akan dia nikahi dan gagalkan semuanya.”


“Nggak perlu cari tahu siapa calon istrinya.”


“Loh?  Ini penting. Apa kamu tidak kasian melihat gadis lain jatuh ke pelukan lelaki tidak bermoral seperti Pak Rival?  Dia pelaku yang menghancurkan kembaranmu, Revalina!”


“Aku calon istrinya.”


Akram terkejut sampai bola matanya membulat sempurna.  Namun detik berikutnya ia tersneyum.  “Jangan bercanda kamu.  Tidak lucu.”


“Aku serius.”  Revalina memasang ekspresi serius.  “Akulah calon istri yang dibicarakan.”


“Revalina, kamu gila ya?  Dia itu bajing*n, kok kamu bisa malah kepikiran mau menikah dengan lelaki yang jelas- jelas jadi pemerk*sa bahkan pembunuh kembaranmu sendiri.  apakah kamu tidak jijik padanya?  Apakah kamu tidak merasa sangat ingin membunuhnya?”


“Justru inilah trik yang sedang aku lakukan untuk membongkar misteri yang masih tersembunyi.  Aku yakin masih ada orang yang terlbat selain Pak Rival.  Jadi aku harus selidiki ini.  Pak Rival nggak boleh mati sebelum aku tahu siapa aja yang terlibat.”


“Jangan bodoh, Revalina.  Kamu sama saja menjerumuskan dirimu sendiri.  nggak harus sampai menikah dengannya hanya karena untuk menguak masalah ini.”  Akram frustasi.  


Revalina yang mau terbenam ke dalam pernikahan gila ini kok malah Akram yang jadi frustasi begitu?


“Aku tahu ini gila dan konyol.  Tapi kamu perlu tahu, bahwa hidupku saat ini hanya tentang rajani.  Apa pun akan aku lakukan meski sampai harus menjadi babu sekali pun.  Ini tentang Rajani.  Kamu nggak akan pernah bisa mengerti karena kamu nggak menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri.  Aku melihat kebiadaban itu dengan mata kepalaku sendiri.  Dan aku nggak bisa melupakannya.  Aku mengingatnya sepanjang hidupku.  Sebelum aku menyelesaikan ini, aku nggak akan berhenti.”  


“Tapi bukan berarti harus menikah dengan dia juga kan?  ini sama saja kamu menjerumuskan dirimu sendiri.  kamu bahkan tidak tahu apakah kamu akan berhasil menemukan pelaku lain atau bahkan malah sebaliknya, bagaimana kalau ternyata Pak Rival malah sudah lebih dulu merencanakan niat buruk terhadapmu?  Akhirnya kamu kalah langkah.”


“Apa pun itu, aku udah siap menanggung resikonya.  Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”  Revalina bersikeras.


“Aku mencemaskanmu.”

__ADS_1


“Nggak perlu cemaskan aku.  Aku bisa menjalani ini sendiri.  Aku punya rencana sendiri.”


Akram geleng- geleng kepala atas kenekatan Revalina.  Ternyata rasa ingin membongkar misteri itu sangat kuat bagi Revalina sampai ia tidak peduli dengan kebahagiaannya sendiri.  


Revalina masuk ke mobil.  Berlalu pergi.  Satu tangannya fokus menyetir, tangan lainnya mengirimi chat kepada Rival.  Dia sudah janji akan mengirimi salam dari Bu dosen untuk Rival, ia tidak boleh ingkar janji.


.


‘Ada salam dari Bu Inggit untuk Bapak.’


.


Disertakan gambar stiker daun salam dan ayam gulai.  Sebentar saja, chat sudah langsung dibaca.  Centang tanda abu- bau berubah biru.


Wah, gercep sekali dia.


Tampak di sudut atas Rival sedang mengetik.  Lalu masuk chat balasan dari Rival.


.


‘Sejak kapan kamu peduli pada Bu Inggit?  Salam sudah aku kantongi.’


.


Revalina tidak membalas pertanyaan Rival.  Dia mengalihkan pembicaraan.


.


.


Tanpa aba- aba, Rival langsung menelepon.  Membuat Revalina tersenyum miring.  Laki- laki memang begitu, terlalu cepat penasaran.


“Hm.”  Revalina menyambungkan telepon ke headset tanpa kabel.


“Apa maksudmu meminta cincin mahar?  Kita belum bicarakan ini.”


“Loh, karena belum dibicarakan, makanya ini kita sedang bicarakan.”


“Kamu mendadak ingin mahar cincin?”


“Siapa bilang mendadak sih, pak?  Sudah sejak dulu saya pinginnya mahar cincin.”  Revalina terdengar santai.


“Kamu dimana? Aku ke sana sekarang.”


“Di perjalanan.”


“Oh, itu mobilmu.  Aku ternyata di belakangmu sekarang.”

__ADS_1


“Loh, bapak ngikutin saya?”


“Ini kebetulan.  Ya sudah, kamu cari dimana toko perhiasan tujuanmu.  Aku akan menyusulmu.”


“Baik.  Ikuti saya ya Pak.”  Revalina melirik spion di sampingnya.  Mobil Rival membuntuti.


Begini mudahnya membuat Rival bertekuk lutut di hadapannya.  Ini belum apa- apa.  setelah ini akan ada banyak cara yang dilakukan oleh Revalina.


Mobilnya berbelok ke toko perhiasan.  Ini adalah perhiasan berkelas yang isinya lengkap.  Mulai dari berlian, intan, emas sampai batu akik pun ada.


Revalina menunggu dengan nyender santai di badan mobil.  Ia menatap Rival yang menghampirinya.


“Apa yang kamu mau?” tanya Rival.


“Sudah sepatutnya calon istri meminta mahar kan, pak?”


“Iya.  Sebutkan saja.”


“Saya mau cincin.”


“Ya sudah, ayo masuk.  Kamu bisa pilih cincin mana yang kamu mau.”  Rival berjalan masuk ke toko diikuti oleh Revalina.


Toko luas menyajikan warna kuning dan putih, dengan beberapa lampu gantung yang menambah kesan mewah.  Para pramuniaga mengenakan baju seragam warna biru dengan potongan rapi.  Semuanya ramah.


Rival langsung disambut oleh salah seorang pramuniaga yang berbicara panjang lebar memperkenalkan berbagai jenis perhiasan yang ada di toko itu.  berujung dengan pertanyaan perhiasan jenis apa yang diinginkan oleh calon pembeli.


Rival tampak pusing dengan keramahan si pramuniaga.  Entah apa yang akan dia pilih.  Dia tidak berminat dengan perhiasan.  Dia datang ke sana karena memenuhi permintaan Revalina, calon istrinya.  Pria itu menoleh pada Revalina di sampingnya.


Pramuniaga pun mengikuti arah pandang Rival.


“Bagaimana, Nona?  Mau pilih perhiasan yang seperti apa?  boleh dipilih.”  Pramuniaga ramah sekali.


Revalina menatap perhiasan yang ada di etalase kaca.  Dari sudut samapai ke sudut ruangan dipenuhi dengan etalase perhiasan.  Banyak model.  Semua berkilai.  Kiri dan kanan semuanya etalase berisi perhiasa.  Ia mulai memilih.


Ada banyak konsumen yang datang.  Semuanya dilayani oleh pramuniaga.


“Silahkan dibantu istrinya memilih, Pak!  Pilihan suami pasti lebih mengena di hati.”  Pramuniaga tersenyum ramah.


Rival dan Revalina bertukar pandang.    


Apakah mereka sudah pantas disebut suami istri?  Hadeeeh… mulut pramuniaga memang perlu dikasih edukasi, main sebut suami istri aja seenaknya.


“Kamu mau yang mana?” tanya Rival setelah beberapa menit Revalina berjalan dan terus memilih- milih namun tak satu pun yang dipilih.


“Aku harus menentukan dengan tepat, jangan sampai salah pilih,” ucap Revalina.  Ia lalu meminta pramuniaga mengambil perhiasan satu per satu, lalu mencoba semuanya di jari manis.  Ada banyak cincin yang dicoba dan kemudian dilepas lagi.  Dia tampak kurang suka.


“Aku mau berlian!” ucap Revalina membuat Rival terkejut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2