Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Penyelidikan


__ADS_3

"Bisa-bisanya di mobil tidak ada minum, kalau di tengah jalan haus seperti ini terus gimana," gerutu Rival menoleh ke arah Revalina beberapa detik.


"Tinggal beli, nggak usah ribet," sahut Revalina kesal.


"Di tol mau beli di mana?" tanya Rival mulai frustasi.


Revalina baru sadar jika ia mobilnya kini melintas di jalan tol, diliriknya kesana kemari sejauh mata memandang hanya terlihat beton-beton pembatasan jalan berderet di tengah dan pinggir tol.


"Oh tidak, rest area masih terlalu jauh, bagaimana bisa mencari air minum? Bahkan untuk pipis pun mesti harus menahan cukup lama, lagi pula kenapa kita harus melewati tol? Memangnya mau kemana?" gerutu Revalina beralih kesal dengan pemilik tol ini.


Revalina terus menggerutu sepanjang jalan sementara Rival hanya terdiam menampung semua gerutuannya, lama makin lama Revalina mulai merasa letih, energinya habis terkuras hanya untuk menggerutu. Tiba saatnya tenggorokan benar-benar kering.


"Kamu ini nggak peka sama sekali jadi laki-laki ya, aku sudah menggerutu sejak tadi haus kepingin minum tapi kamu nggak ada pergerakan buat cari minum," Revalina mengamuk Rival yang terlihat tetap santai mengemudikan mobil.


"Terus aku harus gimana Re, kita mau beli di mana?" tanya Rival makin bingung dengan semua ini.


"Bapak pikir saja sendiri, masa harus saya juga yang mikir," jawab Revalina ketus, mengalihkan pandangan mata ke depan sembari melipat kedua tangan.


Mendengar hal itu kebingungan Rival semakin menjadi-jadi, hampir saja gila menghadapi Revalina.


Tak lama dalam perjalanan akhirnya mereka bertemu pada  ujung tol. Dengan cepat Rival turun dari Tol dan cepat-cepat mencari mini market.


"Hausnya Tuhan, hausnya seperti orang di padang pasir mau mati," keluh Revalina sambil menatap ke atas.


"Kenapa harus di padang pasir sih, orang haus tak cuma di sana saja kali," gumam Rival dengan segala usahanya memutar setir mobil ke arah Kiri.


Tak lama akhirnya mereka menemukan mini market, Rival menghentikan mobil tepat di teras. Nampak pasrah menunggu Revalina turun dan membeli minum sendiri.


"Loh, tadi mengeluh. Sekarang sudah sampai di mini market di depan bukannya cepat-cepat masuk beli minum malah diam saja di sini," gerutu Rival meluap kesal.


Tak langsung menjawab pertanyaan Rival, Revalina justru sibuk memegangi kakinya. Mengolak-alik sambil sesekali mengurutnya.


"Awww, sakit sekali kaki ku," runtuh Revalina kesakitan.


"Kenapa kaki mu?" tanya Rival kebingungan, nada bicara seketika berubah menurun.


"Kaki ku rasanya kram, baru saja menapak sudah sesakit ini rasanya apalagi kalau dibuat berjalan," jawab Revalina terus memegangi kaki.


Seketika wajah Rival berubah kesal mendengar hal itu, tanpa basa-basi ia pun langsung.melepas seatbelt yang melingkar di dadanya.


"Minum apa?" tanya Rival ketus.


"Air putih dingin, sama teh tawar," jawab Revalina dengan antusias.

__ADS_1


"Oke," sahut Rival bergegas beranjak keluar dari mobil.


Tiba-tiba sesuatu hal melintas di pikiran Revalina ketika Rival baru saja beranjak.


"Sekalian camilan ya Pak," pinta Revalina terakhir.


"Brkkkk," pintu mobil tertutup.


Dari dalam mobil terlihat Rival masuk ke dalam ruko mini market tersebut, beberapa menit tak ada pergerakan kembali muncul. Kini saatnya untuk ia bisa menggeledah isi ponsel dosen muda ini.


Nampak benda pipih itu masih tergeletak di dalam mobil, dengan cepat ia memanfaaatkan waktu yang ada langsung membuka ponsel itu dengan sandi layar yang sudah terpatri kuat dalam ingatan.


Hanya memerlukan beberapa detik saja untuk Revalina membuka ponsel Rival. Ketika kini layar benar-benar terbuka justru ia kebingungan apa yang harus ia buka lebih dahulu.


"Aku harus mulai dari mana ini," ucap Revalina bertanya-tanya.


"Aplikasi chatting saja, di sana lah sumber bukti biasanya bermunculan," gumam Revalina tersenyum tipis.


Jari-jarinya beralih ke salah satu aplikasi hijau yang di kenal sebagai aplikasi chatting. Satu per satu chat Rival dengan beberapa orang dari nomor yang paling atas berusaha ia buka semua. Namun sayangnya ia tak menemukan kecurigaan yang nyata sedang Revalina sangat menunggu hal itu nampak sekarang juga.


Dari beberapa isi chat Rival dengan beberapa orang di kantor dan luar kantor lagi-lagi Revalina tak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan di sana.


Jari-jarinya terus scroll chat-chat yang ada di sana, tiba-tiba sorot matanya terpaku pada kontak bernama Dalsa.


Dengan cepat ia membuka chattingan kakak beradik ini, di bacanya sekilas dari bawah sampai yang paling atas dengan perlahan. Ia tak mau kehilangan satu balon chat pun.


Semua pesan ia pandangi dengan seksama, dari setiap percakapan mereka sama sekali tidak ada percakapan yang membawa ke arah hal yang Revalina bayangkan.


"Ini mereka tidak pernah bahas permasalahan Rajani di sini," ucap Revalina bertanya-tanya. "Lalu mulai dari mana aku harus mendapatkan bukti kalai Dalsa terlibat?"


Revalina mendadak termenung dengan masih menggenggam ponsel Rival, ia masih memikirkan hal ini. Tidak adanya pesan mencurigakan sama sekali di dua hari terakhir ini sementara sebelumnya chat mereka terhapus.


Keyakinan Revalina tentang Dalsa terkait dalam kasus itu pun jadi maju mundur, hanya beberapa alasan yang membuatnya tetap yakin namun ada banyak alasan pula yang membuatnya ragu.


Revalina nekat, mengirim chat kepada Dalsa menggunakan hp Rival demi memancing jawaban.


‘Soal Rajani bagaimana?’


Chat itu tentu akan memancing jawaban dari Dalsa. Semoga akan ada tituk terang. Revalina gelisah menunggu balasan.


Sial. Dalsa malah menelepon. Revalina mereject panggilan, ia lalu mengirim chat kembali kepada Dalsa.


'Aku tidak bisa ditelepon saat ini. Sibuk.'

__ADS_1


Dalsa lalu membalas chat, ‘Kenapa tiba-tiba membicarakan Rajani? Apa kaitannya Rajani denganku? Dia kembaran calon istri Mas, gak ada kaitan denganku.’


Andai saja ada sekongkol antara Rival dan Dalsa tentang kematian Rajani, pasti Dalsa akan langsung membahas ke topik. Tapi ini tidak. Malah Dalsa seolah tidak tahu apa-apa.


Revalina cepat-cepat menghapus chat saat Rival kembali.


Sekarang ia benar-benar bingung, tak menemukan bukti apapun tentang pembunuhan kembarannya, ia merasa seperti dipermainkan sebab harus mengikuti rumitnya celah cahaya kebenaran itu seorang diri.


Mudah saja jika ia mengikuti emosi Akram, menghabisi Rival sekarang. Namun langkah buruk itu enggan diambilnya, justru lebih memilih jalan terjal ini untuk bisa benar-benar membuktikan siapa pelaku sebenarnya.


Saat tengah melamun, tak sengaja ekor matanya menangkap sosok laki-laki baru saja keluar dari mini market. Dengan cepat Revalina mematikan benda pipih itu dan mengembalikan ke tempatnya.


"Ya Tuhan, hampir saja ketahuan," ucap Revalina lirih terkejut melihat laki-laki itu memanglah Rival.


Nampak Rival berjalan tegap sambil menenteng satu kantong plastik menuju mobil.


Sejak itu degup jantung Revalina mendadak terpacu kencang memompa darah namun pasukan oksigen tak seimbang membuat dadanya kini mulai sesak. 


"Semoga dia tak curiga dengan pergerakan ku tadi," ucap doa Revalina.


Secara mengejutkan Rival tak menuju ke arah pintu pada kursi kemudi melainkan menuju ke arah pintunya, tanpa permisi langsung membuka pintu itu.


Dtkkk! pintu mobil terbuka.


Seketika kedua mata Revalina dan Rival saling beradu pandang beberapa detik lalu kompak mengalihkan pandangan mata.


"Nih, minuman sama cemilan mu," ucap Rival memberikan kantung plastik itu ke pangkuan Revalina.


Sementara Revalina hanya bisa melongo melihat isi kantung yang tak sengaja terbuka, terlihat di dalamnya ada beberapa cemilan dan minuman sesuai pesanannya.


"Terus kenapa harus buka pintu sini, buang-buang waktu saja," gerutu Revalina sambil mengambil air mineral dalam kantung itu.


"Ambilkan minyak urut di situ," perintah Rival dengan wajah datarnya.


Revalina memicing kebingungan.


"Hah, minyak urut," ucapnya bertanya-tanya.


Ia pun mulai mengorek-ngorek isi kantung plastik itu, dan benar ternyata ada satu minyak urut berukuran kecil yang dibeli Rival.


Dengan isi kepala yang masih bergejolak akan berbagai pertanyaan Revalina memberikan minyak urut itu kepada Rival.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2