
Sudah tiga jam Chesy dan Senja menunggu di parkiran, mengintai dari dalam mobil posisi pintu utama dari sana. Jarak posisi parkir mobilnya ke pintu utama gedung tidak jauh, mereka bisa memantau dengan jelas dari sana.
“Ches, kita udah tiga jam nungguin di sini dan Pak Diatma belum nongol juga. Bagaimana kalau dia keluar lewat pintu lain?”
“Memangnya ada pintu lain selain ini?”
“Ya mana tau ada pintu khusus untuk bos gitu.” Senja mengedikkan pundak.
“Huh, jadi itu hanya dugaanmu aja? Eh, tunggu dulu, kita nungguin di sini nggak bakalan sia- sia kan? Maksudku, kamu tau persis wajahnya Pak diatma kan? nih ya, kalau kita nungguin di sini tanpa kita tahu Pak Diatma wajahnya kayak apa, semua usaha kita bakalan sia-sia.”
“Aku tahu kok wajahnya.”
“Bagus! Berarti nggak bakalan sia-sia.”
“Ini nanti pas kita udah lihat orangnya, apakah kita akan langsung jumpain dia atau kita tunggu sampai dia keluar dari area kantor?” tanya Senja.
“Lebih baik kita langsung temui aja. Takutnya Pak Diatma malah ada meeting atau ada keperluan lain setelah ini, kan malah repot urusannya.”
“Tunggu dulu, kayaknya ada urusan lain yang jauh lebih penting dibanding menemui Pak Diatma.” Senja serius. “Kita nggak bakalan bisa melakukan apa pun jika urusan yang satu ini nggak dikelarin. Kita bisa mati.”
Sontak mata Chesy membulat sempurna. Jantungnya mulai tidak nyaman. “Apa?”
Krueeeewwrk…. Suara di dalam perut berlomba ria.
“Perutmu?” tanya Chesy.
Senja mengangguk. “Ya itu maksudku. Lapar. Kita makan dulu. Kalau nggak makan, kita bisa mati dan urusan dengan pak Diatma bisa berantakan setelah kita menjadi mayat.”
“Oh ya ampun.” Chsy menepuk jidatnya seraya geleng kepala. Kirain Senja serius, rupanya hanya soal perut yang kelaparan. Mereka memang sudah cukup lama berada di sana, bahkan jam makan siang pun sudah lewat, wajar saja Senja sampai kelaparan begitu.
Ternyata Senja lucu juga. Sebenarnya dia anak baik. Tapi adabnya kurang soal menghargai orang yang sudah bersuami.
__ADS_1
“Ya udah, kamu makan gih, biar aku yang nungguin di sini,” ucap Chesy tak tega. Kalau Senja beneran mati gara-gara kelaparan, maka urusannya akan semakin repot.
“Ah, nggak deh. Masak aku makan sendirian.”
“Kalau kamu mati gimana?”
“Aku nggak segampang itu matinya. Malah kadang udah ketabrak mobil dan ketimpa motor pun masih idup juga.”
Weileh, kalau ngomong suka konyol juga.
“Eh, itu! itu dia Pak Diatma.” Senja menunjuk ke arah pintu gedung saat seorang pria dengan stelan jas hitam, dasi warna senada dan rambut rapi melangkah keluar. Dia dikawal oleh beberapa orang. Seorang berbaju hitam di depan, dua orang lainnya lagi di belakang.
Penampilannya yang sempurna sebagai seorang bos besar membuat Chesy tertegun sejenak.
Chesy menghambur keluar dari mobil, menghampiri Diatma. Chesy tidak punya waktu banyak, dia harus bicara to the point untuk bisa menyampaikan keinginannya. Ia sudah memprediksi bahwa Diatma tidak akan menggubrisnya karena dia dianggap orang asing. Jangan harap ia bicara basa-basi, karena itu akan membuang waktunya.
“Pak Diatma! Permisi, saya mau bicara sebentar!” ucap Chesy.
Diatma hanya melirik sebentar degan sorot mata tajamnya itu, kemudian berpaling begitu saja, melengos melewati Chesy.
“Minggir! Jangan halangi Tuan besar!” pengaman menghardik.
“Pak Diatma, saya Chesy. Ingin menyampaikan bahwa anak Bapak bernama Azzam Cand Cazim ditangkap polisi, dia mau bertemu denganmu!” teriak Chesy.
Lagkah Diatma sedikit tertahan mendengar kalimat itu, namun kemudian ia melanjutkan langkah dengan cepat sambil berkata, “Urus gadis itu! kalau dia mau bicara, temui saja asisten pribadiku!”
Perintah itu terdengar jelas di telinga Chesy.
Pengawal menghalangi langkah Chesy, mendengkeram lengan kecil itu dengan tatapan sangar dan berkata, “Berhenti mengganggu bos kami, atau kau akan dilempar dari sini. Jangan melakukan tindakan yang membahayakan bos kami. Pergi kau!”
“Katakan pada bosmu, anaknya ditahan polisi dan mintalah bosmu untuk menemui anaknya. Anaknya udah nikah, maka mintalah untuk menemuinya.”
__ADS_1
“Ya, akan aku sampaikan. Berdoalah supaya bosku mempercayaimu.” Pengawal itu memanggil security dengan berteriak keras sambil melambaikan tangan.
Security datang menghampiri.
“Urus wanita ini, dia membuat kegaduhan!” Pengawal kemudian berlalu pergi menyusul masuk ke mobil bosnya.
Security meraih lengan Chesy.
“Jangan pegang aku! Aku bisajalan sendiri.” Chesy menyentak lengannya, kemudian ia menghambur masuk ke mobil Senja.
“Gagal?” tanya Senja yang menunggu di mobil.
“Aku nggak yakin si bebek besar itu akan menyampaikan pesanku ke Pak Diatma. Ayo, kita kejar mobil Pak Diatma,” pinta Chesy.
“Bebek besar? Siapa?” Senja cepat menjalankan mobilnya mengejar mobil Alphard yang baru saja lolos dari portal.
“Pengawalnya Pak Diatma. Dia mirip dengan bebek, bokongnya menul dan menyebalkan.”
Senja geleng kepala. “Lalu apa yang akan kita lakukan ketika bertemu kembali dengan pak Diatma nanti? Dia pasti nggak akan mudah mempercayai kita, bisa jadi dia menganggap kita ini orang suruhan dari lawan bisnisnya, atau menganggap kita ini wanita- wanita kesepian yang sedang butuh elusan bos besar, atau apa pun itu.”
“Jika hanya berusaha sekilas aja, pasti nggak akan clear. Kita harus berusaha maksimal. Gagal satu usaha, maka jalankan usaha lainnya.” Chesy sibuk mencari akun social media milik Diatma Hartawan. Namun ternyata mertuanya itu tidak aktif di dunia social media. Justru asisten pribadinya yang aktif di dunia sosial media.
Chesy pun mengirimkan pesan ke social media milik asisten pribadinya dengan cara yang sopan supaya menyentuh, menceritakan tentang Cazim. Tidak ada respon.
“Pak Diatma mau kemana itu ya? Kok jauh banget? Eeeh, ya ampun. Dia ke bandara. Fix, ini Pak Diatma masu masuk ke bandara.” Senja menepuk keningnya sendiri.
“Cepetan berhenti! Aku kejar!” Senja menghentikan mobil saat sudah memasuki area bandara. Chesy berlari mengejar Diatma yang berjalan memasuki bandara. Sayangnya kalah cepat. Ia kehilangan jejak.
Hari itu, usaha Chesy benar-benar gagal total. Informasi yang Chesy dapatkan bahwa pria bernama Diatma Hartawan telah terbang ke Australia.
Senja hanya bisa lemas menahan lapar. Usaha gagal, perut pun lapar.
__ADS_1
***
Bersambung