
Dalsa kembali celingukan, memastikan tak ada orang di sana. Setelah merasa aman dengan cepat tangannya membuka kedua botol bekas air mineral itu dan mengarahkannya di bawah kran.
Byurr.
Air keran itu mulai masuk ke dalam botol, beberapa detik saja mampu memenuhi isi dua botol tersebut.
Setelah dirasa sudah cukup Dalsa bergegas kembali ke kamar kosnya sembari membawa dua botol air kran itu, entah kenapa dalam keadaan panik seperti ini kamar kos terasa sangat jauh seperti butuh bermenit-menit untuk sampai di pintu kamarnya.
"Hah, akhirnya," ucap Dalsa sedikit lega tangannya telah berhasil meraih gagang pintu kamar.
"Dalsa," suara dari belakang.
Sontak kedua netra Dalsa terbelalak mendengar suara yang terdengar tak asing di telinganya, dengan sembari mengumpulkan keberaniannya perlahan ia mulai berbalik badan.
Betapa terkejutnya Dalsa melihat Ibu kos ini sudah ada di hadapannya dengan wajah kaku seperti dept kolektor.
"Eh Ibu," ucap Dalsa meringis tersenyum manis ke arahnya.
'Ya Tuhan jangan-jangan Ibu kos tahu aku baru saja ambil air dari kran,' ucap Dalsa dalam hati mulai menduga-duga.
"Akhirnya nampak juga batang hidungmu, jangan sering-sering di kamar terus nanti bisa stres," celetuk Ibu kos sembari menatap Dalsa.
"Hihihihi," kikih Dalsa sedikit terganjal oleh keterkejutannya.
Tak disangka Ibu kos akan berkata seperti itu, tapi syukurlah tak sia-sia dirinya sejak tadi memastikan seribu kali bahwa keadaan aman tak ada yang melihatnya mengambil air dari kran.
"Iya Bu," sahut Dalsa menganggukkan kepala.
Tak lama Ibu kos itu pergi ke arah belakang, Dalsa masih tetap di depan pintu memandangi punggung Ibu kos itu menghilang dari pandang matanya.
"Akhirnya," ucap Dalsa sembari menghembuskan nafas leganya.
Klekkk.
Dalsa buru-buru masuk ke dalam kamar kos, menyembunyikan kembali batang hidungnya. Sebelum Ibu kos itu kembali menegurnya.
"Hahhh, nenek lampir itu memang suka berubah-ubah moodnya kalau keluar kamar terus di kira nggak betah kalau di dalam terus juga salah. Memang umur segitu lagi lucu-lucunya," gerutu Dalsa sembari menarik piring plastik yang sudah berisi separuh nasi, tempe dan sambal juga menyiapkan dua botol air kran.
Seperti biasa sesaat sebelum makan ia mulai menengguk satu botol air yang diambilnya dari kran itu sampai habis, lalu berlanjut menyantap nasi bungkus itu dengan lahap sangking lahapnya seperti orang kesetanan.
Sebenarnya ia sudah bosan dengan nasi dan tempe yang hanya secuil ini, namun berusaha untuk terus ia dorong dan telan demi mengganjar perut.
Dalam setiap suapan ia teringat dengan hari-hari pertamanya menjadi buronan, mengingat kebodohannya yang tak berpikir panjang dalam memanage uang. Justru terkesan foya-foya dengan memesan ini itu tanpa berpikir sama sekali, alhasil sekarang ia harus menderita yang entah sampai kapan akan berakhir.
"Mama, andai Mama tahu aku sekarang kelaparan ingin makan masakan Mama," rengek Dalsa sembari terus mengunyah nasi.
"Sampai kapan aku begini Ma," rengek Dalsa kembali.
Ingin rasanya membuka ponsel lamanya yang sudah sejak pertama kali ia kabur telah nonaktif demi keamanan nya dalam menyembunyikan diri, dengan ponsel baru yang ia masukkan nomor dengan identitas palsu milik pegawai konter, ia hanya bisa memantau sosial media keluarganya yang sunyi sepi tak ada asupan untuk kerinduannya.
Ingin sekali mengirim pesan pada Candini karena hanya dialah satu-satunya orang yang mau menolongnya, akan tetapi mengingat power yang di miliki Rafa sudah dipastikan sekali berinteraksi dengan keluarganya pasti akan kena ringkus polisi.
"Sudahlah jangan banyak tingkah, diam saja jangan memancing polisi untuk datang ke sini," gumam Dalsa menarik ponselnya meletakkan ke atas kasur yang ada di belakangnya.
Ia berusaha acuh tak menghiraukan kerinduannya pada Candini, namun tiba-tiba sekelebat dalam pikirannya memunculkan ide gila yang kemungkinan kecil terendus oleh orang-orang suruhan Rafa.
"Bisa juga nih pakai cara ini," ucap Dalsa kembali merauh ponselnya.
*****
POV Revalina.
__ADS_1
Beberapa berkas yang di perlukan siang ini juga sudah ia cicil dan kumpulkan ke Joseph, kini tinggal sisanya berusaha secepat mungkin ia selesaikan sebelum jam istirahat tiba.
"Reva, sepertinya kamu keteteran sekali mengerjakan ini semua. Apa nggak ada laptop lagi biar aku bisa bantu," ucap Rival dari ujung meja kerja menatap Revalina dengan tatapan cemas.
"Enggak Mas, aku nggak keteteran cuma lagi mode ngebut saja ini kan mau jam istirahat," sahut Revalina sembari melempar senyum namun kedua netranya masih terpaku menatap layar monitor.
"Masih kurang berapa berkas lagi memangnya?" tanya Rival melirik berkas yang ada di samping kanan Revalina.
"Kurang dua lagi," jawab Revalina.
Siang itu Rival membantunya mempercepat pekerjaan dengan tangannya yang berguru mahir mengetik dengan cepat, juga pemikirannya yang cepat pula.
Tak lama akhirnya dua berkas terakhir sudah selesai sebelum jam istirahat tiba, kini saatnya ia membawa berkas itu ke ruangan Joseph.
"Aku tinggal ke ruangan Pak Joseph dulu ya," pamit Revalina pada sang suami.
"Iya, jangan lama-lama ya," sahut Rival.
"Iya," ucap Revalina melenggang pergi keluar dari ruangannya.
Sedikit merasakan Dejavu ketika Rival berucap seperti itu, tapi kali ini ia yakin tak akan meninggalkan Rival terlalu lama seperti kemarin karena pekerjaannya sudah selesai.
Tiba di depan pintu ruang kerja Joseph, secara bersamaan Rafa pun juga akan masuk ke dalam ruangan Joseph juga.
"Lah, belum istirahat?" tanya Rafa terkejut.
"Belum, ini masih jam berapa," jawab Revalina sembari menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.40.
"Santai saja, kau mau istirahat jam 10 juga nggak papa nggak usah terlalu taat," ucap Rafa dengan santainya.
"Dasar sesat," gerutu Revalina sembari membuka pintu ruangan Joseph, melenggang masuk meninggalkan Rafa di sana.
Ketika beberapa langkah masuk ke dalam ruangan, ia melihat Joseph terkejut saat itu juga dirinya sadar jika sudah lancang masuk ke ruangan orang tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Dia sendiri yang sesat masuk ruangan orang nggak pakai sopan santun, pakai ngatain orang sesat," ledek Rafa baru melangkah masuk ke dalam ruangan.
Meski bingung Joseph berusaha untuk langsung tersenyum, apalagi mendengar ledekan Rafa.
"Nggak papa, santai," sahut Joseph pada Revalina.
"Jangan dibiasakan begitu Reva nggak sopan," tegur Rafa di hadapan Joseph dengan nada tegas.
"Iya-iya," sahut Revalina dengan nada kesal.
"Nggak papa Pak Rafa, sesekali memang harus santai begini biar nggak terlalu tegang," ucap Joseph seperti berusaha melerai.
"Kalau seperti ini bukan santai lagi tapi sudah nggak sopan," tolak Rafa dengan lirikan mautnya menyorot ke arah Revalina.
Revalina coba menghela nafas beratnya tanpa suara, niat hati ingin segera mengumpulkan berkas lalu kembali ke ruangannya malah bertemu Rafa yang justru merusak time managementnya.
"Sudah ya, ini mau di perpanjang sampai subuh atau gimana. Aku sudah minta maaf dan Pak Joseph sudah bilang nggak papa jadi sudah clear aku kesini cuma mau kumpulkan berkas terakhir siang ini," ucap Revalina panjang lebar berakhir menyodorkan berkas kepada Joseph.
"Terimakasih Reva," ucap Joseph pada Revalina.
"Sama-sama Pak," sahut Revalina.
"Kalau begitu saya pamit, permisi," pamit Revalina perlahan beranjak pergi.
Tiba-tiba tangan Rafa menarik pergelangan tangannya yang otomatis juga menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa ih?" tanya Revalina kesal.
__ADS_1
"Mumpung kita lagi bertemu di sini, aku mau tanya sesuatu sebelum kamu balik ke ruangan kerja mu dan bertemu dengan suami mu itu," ucap Rafa dengan nada serius.
Sontak kedua mata Revalina mendelik memelototi Rafa yang bisa-bisanya membahas hal tabu di depan Joseph, meski tak tahu apa yang akan di katakan Rafa tapi ia yakin seyakin-yakinnya Rafa hendak membahas sesuatu yang terjadi di keluarga kita.
"Kak," tegur Revalina, aktif memberikan kode melalui matanya berharap Rafa mau mengurungkan niatnya.
"Nggak papa, Joseph sudah tahu. Orang yang kasih tahu aku saja dia," sahut Rafa dengan santainya.
Revalina tetap panik, ia benar-benar tak ingin orang lain tahu sedikitpun permasalahan di dalam keluarga.
"Kalau kalian kurang nyaman, aku bisa pergi," ucap Joseph sembari melangkahkan kedua kakinya menuju pintu keluar.
"Tidak perlu," tahan Rafa.
Seketika langkah Joseph langsung terhenti.
"Kak, yang benar saja," ucap Revalina memelototi Rafa.
"Aku cuma mau tanya, sebenarnya kau ketemu Dokter di rumah sakit itu untuk konsultasi atau untuk apa?" tanya Rafa penasaran.
Seketika kedua mata Revalina mendelik, ia tak menyangka Rafa akan curiga dengan hal ini yang berarti juga Joseph pun curiga.
"Konsultasi," jawab Revalina dengan tegas.
"Benar begitu?" tanya Rafa kembali sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Iya Kak, sudah lepaskan tanganku," jawab Revalina meronta berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rafa.
'Tak mungkin aku ceritakan sekarang, ada Pak Joseph di sini,' gumam Revalina dalam hati.
"Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi nanti saja menunggu kau mau jujur," ucap Rafa sembari melepaskan cengkraman tangannya.
Setelah tangannya terbebas dari cengkraman tangan Rafa, ia langsung melenggang pergi melintasi Joseph yang terdiam kaku di sana.
"Maaf Reva, aku cuma khawatir," ucap Joseph lirih.
Revalina tak menghiraukan Joseph, ia terus melenggang pergi tanpa sedikitpun melirik ke arahnya. Sadar, ini bukan salah Joseph atau salah siapapun hanya saja ia tak ingin orang lain ikut campur dengan masalah intern nya.
'Aku kira Kak Rafa bakal bahas soal Dalsa dan Akram, ternyata bahas Mas Rival. Huh, andai saja kemarin Umi nggak di rumah pasti sudah aku ceritakan semua,' ucap Revalina dalam hati.
Klekkkk.
Ia mulai masuk ke dalam ruangannya dengan senyum termanis yang ia punya, menatap ke arah Rival yang masih setia menunggu di sana.
"Kita istirahat sekarang yuk," ajak Revalina menghampiri Rival.
"Yuk," sahut Rival sambil tersenyum pula.
Mendengar sahutan Rival, dengan cepat ia menyahut tas dan ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Oh iya, tadi ada telfon," ucap Rival seketika saat Revalina meraih ponsel.
"Dari siapa?" tanya Revalina dengan santainya membuka kolom keluar masuknya panggilan.
"Entah, nggak ada namanya," jawab Rival.
"Kamu sudah angkat Mas?" tanya Revalina beralih menatap Rival.
Rival langsung menggeleng, menandakan dia tak mengangkat telfon dari nomor tak dikenal itu.
Awalnya Revalina berpikir bahwa itu hanya telfon nyasar atau telfon dari para sales asuransi, tapi melihat log panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama tertera telah melakukan pengulangan panggilan sebanyak 10 kali.
__ADS_1
Tiba-tiba jantungnya mendadak berdegup dengan kencangnya, tak bisa diartikan perasaannya saat ini antara penasaran dan takut bercampur jadi satu.
"Siapa ya, perasaan aku nggak ada janji dengan siapa-siapa," ucap Revalina bertanya-tanya.