Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Skenario Tuhan


__ADS_3

"Apa ini? Umi nggak ngerti?" tanya Chesy kebingungan.


"Reva ada gangguan pernafasan dan iritasi pada matanya," jawab Rafa membaca hasil pemeriksaan Dokter.


Revalina yang terduduk di atas ranjang menatap heran Rafa dan Chesy yang berdiri membelakanginya, tapi bukan karena itu saja melainkan ia juga heran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Tapi yang matanya merah dari kemarin itu Mas Rival, harusnya Mas Rival juga di periksa," ujar Revalina melirik Rival yang tengah menyuapinya.


Rafa dan Chesy langsung berbalik badan, sontak keduanya secara bersamaan menyorot ke arah Rival hingga membuat Rival salah tingkah sampai membuatnya menundukkan pandangan.


"Eh iya, merah matamu Rival. Kenapa aku baru sadar," ucap Chesy mendadak khawatir.


"Cepat kamu periksa, mumpung kita masih ada di sini!" pinta Rafa terlihat khawatir juga.


"Nggak Papa Umi, Kak. Ini cuma iritasi biasa sudah aku kasih obat tetes mata juga," sahut Rival sembari tersenyum.


"Dikira habis kelilipan kali ya di kasih obat tetes mata, hey kau ini baru saja jadi korban kebakaran resto jangan main-main," ucap Rafa dengan nada kesal.


Tak tinggal diam dengan cepat Rafa menarik Rival keluar dari kamar rawat inap membawanya menuju ke ruang pemeriksaan.


Kini di dalam kamar rawat inap tinggal Revalina dan Chesy, beberapa saat setelah Rival pergi Chesy akhirnya mendekatinya sembari meraih mangkuk berisi bubur.


"Di lanjut makannya," ucap Chesy mulai menyuapi Revalina.


Reflek Revalina menepis sendok itu yang hendak menyentuh bibirnya, entah kenapa setelah kembali tersadar dengan kondisi Rival yang tak baik-baik saja membuatnya tak berselera makan.


"Makan dulu Nak, pagi ini kau bisa pulang kalau mau habiskan bubur ini," bujuk Chesy.


"Nggak mau Mi, sudah kenyang," tolak Revalina.


"Di mana anakku?" tanya Candini.


Mengejutkan, tiba-tiba Candini masuk ke dalam kamar rawat inap Revalina tanpa permisi. Dia seakan lupa dengan adab bahkan agama hingga tak mengucap salam membuat Chesy mengelus dada.


"Mama," sebut Revalina terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


Tak tak tak tak.


Candini kembali melanjutkan langkah kakinya, melangkah masuk lebih dalam lagi. Mendekati Revalina pada sisi kiri tepat di hadapan Chesy sembari menengok kesana kemari.


"Di mana anakku?" tanya Candini kembali mengulang pertanyaannya.


"Mas Rival masih diperiksa Ma," jawab Revalina lirih takut.


Tiba-tiba tangan Candini mencengkeram rahang Revalina, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga berdekatan dengan wajahnya. Revalina tak bisa melawan hanya bisa berusaha untuk menurunkan tangan Candini.


"Ma, sakit Ma," rintih Revalina.


"Candini," teriak Chesy histeris berlari ke arah kiri dengan begitu paniknya.


Candini terus mencengkram rahang Revalina semakin lama semakin terasa begitu kuat hingga membuat Revalina kesakitan.


"Argghhh," runtuh Revalina kesakitan.


"Memang menantu nggak tau di untung sudah di kasih kesempatan malah sekarang kau mencelakai anakku lagi," teriak Candini dengan muka memerah padam.


"Candini jaga bicaramu," bentak Chesy terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Candini.


"Mama," panggil Yakub dengan lantang.


Di waktu yang tepat Yakub dan Sarah kembali, keduanya terkejut melihat apa yang tengah dilakukan Candini sekarang.

__ADS_1


Sempat beberapa detik Candini berhenti mencengkram, melirik ke arah pintu namun tak lama langsung melanjutkan cengkeramannya lebih kuat lagi.


"Argghhh," Revalina tak berhenti merintih.


Yakub langsung berlari menuju ke arah Candini, dengan cepat menarik Candini jauh-jauh dari Revalina. Semua terjadi begitu cepat hingga tak sadar setelah Revalina mengangkat kembali dagunya ia tak melati lagi Candini ada di kamar inapnya.


"Reva, Reva minum Nak," ucap Chesy panik langsung menyodorkan segelas air putih pada Revalina.


Tanpa berpikir panjang Revalina langsung menengguk air putih itu, entah kenapa setelah apa yang terjadinya kejadian ini tenggorokannya jadi terasa kering.


"Tante, tadi itu Mama kenapa bisa marah-marahi di sini?" tanya Sarah kebingungan.


"Mertua mu itu mengira kalau Reva yang membuat Rival celaka, apa nggak gila mertua mu itu," jawab Chesy dengan nada kesal.


"Mi, sudah," tegur Revalina lirih.


Sesaat setelah mengeluarkan teguran, seketika perhatian Chesy kembali tertuju padanya. Tangannya kembali membelai kepala. Revalina dengan tatapan yang begitu lekat.


"Mana yang sakit Nak, rahangnya sakit?" tanya Chesy kembali panik.


"Enggak Mi, sudah nggak sakit," jawab Revalina lirih lembut.


Padahal rasa sakitnya sampai tembus ke gusi, namun Revalina enggan membuat Chesy semakin panik dan khawatir padanya.


"Maafkan Mama ya Reva, Tante Chesy, ini semua karena kurangnya komunikasi jadi salah faham begini," ucap Sarah menatap keduanya dengan tatapan sendu.


Mendengar Sarah meminta maaf padanya Revalina jadi tak enak hati karena memang bukan salahnya, dengan kerendahan hatinya Sarah mau meminta maaf atas nama Candini.


"Bukan salahmu Mbak, nggak perlu minta maaf seperti itu," sahut Revalina.


Entah kemana Yakub membawa Candini pergi hingga tiba saatnya Revalina pulang tak lagi melihat batang hidungnya lagi.


"Umi sama Kak Rafa ikut mengantar kita sampai rumah?" tanya Rival setelah menengok ke belakang.


"Iya katanya," jawab Revalina.


"Merepotkan sekali, padahal nggak di antar juga nggak papa," ucap Rival tak enak hati.


Revalina tak mendengarkan ucapan Rival, ia justru sibuk memandangi kaki Rival apalagi saat-saat dia berjalan kedua matanya sudah seperti mau copot terus memandangi setiap kaki suaminya bergerak.


"Kenapa Reva?" tanya Rival.


Kaget, seketika Revalina langsung mengangkat dagunya mengalihkan pandangan mata ke arah Rival.


"Nggak papa, masih nggak menyangka saja kamu tiba-tiba sudah bisa jalan," jawab Revalina dengan wajah linglung.


Netranya melirik curiga mengingat sebelumnya Rival masih kesusahan berdiri apalagi jalan, sampai-sampai ia mengira jika kesembuhan Rival adalah suatu hal yang mustahil.


"Alhamdulillah, berkat kuasa Tuhan aku bisa jalan lagi," sahut Rival sambil tersenyum.


"Skenario Tuhan luar biasa perfect, di saat kalian lagi dalam marabahaya Tuhan kasih pertolongan lewat kaki Rival," ujar Sarah menoleh ke belakang, ke arah Revalina dan Rival.


"Alhamdulillah ya Mbak, kalau enggak pasti sudah jadi sate di sana," ucap Rival membawa pembicaraan ke arah candaan.


"Bukan lagi sate, tapi arang," sahut Yakub.


"Kayaknya lebih ke abu ya Kak," ucap Revalina pada Yakub.


"Nah betul tuh," sahut Yakub sembari menunjuk Revalina.


Seketika Rival langsung melirik ke arah Revalina dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Untung kita selamat ya," ucap Rival.


Revalina menjawab ucapan Rival dengan anggukan dan senyuman, entah kenapa di dalam dadanya masih menyimpan kekesalan pada Rival tak tak bisa ia jelaskan.


Tak lama mobil berhenti tepat di perempatan lampu merah, terlihat mobil Rafa maju mensejajarkan posisi dengan mobil Yakub.


"Reva, lihat Umi mau bicara," tunjuk Rival ke arah sisi samping Revalina.


Baru sadar Chesy membuka kaca jendelanya dengan cepat Revalina pun ikut membuka kaca jendela diikuti Sarah juga.


"Ada apa Mi?" tanya Revalina.


"Umi sama Kak Rafa langsung ke kantor ya, kalian semua hati-hati," ujar Chesy dengan kertas.


"Siap Umi, Umi juga hati-hati ya," sahut Revalina sembari mengagungkan jempolnya.


Saat itu mereka berpisah dari perempatan jalan, Candini berbelok ke arah kiri sementara mobil Yakub berbelok ke arah kanan.


Sedih rasanya berpisah apalagi dengan seorang Ibu, sering kali Revalina merasakan hal ini setelah bertemu dengan Chesy. Mungkin karena ia belum puas bermanja dengannya.


"Jangan sedih Reva, besok kalau kondisi mu sudah membaik aku ajak kotoran ke rumah Umi," ajak Rival berusaha memberi penghiburan.


"Serius Mas?" tanya Revalina langsung antusias.


"Serius, tapi harus fit dulu," jawab Rival.


Setibanya di rumah mereka langsung menuju ke kamar masing-masing, ingin beristirahat setelah kejadian luar biasa semalam yang begitu menguras energi.


Di dalam kamar Rival nampak tengah berbaring sembari memainkan ponsel, sementara itu Revalina memilih untuk menonton televisi sembari terbaring pula.


'Pasti kebakaran di black hole masuk berita,' ucap Revalina dalam hati penasaran.


Ia mulai menekan tombol power pada remote, mengalihkan Chanel televisi yang biasa menyiarkan berita terkini pada siang hari ini dan tak butuh waktu lama untuk Revalina menemukan berita itu.


Ya saat ini saya sudah berada di lokasi puing-puing reruntuhan restoran ternama BH yang mengalami kebakaran hebat semalam, bisa kita lihat api sudah berhasil dipadamkan namun tak menyelamatkan restoran ini dan di tafsir kerugian mencapai milyaran rupiah. Akibat dari kejadian ini 26 orang meninggal dunia dan 32 orang mengalami luka-luka.


Mendengar suara presenter berita membacakan berita tentang resto black hole sontak Rival langsung menoleh ke arah televisi lalu menggeletakkan ponselnya ke atas meja kecil yang ada di samping ranjangnya.


"Banyak juga ya yang jadi korban kebakaran itu, aku nggak nyangka kalau sampai ada yang meninggal," ucap Revalina shock mendengar berita tersebut.


"Aku sudah menduga pasti ada korban meninggal dunia, waktu itu banyak yang pesan private room apalagi yang di lantai atas susah buat turun. Tapi aku rasa black hole menutupi angka korban yang sebenarnya," ujar Rival menatap layar televisi dengan mata memicing.


Kepala Revalina reflek menunduk sesaat setelah Rival berkata seperti itu, ia jadi merasa bersalah karena dari awal tak mendengarkan nasehat Rival.


"Maafkan aku ya Mas, aku sudah buat kamu celaka harusnya waktu kamu menegurku aku langsung ikuti kata kamu bukannya kekeh pesan private room itu," ucap Revalina lirih sedih.


"Hey-hey, kenapa jadi sedih aku nggak bermaksud menyinggung mu," sahut Rival panik, langsung memeluk Revalina.


Tangan Revalina menyambut pelukan Rival dengan ikut melingkarkan tangannya ke pinggang sixpack sang suami, dalam dekapannya Revalina menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Rival, menumpahkan air matanya di sana.


"Hiks hiks hiks," isak tangis Revalina.


"Reva, maafkan aku. Aku sama sekali nggak berniat menyingung mu, ketahuilah semua yang terjadi semalam itu memang musibah," jelas Rival sembari mengusap lembut kepala Revalina.


Ingatannya seketika memutar kejadian tadi pagi di mana Candini mengamuk hingga mencengkram rahangnya, dia mengamuk karena Rival ada dalam kebakaran itu bersamanya dan mengira ia lah yang membuat Rival celaka.


"Benar kata Mama, aku sudah mencelakakan kamu Mas," ucap Revalina sambil terus terisak-isak.


"Mama?" tanya Rival kebingungan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2