Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sinyal Buruk


__ADS_3

Chesy membelalak kaget.  Ia menoleh dan menatap Bi Parti.  “Dicium?”


 “Iya, didepan Ndoro Yunus kejadiannya.”


Chesy menelan sambil mengelus lengannya yang meremang.


“Yaa itu kan dilakukan Den Cazim sebagai wujud dalam hal pertolongan pertama, yaitu memancing supaya air yang tertelan sama Non keluar gitu loh.”


Chesy menggigit bibir bawah.  Menang banyak tuh cowok.  Enak banget ngerasain bibir Chesy disaat Chesy tidak sadarkan diri. 


Awas kamu!


Chesy dendam sekali.  Cazim selalu mengambil kesempatan di dalam kesempitan.  


“Aku mau pergi, Bik!”  Chesy meraih ikat rambut dan mengikat rambutnya asal- asalan, lalu menyelubungkan kepala ke dalam jilbab.  Ia melangkah pergi meninggalkan rumah ketika dari jendela kamarnya, ia melihat Alando melintas.  Pria itu pernah bilang bersedia untuk menceritakan tentang Cazim. Chesy ingin menanyainya.  Segaa tentang Czim yang meninggalkan kesan penuh tanya, membuat Chesy ingin menguak siapa sosok Cazim yang sebenarnya.


“Alando!” teriak Chesy sambil berlari memanggil.


Pria yang tengah berjalan sambil merokok itu pun menoleh.  Ia menunggu hingga Chesy mendekatinya.

__ADS_1


“Aku mau menagih janjimu,” ucap Chesy.


“Janji apa?”  Pria bertubuh bulat itu mengernyit.


“Janji yang kamu bilang bahwa kamu mau mengatakan ke aku tentang apa saja yang dirahasiakan oleh Cazim.  Kamu tahu kan baha aku ini sekarang sudah menjadi istrinya?”


“Ya, aku tahu itu.”


“Sebagai istri, aku sama sekali nggak tau siapa Cazim yang sebenarnya, aku nggak tau siapa keluarganya, siapa asal- usulnya.  Kebayang nggak gimana resahnya aku yang udah terlanjur nikah sama orang yang nggak jelas asal- usulnya kayak dia?”


“Kk kenapa kamu tidak tanya langsung ke dia saja?  kalian kan sudah suami sitri?”  Alando menunduk.


“Kalau dia mau buka mulut, tentu aku nggak perlu tanyakan ini ke kamu.”


“Berarti benar dong dia menyimpan rahasia buruk sampai- sampai kamu nggak berani bicara tentang dia? Nggak ada yang perlu ditakuti untuk menceritakan seseorang jika orang itu nggak menyimpan hal yang buruk.”


“Bukan begitu.  Ini kan masalah pribadinya Cazim, dialah yang berhak memilih pada siapa dia akan mengatakan maslaahnya.  Lagi pula tidak ada yang perlu diragukan tentang Cazim.  Dia orang baik.”


“Orang baik nggak mungkin takut masa lalu atau pun urusan keluarganya dibcarakan pada orang lain. Ini kesannya menutup- nutupi.”

__ADS_1


“Intinya, Cazim itu sebenarnya ada masalah keluarga.  Itu saja.”


“Hei, aku tahu dia punya senjata api.  Dia bersikap sok alim tapi sebenarnya preman. Dia menutupi semua kebobrokannya dari semua orang.  Kamu pikir aku bodoh?  Aku tahu semua itu karena mataku terbuka.  Hanya saja, aku belum bisa menguak apa yang sebenarnya sudah disembunyikan oleh Cazim.  Jadi kamu nggak mau bicara nih?”


“Maaf.  aku tidak berani.”


“Huh, pengecut!  Kamu ingkar janji sama aku.”


“Itu janjiku dulu pas kamu belum menikah.  Kalau sudah menikah dengan Cazim begini, mana berani aku bicara.”


Chesy menoyong kepala Alando, geram.  Untung saja badannya bulat. Kalau lonjong pasti sudah diulek.


“Aku sarankan, kamu jangan terlalu mencari tahu tentang dia,” ucap Alando sedikit bingung.


“Nah, ini nih.  Dengan kamu bilang begini, sama aja kamu sedang memberi sinyal bahwa suamiku itu memang penjahat.”


“Bukan begitu maksudku.  Kamu kan tahu sendiri kalau Cazim paling marah saat segala informasi tentangnya terus- terusan dikoreksi.  Menurutku bukan karena dia memiliki rahasia yang disembunyikan, tapi karena dia tidak suka dimata- matai.  Jangankan dia, kau sendiri pun pasti akan sangat marah saat dimata- matai orang lain.  Semua informasimu dikuliti seakan- akan kamu itu penjahat.”


“Yaa.. kan memang penjahat.  Kalau nggak ada gerak- gerik mencurigakan, mana mungkin aku terus memantau soal ini. Ah, udahlah.  Kalau kamu nggak bisa kasih info apa- apa tentang Cazim, kita nggak perlu bicara lagi!”  Chesy melangkah pergi.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2