Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Malam Pertama


__ADS_3

Jangan memberikan keraguan pada kebahagiaan yang ada dengan memikirkan apakah Cazim tulus atau tidak. Itulah yang ada di pikiran Chesy. Setidaknya suaminya sudah memberikan yang terbaik. Didasari Cinta atau pun tidak, perlakuan Cazim adalah yang terbaik. Inilah cara suami memuliakan istri. Tidak perlu meragukannya. Cazim mungkin sedang berusaha, atau sedang memulai, atau bahkan malah sudah mencintai Chesy. Entahlah.


Setelah makan di kafe, mereka pulang dan sampai di rumah pukul sebelas lewat malam hari.


Rumah sepi sekali ketika mereka sampai rumah. Yunus pasti sudah tidur.


"Ini martabaknya taruh mana ya?" Chesy meletakkan plastik berisi kotak ke meja. Tak lain oleh-oleh untuk Yunus yang tadi dibelikan oleh Cazim di jalan. "Apa di sini aja? Besok pagi biar dimakan sama abi."


"Kemungkinan tidak enak lagi jika dimakan esok hari. Karena teksturnya sudah berubah dan juga tidak hangat lagi. Kau makan saja kalau mau!" Cazim menyahuti.


"Aku kenyang. Ya udah deh biar di sini aja dulu." Chesy masuk kamar disusul oleh Cazim.


Baru saja Chesy berjalan tiga langkah melewati pintu kamar, tiba-tiba ia merasakan perutnya dilingkari lengan kokoh dari belakang.


Tubuh Chesy membeku di tempat. Apa ini? Pelukan itu terasa berbeda, lebih terkesan memburu dan elusannya liar.

__ADS_1


Chesy hanya bisa gigit bibir bawah dan memejamkan mata beberapa detik saja saat kemudian Cazim memutar balik badan Chesy hingga mereka kini berhadapan.


Chesy melihat tatapan berbeda di mata suaminya, tatapan yang memburu. Pria itu mendekatkan tubuhnya hingga pepet maksimal.


Ternyata Cazim berbeda saat menginginkan, terlihat lebih ganas.


Pelukan erat kembali dirasakan oleh Chesy, kali ini dari depan. Lalu.... Entahlah... Chesy pun tidak mau menolak, karena memang ini adalah puncak kebahagiaan sebagai suami istri. Dimana Chesy pertama kalinya melepaskan jilbab untuk sang suami, juga melepas pakaian untuk suaminya itu. Keduanya terlihat saling melengkapi. Memberikan peraduan indah satu sama lain.


Cazim memulai dengan sedikit terburu-buru hingga Chesy mesti menahan rasa sakit dan beberapa kali menjerit kecil atas pertama kalinya kegiatan itu berlangsung.


Bahkan Chesy pun tak bisa menolak saat Cazim mau dan mau lagi untuk ke sekian kalinya. Selain tak mau menolak, ia juga menyukai kegagahan dan cara Cazim memperlakukannya.


Apa lagi Cazim beberapa kali membisikkan kata, "Aku menyayangimu."


Malam itu, mereka benar- benar menghabiskan waktu untuk bertukar peran. Dan mungkin bila dihitung, jam tidur mereka hanya satu jam saja.

__ADS_1


Sungguh dahsyat malam itu.


"Ayo, mandi!" ajak Cazim.


Chesy meringis menahan sesuatu saat menggerakkan badannya di kasur.


"Kenapa?" tanya Cazim.


Ah, kenapa pertanyaannya sebodoh itu? Setidaknya ia ingat apa yang telah terjadi tadi malam. Apakah ia terlalu ganas hingga Chesy sampai merasa ngilu begitu? Cazim kemudian tersenyum singkat, memang ia begitu berkeinginan dan menggebu- gebu tadi. Lalu kenapa ia mesti mempertanyakan itu?


"Baiklah, ayo aku bantu! Kau harus mandi sebelum waktu subuh habis." Cazim menggendong tubuh Chesy ke kamar mandi, membuat wanita itu menjerit kecil dan menenggelamkan wajahnya di dada polos sang suami.


Bersambung ...


Maaf up cuma pendek, butuh asupan koin atau poin. 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2