Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Chesy meraih pundak Cazim dan berusaha membantu untuk mengeluarkan pria itu dari jepitan, namun ia yakin usahanya sia- sia belaka.


"Senja, kursimu bisa dimundurkan. Kamu bisa keluar!" ucap Chesy. Ia kemudian menahan dashboard yang menjepit perut Senja. Sementara Senja memundurkan kursi.


Area duduknya pun kini longgar. Ia berhasil terlepas dari jepitan.


"Kemarilah!" Chesy merebahkan kursi yang diduduki Senja, mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.


Senja menatap Cazim. "Tapi bagaimana dengan Cazim?"


"Posisimu lebih mudah untuk keluar lebih awal. maka cepat keluar!"


Krek! Batang penahan itu kembali berderak, mobil pun terayun turun beberapa centi.


"Aaaaaaa...." Senja menjerit ketakutan.


"Cepat, waktu kita nggak banyak. Beban mobil ini akan berkurang saat penghuninya keluar satu demi satu," titah Chesy.


Senja mengangguk. Ia bergerak dengan hati- hati. Chesy meraih tangan Senja, menariknya pelan supaya keluar dari bagian kursi depan dan membantu gadis itu keluar melalui pintu samping Chesy.

__ADS_1


Dengan sangat hati- hati, bahkan kaki yang gemetaran, Senja menapakkan kakinya ke tanah, sisi jurang. Mobil di posisi sedikit menggantung, tiga puluh centi di atas tanah.


Senja menangis menatap posisi mobil yang mengerikan. Ia ambruk ke tanah, tak bisa berbuat apa- apa. Kakinya sakit dan tidak bisa berdiri lagi. Ia ngesot untuk memposisikan tubuhnya berada di tempat yang agak aman, sedikit menjauh dari bibir jurang.


Sebuah pohon yang tak begitu besar menjadi penahan mobil, pohon itu di posisi tumbang akibat tertabrak mobil.


Tepat di bawah mobil, batang pohon itu patah, namun bagian ujung ranting yang patah itu belum terlepas dari pangkalnya. Jika saja batang itu patah, maka mobil pasti meluncur bebas ke jurang.


Posisi mobil membuat Senja tak henti menangis saat menyaksikannya.


"Ponsel. Mana ponsel. Aku harus mencari bantuan!" Senja mencari ponsel di sakunya. Namun tidak ada. Ponselnya tertinggal di mobil.


"Ya Tuhan!" Senja menangis histeris, frustasi.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Cazim menatap Chesy dengan mulut yang masih meringis menahan sakit. Keringat di wajahnya membanjir. Napasnya terengah. Urat rahangnya mengeras. "Cepat keluar!"


"Aku akan mengeluarkan mu dari sini. Mas Cazim, bertahanlah!"


"Jangan gila! Mobil ini akan jatuh sebentar lagi. Kau bisa mati."

__ADS_1


"Aku akan ambil dongkrak." Chesy bergerak pelan ke belakang dan mengambil besi panjang itu. Ia paham sekali benda apa saja yang ditaruh di dalam mobil milik ayahnya itu.


Chesy kembali mengarahkan badannya mendekati Cazim.


"Mundur sedikit!" titah Chesy.


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Menyelamatkanmu!"


Cazim menatap mata bulat istrinya.


"Jangan bengong! Senderkan badanmu ke kursi!" titah Chesy cepat. "Kita nggak punya waktu lama."


Cazim pun mengikuti kemauan Chesy.


Wanita itu memajukan badan, miring ke arah pintu samping Cazim. Ia menekan benda yang dapat membuat senderan kursi Cazim menjadi rebah. Lalu memundurkan kursi tersebut supaya bergerak ke belakang. Namun kursi baru bergerak sedikit saja, kursi tersebut sudah terhenti, ada yang nyangkut dan membuat gerakan kursi tak bisa mundur.


Andai saja dalam keadaan normal, seharusnya Chesy menikmati situasi dimana wajah mereka berada sangat dekat sekali. Embusan napas bertukar, dada Cazim berada tepat di leher Chesy.

__ADS_1


Bersambung


Ekstrim banget ya 🥴


__ADS_2