
"Chesy!" lirih suara Yunus dengan jarinya yang bergerak- gerak.
"Ya, Abi? Aku di sini. Aku di sini, Abi. Abi mau apa? Butuh apa?" Chesy mendekati Yunus dengan mata berembun. Melihat Yunus yang sudah mulai membaik, Chesy terharu. Air matanya merembes cepat sekali.
Yunus terbatuk kecil.
"Ini minum, abi!" Chesy mengambilkan air minum di botol yang ada selangnya.
Dengan sedikit mengangkat kepala, Yunus pun menyedot air mineral melalui selang.
"Chesy, kamu bagaimana kabarnya?"
"Udah, abi. Jangan bicara dulu. Jangan ngapa- ngapain. Abi istirahat aja. Abi jangan banyak ngomong dulu. Fokus sama kesehatan abi."
Yunus tersenyum kecil. "Nggak apa- apa, Chesy. Abi sudah mulai enakan."
__ADS_1
"Beneran, abi?"
Yunus tersenyum saja dan mengedipkan mata sebagai isyarat anggukan kepala.
"Alhamdulillah. Syukurlah, abi." Chesy lega. Ia mencium punggung tangan abinya.
"Badan abi rasanya remuk sekali. Ini ngilu dan nyeri, tapi abi sudah bisa bernapas lega. Abi sudah bisa melek dan sadar sepenuhnya. Dan satu lagi ... Kamu akhirnya menikah dengan Cazim. Ini harapan abi selama ini, supaya kamu bisa dibimbing, dituntun dan diajak olehnya." Suara Yunus terdengar lemah sekali, sedikit bergetar.
"Abi, berhenti dulu ngomongin itu. Aku mau tanya sama abi, sebenarnya apa yang terjadi sama abi? Apa benar abi ditabrak sama Maz Cazim? Sampai akhirnya abi jadi kayak gini?"
"Mas Cazim udah nabrak abi, tapi kenapa abi malah suruh orang yang udah mencelakai abi untuk menikahiku?" Suara Chesy tercekat, rasa bencinya terhadap Cazim makin memuncak.
"Ini murni kecelakaan. Mana mungkin Cazim sengaja menabrak abi. Abi pun kurang tahu kejadian yang sebenarnya karena waktu itu abi berjalan kaki di pinggir jalan sambil lihat hape, baru saja abi keluar dari halaman rumah. Tapi tiba- tiba dari arah depan motor Cazim melaju kencang dan menabrak abi."
"Ya ampun abi, untungnya abi masih bisa melek lagi. Betapa berunyungnya Cazim, dia menjadi pelaku dan malah mendapatkak durian runtuh dengan menikahi pitri dari korban. Nggak ada tuntutan apa pun untuknya. Seharusnya dia ...."
__ADS_1
"Chesy, berhentilah terus- terusan memaki dia. Ini kecelakaan. Bukan disengaja. Abi memintamu menikah dengannya disaat abi dalam keadaan kritis karena abi takut saat abi tidak ada, kamu salah pilih lelaki. Seumur hidup itu lama sekali. Kamu harus mendapatkan suami yang baik, supaya abi tenang melepasmu. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, Tuhan masih kasih kesempatan pada abi untuk bernapas."
"Kalau begitu, aku boleh mengajukan pisah dari Mas Cazim?"
"Chesy?" Yunus menatap Chesy dengan ekspresi terkejut. Bahkan dalam kondisi lemah itu, matanya membelalak lebar. "Tidak ada yang membenarkan permintaan cerai dari seorang istri kepada suami tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat. Sudah, jangan lagi katakan hal itu. Pantang wanita mengatakan itu. Bercerai adalah sesuatu yang dibenci Allah meski itu dibolehkan, sebisa mungkin harus dihindari. Lambat laun kamu akan mengerti maksud abi. Sudahlah, abi mau istirahat."
Chesy terdiam seribu bahasa. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan selain pasrah, membiarkan kemana nasib akan membawa kehidupannya dimasa mendatang.
Betapa enaknya Cazim, sudah melakukan kesalahan besar dengan mencelakai Yunus, tapi malah diberikan kehidupan nikmat dengan mendapatkan putri seorang ustad besar. Ditambah tanpa tuntutan apa pun. Betapa Chesy merasa mendendam.
"Aku nggak ikhlas dibikin begini," bisik Chesy lirih.
***
Bersambung
__ADS_1