Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kesal


__ADS_3

"Si pendosa berpikir apakah ini peringatan Tuhan agar dia segera bertobat? Pikiran itu sebenarnya selalu datang disaat musibah menimpanya, namun selalu ditepis olehnya. Dia lalu meninggalkan jasad anaknya. Ketika dia sedang beristirahat, tiba-tiba serombongan pasukan kerajaan melintas. Mereka mencari seorang pembunuh. Begitu melihat dirinya memegang busur berlumuran darah, mereka pun menangkapnya karena mengira dia adalah buronan. Kedua tangan dan kakinya dipotong.


Tragedi terakhir ini membuat ia yakin harus bertobat. Dengan kedua kaki dan tangan yang buntung, ia menghadap Ibrahim dan bertanya apakah jika sekarang dia bertobat, masihkah Tuhan menerima tobatnya? Lalu Tuhan memberi wahyu bahwa sepanjang hidup si lelaki pendosa itu, Tuhan selalu menyayanginya. Berbagai tragedi yang menimpa dirinya adalah wujud kasih sayang Tuhan. Harta bendanya diambil karena dia tidak pernah bersedekah. Anak dan istrinya diambil karena mereka tak pernah dididik agama. Tangan dan kakinya diambil karena selalu digunakan untuk maksiat.


Semua yang diambil Allah itu kini tengah menunggu, asalkan dia tidak terlambat bertobat. Ibrahim mengatakan bahwa pintu tobat Tuhan selalu terbuka, asalkan tidak terlambat. Sang pendosa pun menangis. Ia beristighfar dan bertobat, sejenak kemudian dia mati di pangkuan Ibrahim."


Chesy menatap mata biru Cazim. "Cerita itu banyak hikmahnya. Tapi apa yang bisa kuambil untuk perbaikan akhlak?"


"Justru jauh lebih besar dari sekedar urusan akhlak, pendosa besar sepertinya sanggup memperbaiki hidupnya untuk satu keyakinan bahwa taubat itu harus. Apakah menurutmu setelah mendengar kisah itu, hatimu tidak tertarik untuk menjadi lebih baik? Meski sekedar ingin mengubah tabiat." Cazim menurunkan kakinya ke lantai.


Chesy hanya menatap mata biru itu tanpa menjawab apa pun. Lidahnya terasa kaku untuk bicara pada si mata biru yang menyebalkan itu. Bahkan dalam kondisi bertukar pandang begini, rasanya Chesy seperti disengat dari jarak jauh sampai darahnya jadi mendesir hebat. Cepat ia mengalihkan pandangan. Netranya tertuju ke ubi goreng. Tangannya menjulur hendak mengambil ubi tersebut.


Plak!


Tangan Chesy ditepuk hingga ubi yang sudah terjangkau oleh tangannya pun terjatuh kembali ke piring.

__ADS_1


Chesy mengangkat wajah dan menatap kesal ke arah Cazim. Giginya menggemeletuk.


"Ini yang dinamakan adab. Adab bertamu bukanlah mengambil makanan pemilik rumah sembarangan, apa lagi pemilik rumah belum mempersilakan. Bisa jadi haram kalau tidak diijinkan karena sama seperti pencuri."


Diih... Manusia satu ini kelewatan! Huuuuh... Rasanya ingin membejek- bejek muka Cazim. Bisa jantungan kalau begini caranya.


"Pergilah ke belakang untuk mencuci piring!" titah Cazim.


"Loh, aku di sini belajar ya, bukan untuk jadi pembantu."


"Hei, kamu nggak bisa memanfaatkan aku."


"Sejak awal kamu tahu aku memanfaatkan mu bukan?"


"Maumu apa sekarang?" kesal Chesy.

__ADS_1


"Kau tidak mau abimu mendengar kabar kalau kau tidak patuh pada gurumu kan? kalau begitu cepat kerjakan perintah gurumu!"


"Benar- benar nggak masuk akal!" Chesy melangkah ke dapur dengan ekspresi sengit.


Ingin sekali Chesy mencakar muka Cazim. Tapi sabar, Chesy. Sabar! Semuanya akan indah pada waktunya. Lelaki semena- mena itu akan mendapat balasan setimpal.


Chesy terbelalak menatap setumpuk piring di baskom. Segini banyaknya? Bukankah mereka hanya berdua saja? Kenapa piring kotor bisa sampai delapan buah begini? Berapa lama mereka tidak mencuci piring? Cazim benar- benar sudah mengerjai Chesy.


Bersambung ...


Klik like yah...


.


.

__ADS_1


__ADS_2