Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Emosi


__ADS_3

“Cazim, Chesy, abi membuat acara ini bukan dengan niat yang menyimpang.  Semua ada dasarnya,” ucap Yunus dengan senyum yang tak pernah memudar.  “Ini bukan acara untuk buang duit.  Rejeki abi ada.  Kalau hanya untuk acara syukuran, Alhamdulillah uangnya lebih."


Chesy masih berpikir keras untuk mencari kata kata supaya bisa menolak ide ayahnya, tapi apa? Itaknya buntu. Giliran pas begini dia malah lemot sekali. Kepalanya makin pusing.


  "Ini bukan tidak bermanfaat, justru ini sangat bermanfaat," imbuh Yunus bersemangat dan tatapan berapi- api.  "Akad nikah itu disunnahkan untuk diumumkan kepada publik, jangan dirahasiakan.  Umumkan lah pernikahan!  Itu perintahnya.  Hikmah dari acara syukuran untuk mengumumkan pernikahan kalian adalah supaya kalian bebas dari tuduhan zina atau pun tuduhan- tuduhan fitnah yang keji lainnya, intinya ini hanya bagian dari bentuk mengumumkan dengan menyelenggarakan acara walimah.  Ini malahan sebagian ulama menyebutkan sesuatu yang fardhu.  Jadi tidak ada kesalahan dalam hal walimah.”


Orang tua dilawan?  Mana bisa.  Cazim kehabisan akal untuk membantah.  Ia sebenarnya bisa saja mengeluarkan pendapat untuk membantah, tapi keinginan Yunus sudah kuat dan sulit dipatahkan.  Jika Cazim mematahkannya, pasti Yunus hanya akan menelan kekecewaan.


“Sst… Ngomong dong.  Cepetan dibantah.  Kamu nggak mau kan semua orang tahu kalau kamu punya istri imut kayak aku?” bisik Chesy yang berharap Cazim akan mengeluarkan dalil atau apa pun untuk membantah Yunus.


Cazim diam saja.  tetap tenang tanpa membalas perkataan Chesy.


“Ya sudah, abi akan persiapkan semuanya.  Kalian tenang saja.  kalian terima beres.”  Yunus tampak sangat bergembira.  “Oh ya Cazim, apakah orang tuamu bisa dihadirkan dalam acara itu?  sepertinya ini waktu yang tepat untuk abi mengenal orang tuamu.”

__ADS_1


“Dalam waktu dua bulan ke depan, belum bisa, abi.”


“Kalau begitu abi minta nomer hape- nya saja, bisa?  Biar abi bisa berkomunikasi dan minta ijin untuk membuat acara pernikahanmu ini dengan putrinya abi.”


Cazim tersenyum.  “Ayahku sedang menjalani perawatan di luar kota, jadi lebih baik ayah tidak diganggu dulu.  Abi sabar ya, nanti pasti akan aku perkenalkan abi dengan ayahku.”


“Oh ya sudah. abi ikut kamu saja.  kamu pasti tahu mana yang jauh lebih baik.  Sekarang abi masuk kamar duluan.  Capek!”  Yunus meninggalkan ruang tamu.


Alis Cazim terangkat.


"Sesantai ini? Hei, kamu nggak mau kan kalau seluruh manusia melihatmu punya istri sepertiku? Lakukanlah sesuatu!" kesal Chesy.


"Kau dengar tadi aku juga sudah membantah, tapi abi sudah memiliki keputusan bulat."

__ADS_1


"Kamu bisa lebih keras lagi untuk menolak dengan alasan bahwa ayah dan ibumu saja belum bisa hadir kemari, bagaimana kamu bisa mengadakan pesta disaat orang tuamu nggak hadir?"


Cazim diam saja. Entah apa yang ada di pikiran pria itu.


Melihat Cazim yang malah diam saja, Chesy makin muak sekali. Bermesraan dengan Cazim di depan umum adalah sebuah petaka besar baginya. Dan ia sangat tidak mengharapkannya.


"Jangan hidupmu cuma jadi parasit! Semuanya kamu gantungkan pada abi! Bahkan walimah dan segalanya, abi yang lakukan. kelihatan sekali kamu sedang memanfaatkan abi!" Chesy memukul meja keras. Brak.


Wanita itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Cazim yang wajahnya berubah merah padam. Pria itu ingin membalas perkataan Chesy, namun urung. Setidaknya ia ingat bahwa saat ini ia sedang berada di rumah mertuanya.


Bersambung


Duh, Chesy kelewatan kamu! 😂😂😸

__ADS_1


__ADS_2