
Dengan kaki yang pincang yang terpaksa ia seret, Akram mulai bergerak menuju ke perempatan jalan raya.
Niat hati ingin berkeliling menemui satu persatu pengendara namun ketika merasakan perjuangannya dalam setiap langkah mengalami rasa sakit yang luar biasa pada sekujur tubuh terutama pada kaki kirinya membuat Akram terpaksa duduk di trotoar berjarak satu meter dari lampu merah.
'Semoga banyak orang yang mau memberiku uang,' ucap doa Akram dalam hati penuh harap.
Memandangi para pengendara yang berhenti tepat di hadapannya dari ujung depan hingga ujung belakang dengan tatapan sendu, ia benar-benar berharap mereka mau memberinya uang.
'Ayolah beri aku uang, aku sudah merendahkan harga diriku sebagai seorang laki-laki sejati. Kumohon,' ucap Akram dalam hati sembari terus memandangi ke arah seluruh pengendara.
Tak setelah dirinya berucap, tiba-tiba saja ada seorang pengendara mobil melempar selembar uang ke arahnya dan di saat yang bersamaan lampu merah itu berganti warna sehingga mobil tersebut langsung melaju kencang.
Melihat uang pertamanya sebagai seorang pengemis baro sontak Akram langsung berdiri mengejar uang yang melayang hampir kembali ke jalanan tak peduli dengan rasa sakit pada kaki kirinya.
"Arghhh," rintih Akram secara bersamaan tangannya berhasil meraih selembar uang tersebut.
Tinnnnnn.
Bunyi klakson seketika berbunyi dengan sangat kencang menembus gendang telinga Akram sampai berdengung sakit, terkejut dengan suara tersebut Akram langsung berjingkat ke belakang lalu terjatuh tepat di posisi duduknya semula.
"Arghhh," rintih Akram untuk yang kesekian kalinya.
Kali ini ia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada pantat dan kakinya yang langsung bertubrukan langsung dengan paving trotoar tersebut.
Sesat setelah dirinya berhasil menepi tak disangka satu mobil melesat dengan tancapan gas yang terasa di buat-buat mengeram seakan menunjukkan kekesalannya.
"Sialan, hampir saja kau buat aku mati. Awas saja aku akan buat perhitungan padamu," geram Akram sembari menatap tajam ke arah punggung mobil tersebut.
Beberapa pengendara lainnya terlihat tengah memandanginya dengan tatapan lain, entah karena ia adalah seorang pengemis atau karena ia berhasil selamat dari maut demi mengambil uang yang tak seberapa.
Apapun itu Akram tak peduli, baginya sudah cukup dua hari menjadi seorang gelandang menahan lapar di setiap waktu yang terasa begitu menyiksa diri.
Hari itu matahari semakin terik, lama-lama berada di bawah atap dunia ini terasa membakar kulit sementara uang yang ia dapatkan masih tak seberapa rasanya tak mungkin untuk membeli nasi dan lauk apalagi air minum rasanya Akram ingin menyerah.
"Ya Tuhan, tolong kali ini saja kabulkan doa buronan sepertiku Tuhan aku minta uang buat makan Tuhan sudah itu saja," ucap Akram lirih sembari menatap langit cerah singa hari itu.
Sepeti Tuhan tengah menjawab doanya, tak lama terlihat dari arah selatan segerombolan anak muda berjalan ke arahnya dengan membawa kamera bak vloger-vloger ternama.
Dengan wajah yang masih tertutup sempurna dengan mengenakan masker dan kupluk jaket yang lusuh, Akram percaya diri tak merasa ketakutan dengan kamera.
"Kali ini Tuhan menjawab doa ku, tadi juga sih cuma kali ini sepertinya lebih banyak," gumam Akram dengan mata berbinar-binar.
Tibalah sekelompok anak muda tersebut di hadapan Akram, mereka nampak kompak menertawakan kondisi Akram sekarang terlihat dari gelagat mereka yang begitu menyebalkan.
"Hahaha, lihat wajahnya sudah seperti kumbang di film kartun itu kamu ingat nggak. Jelek bonyok-bonyok ih itu tangan dan kakinya juga," ucap salah satu wanita berbisik lirih pada teman laki-laki yang lain.
__ADS_1
"Wajahnya cuma kening sama hidung saja itu, mana kamu tahu kalau seluruh wajahnya babak belur," sahut si laki-laki.
"Ah tahu aku meskipun nggak di buka maskernya," ucap si wanita kekeh dengan anggapannya.
Meski mereka berbisik akan tetapi Akram mampu mendengar semua yang meraka katakan, seketika darahnya mendidih ia tak pernah ditertawakan orang lain seumur hidupnya namun ketika sekalinya di tertawakan ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sial memang sial, tapi ia harus bisa mengontrol emosinya mengingat yang ia butuhkan sekarang adalah uang mereka juga.
Perlahan Akram mulai menarik nafas panjang di tengah tawa anak-anak muda minim akhlak itu.
'Aku harus sabar, sedikit saja bersabar setelah itu baru aku balasan dendam ku satu persatu,' ucap Akram dalam hati.
"Halo Kak, lagi mengemis ya?" tanya wanita itu dengan beraninya.
Seketika terasa tombak menghunus jantung dengan sangat dalam, rasa sakit hati yang Akram rasakan saat ini bukan main rasanya.
"Iya," jawab Akram singkat dengan nada berat.
"Masih muda kok sudah mengemis Kak, by the way kamu itu mengemis sudah dari lahir atau baru-baru ini?" tanya wanita itu perlahan mendekati Akram lalu mencondongkan tubuhnya pula ke arah Akram.
Lagi-lagi ucapan wanita itu berhasil melukai hatinya, namun lagi-lagi pula Akram terus berusaha untuk tidak membalas segala ucapannya.
"Sudah dari kecil," jawab Akram ketus.
"Oh dari kecil, jadi sudah setelan awalnya sudah begini," ledek si laki-laki yang berdiri di samping wanita itu.
"Nah, bagus. Pasti Kakak nya butuh uang kan. Kita kesini itu mau bagi-bagi ke semua pengemis yang ada di kota ini termasuk ke kamu, tapi ketika kita kasih uang kamu harus bicara ke kamera berterimakasih sama kita kalau bisa sampai menangis terharu begitu," jelas seorang laki-laki yang terlihat seperti pengendali chanel sekelompoknya.
'Sudah ku duga mereka mau buat konten dari bagi-bagi ke pengemis, tali terserah lah yang penting aku dapat yang,' ucap Akram dalam hati.
"Tapi Kak maskernya di lepas ya biar kelihatan di kamera," pinta wanita menyebalkan itu.
Mendengar permintaan wanita itu yang mulai mengusik keamanannya tak membuat Akram gusar atau bahkan panik, ia tetap menunjukkan sikap santai.
"Bukannya saya nggak mau buka, tapi saya ada penyakit menular dari pembusukan mulut. Tapi kalau kalian memaksa ya sudah saya buka juga nggak papa," ujar Akram mulai menarik tali masker yang terikat di telinganya.
"Jangan!" teriak histeris semua sembari memberi kode pada Akram untuk tidak membuka maskernya.
Melihat reaksi mereka yang sangat panik, seketika Akram tertawa lirih, merasa dugaannya tepat bahwa mereka akan ketakutan ketika ia menyebut penyakit menular.
"Jangan Kak, jangan sudah begitu saja nggak usah di buka nggak papa," ucap wanita itu dengan gemetar ketakutan.
Saat itu juga semua langsung memberi jarak pada Akram, seorang laki-laki yang memegang kendali semula berada dekat di hadapan Akram saja kini langsung menjauh.
"Sudah, kita langsung mulai saja," pinta si laki-laki.
__ADS_1
Tak lama akhirnya pembuatan video pun di mulai, seorang wanita yang berlagak seperti relawan berjalan ke arah Akram dengan berbagai pembicaraan awal ddi hadapan kamera yang ada di sekelilingnya.
Dengan segala drama yang ada akhirnya Akram menerima uang dengan jumlah yang fantastis, saat itu Akram melongo seakan tak percaya dengan uang yang diterimanya. Lagi-lagi di saat-saat seperti ini ia mengingat Tuhan sebagai pemberi pertolongan, di dalam hati tak henti-hentinya mengucap syukur pada sang pencipta.
Di sela-sela pembicaraan antara ia dengan wanita itu di depan kamera, Akram kembali terpikirkan untuk rencana penggunaan uang tersebut agar dirinya tak lagi menjadi seorang pengemis.
Beberapa lama kemudian akhirnya pembuatan video selesai, namun tiba-tiba ketika seluruh kamera off secara mengejutkan wanita itu mengambil paksa uang yang sudah ada di tangan Akram.
Dengan secepat kilat yang itu berpindah tangan, Akram lagi-lagi melongo tak tahu permainan apa lagi yang dimainkan mereka.
"Sudah ya Kak, terimakasih," ucap wanita itu beserta rombongannya bergegas meninggalkan Akram.
Sontak Akram terkejut setengah mati mendengar ucapan wanita itu yang seakan terlihat seperti tak punya dosa.
Melihat hal itu tentu Akram tak terima, dengan sekuat tenaga ia mengejar mereka dengan kaki terseret-seret disaksikan para pengendara di jalanan.
"Hey, kenapa uangnya kalian ambil lagi bukannya itu untukku?" tanya Akram sembari mengerutkan keningnya dengan sangat tajam.
Ia masih tak mengerti dengan para konten kreator muda yang mengambil konsep peduli sesama namun caranya masih membingungkan untuk ia cerna sekarang ini.
Seketika mereka langsung menoleh ke belakang, menatap ke arah Akram lalu kompak tersenyum hingga semakin lama senyuman itu berubah menjadi tawa ledekan.
"Enak saja mau dapat uang, kalau mau uang itu kerja Kak jangan mengemis," jawab wanita di akhiri dengan juluran lidah.
"Hahahaha," rasa bersambut setelah jawaban si wanita itu keluar untuk meledek Akram.
Sontak darah Akram terasa kembali mendidih dengan degup jantung yang terasa semakin tak karuan di tambah rasa sesak di dada yang makin lama semakin membuatnya kesulitan bernafas. Kali ini ia tak bisa menahan amarahnya.
"Dasar kambing," umpat Akram dengan keras dan kesal.
Tapi bukannya ikut kesal mereka justru terus tertawa, menertawakan sembari kembali melanjutkan langkah kaki menuju mobil mereka yang terparkir di dekat lampu merah sebelah selatan.
Ingin hati mengejar mereka lalu memukuli satu persatu tapi apalah daya ia tak sanggup mengerakkan kakinya, jangan kan untuk berlari mengejar mereka untuk mengimbangi langah mereka saja ia kalah.
Terpaksa rela tak rela ia harus rela, tak bohong jika tak marah dengan perbuatan mereka semua.
"Memang dasar orang bodoh, konten berbagi tapi nggak punya modal. Punya sih modal, modal bohong," gerutu Akram sembari menggerakkan kedua kakinya kembali ke tempat dirinya mengemis.
"Kalau saja aku masih jadi Akram yang dulu sudah ku habisi satu persatu," gerutu Akram lirih.
Meski dalam kondisinya yang sudah berubah dengan menjadi seorang pengemis lantas tak merubah watak asli seorang Akram, meski sedikit-sedikit ada perubahan dalam mengontrol emosi.
Di tempat yang sama Akram kembali mengumpulkan kekuatannya di bawah matahari terik ini untuk menjemput rezeki dari para manusia-manusia berhati baik di jalanan.
Ia masih mengharapakan belas kasihan dari pengendara dan orang-orang yang memang memberinya uang meski nominalnya kecil ketimbang konten kreator tadi.
__ADS_1
"Hey, kenapa kau mengemis di situ?" teriak seorang laki-laki bertubuh atletis dengan mengenakan seragam khusus menunjuk ke arah Akram dari sebrang jalan.
Bersambung