Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Intel Dadakan


__ADS_3

"Minumlah!" Sarah meletakkan segelas minuman ke meja, menyuguhkannya untuk Senja. 


Seperti yang direncanakan, Senja dibawa ke rumah buleknya Sarah, ditampung di sana. 


Mereka tengah duduk di ruang tamu. 


Sengaja Chesy bersikap ramah untuk mengambil simpati Senja, setidaknya supaya bisa cepat akrab dan mendapatkan banyak informasi dari gadis itu.


"Makasih!" Senja meneguk minuman dingin itu. 


Tak lama kemudian buleknya Sarah muncul, wanita paruh baya itu dengan sangat ramah mempersilakan supaya Sarah tidak perlu merasa sungkan dan menganggap rumah itu sebagai rumah sendiri. Gayanya yang bersahaja dengan logat Jawa kental membuat tamu tidak lagi merasa sungkan.


"Pokoknya santai saja, kalau di sini jangan pernah merasa kaku. Ya sudah, dilanjut ngobrolnya." Begitulah gaya bicara buleknya Sarah yang kuno dan jadul. Ia berlalu ke dapur.


"Tuh, buleknya Sarah baik banget. Jadi santai aja selagi di sini," ucap Chesy berusaha mengakrabkan diri. "Kalau ada apa- apa, butuh apa pun, kamu bisa langsung minta bantuan ke aku. Aku siap bantuin kamu."


"Senang sekali bisa bertemu denganmu, semua masalahku rasanya jadi terbantu."


"Santai aja. Aku seneng bisa bantuin kamu. Jadi,  sebenarnya kamu tuh asalnya dari mana?" Chesy memulai interogasinya.


"Aku dari... Dari Bandung," jawab Senja agak ragu.


"Bandungnya dimana? Soalnya saudaraku juga ada yang di Bandung."


"Di Cidadap."


"Oh, deketan itu sama rumah bibikku. Memangnya ada urusan apa kamu menemui Cazim?"


"Mm... Yaa... Urusan penting soal kerjaan."

__ADS_1


"Oh.. kalian satu tim kerja? Kerja apa? Selama ini nggak pernah ketemu ya kan? Kerja jarak jauh kali ya?"


"Cazim itu kan jadi editor aplikasi milik ayahku, dia editor andalan. Jadi aku perlu bicara banyak hal sama dia mengenai masa depan aplikasi kami ini."


"Oh.. begitu. Keren ya bisa punya aplikasi begitu. Aku lihat atm milikmu juga dipegang sama Cazim, segitu dekatnya kalian ya sampai Cazim dikasih fasilitas kartu debet. Mantap!"


"Loh, kamu tau kalau atm ku sama Cazim?"


"Apa sih yang nggak aku tau dari dia? Semua aku tahu. Kami kan tetanggaan. Aku juga orangnya fleksibel, gampang akrab sama siapa aja." Chesy sok kenal dekat.


"Ya, aku juga melihat begitu."


"Kayaknya Cazim lagi dekat sama cewek," pancing Chesy.


"Dekat sama cewek? Orang sini?" Paras wajah Senja serius, juga sedikit tegang.


"Bukan orang sini. Dia sih seringnya nyebut nama Senja. Rupanya kamu orangnya. He heee..."


"Banyak. Katanya kamu tuh cekatan dalam hal apa pun."


"Setahuku Cazim nggak pernah mau bercerita tentang wanita. Dia cenderung tertutup."


"Nah, soal kamu, dia mau cerita. Berarti ada sesuatu nih."


Senja mengulum senyum. "Ya ampun, beneran?"


"Sedekat apa sih kamu sama dia?"


"Dekat. Kami temenan. Sahabatan. Dia itu orangnya setia kawan, mudah berkorban dan baik pokoknya. Meskipun masa lalunya suram."

__ADS_1


"Masa lalu?"


"Aku berusaha untuk tetap menjadi teman, sahabat dan pendukung baginya meski dia terlibat kasus besar."


Chesy menelan, mulai tegang. Inilah yang ingin dia dengarkan sejak awal.  Kasus apa yang sebenarnya telah menimpa Cazim.


"Aku tetap support dan dukung dia meski dia terpuruk dalam skandal besar. Aku nggak meninggalkan dia," imbuh Senja.


"Skandal apa?"


"Mm... Sepertinya aku sudah terlalu jauh." Senja mengusap wajah setelah sadar sudah kebablasan mengobrol tentang Cazim.


"Santai aja. Aku orangnya amanah kok, nggak akan ember kemana- mana. Mulutku bisa dijaga," ucap Chesy penasaran.


"Aku nggak bisa cerita banyak. Tapi intinya, Cazim itu sedang dicari ayahnya. Dia diminta untuk pulang."


"Kenapa Cazim mesti meninggalkan ayahnya dan tinggal di sini?" 


"Ada masalah di keluarganya. Sudahlah, kupikir kita nggak perlu membahas ini."


Waduh, Chesy belum mendapatkan informasi yang tepat, tapi Senja sudah menutup pembicaraannya. 


Wajar saja Senja tidak mu terbuka, mereka baru saling kenal, mana mungkin Senja langsung bercerita banyak pada orang asing.


Melihat Senja yang tidak mau lagi membuka cerita tentang Cazim, Chesy pun bergegas pamitan.


Pertama yang menjadi pikiran Chesy adalah tentang Cazim yang ternyata meninggalkan keluarganya karena kabarnya dia terlibat skandal besar, kemudian pria itu di sini hanya untuk menghindari masalahnya itu. 


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2