Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Seperti Mayat


__ADS_3

Cazim mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu kembali menghentikan sebuah mobil pick up yang melintas.


"Tolong bantu aku, istriku harus dibawa ke rumah sakit." Cazim menunjuk Chesy.


Pria yang menyetir pick up dengan bak mobil bagian belakang terbuka itu pun mengangguk. "Naiklah! Tapi di belakang ada barang."


Cazim terlihat senang, ia lalu tertatih melangkah mendekati Chesy.


Kernet pick up itu pun membantu Cazim mengangkat Chesy dan digeletakkan ke bak belakang sesuai perintah supir.


"Rumah sakit!" pinta Cazim yang langsung disetujui supir.


"Eh, yang itu nggak ikutan, Bang?" teriak supir menatap ke arah Senja, gadis itu berdiri terpaku di pinggir jalan, sama sekali tak bergerak dan tak berminat naik ke bak mobil.


"Senja, cepat naik!" seru Cazim setengah kesal. Chesy sedang membutuhkan pertolongan secepatnya namun Senja malah memperlambat waktu.


Senja menggeleng. Kemudian balik badan, berjalan kaki meninggalkan mobil dengan kaki pincang dan terseok.


"Hei, apa yang kau lakukan! Cepat naik!" seru Cazim makin kesal.


Mendengar kemarahan Cazim, Senja pun berhenti. Kemudian balik badan, melangkah mendekati mobil. Tangannya ditarik dan dibantu oleh Cazim naik ke bak belakang.


Mobil melaju cepat di tengah guyuran air hujan.

__ADS_1


Ketiga penumpang di belakang duduk bersempitan diantara barang yang menumpuk ditutupi terpal.


Cazim meletakkan kepala Chesy di pangkuannya supaya kepala itu tidak terantuk- antuk. Posisi Chesy setengah duduk di pangkuan pria itu.


Sedangkan Senja duduk di posisi agak jauh, di sudut bak, memeluk kedua kaki yang terlipat dengan wajah murung. Ia sedih karena dipersalahkan terus oleh Cazim. Semua itu gara- gara Cazim mencemaskan Chesy.


Tidak ada perbincangan sepanjang perjalanan. Semuanya membisu hingga sampai di rumah sakit. Chesy langsung ditangani dokter di UGD.


Sedangkan Cazim dan Senja berada di satu ruangan sedang diobati oleh suster. Luka mereka dibersihkan dan diperban.


Cazim berbaring di sebuah bed kecil, berbatasan tirai warna hijau dengan Senja di sebelahnya.


"Istri saya bagaimana, Sus?" tanya Cazim.


"Sedang ditangani dokter di UGD. Semoga tidak terjadi hal yang buruk ya, Pak."


"Sudah selesai. Kaki bapak perlu perawatan ya. Jadi setelah ini akan dibawa ke ruang rawat," ucap suster.


"Bapak? Apa menurutmu aku terlalu tua?" tanya Cazim kesal.


"Oh, masih muda. Maksud saya Mas." Suster tersenyum.


"Menurutmu muka sepertiku ini usia berapa?"

__ADS_1


"Mm.. dua puluh lima tahun."


"Semuda itu? Terima kasih atas tebakanmu yang salah. Ini tips untukmu." Cazim memberikan uang kepada suster. Usianya sudah hampir berkepala tiga dan suster beranggapan kalau dia masih dua puluh lima tahun. Jadi suster perlu diberi tips atas sikapnya itu.


"Makasih, Mas." Suster pergi.


Cazim mendengar pembicaraan suster di bed sebelah. Ia tidak bisa melihat posisi di sebelah karena dibatasi tirai. Yang jelas bed itu diisi oleh Senja.


"Lukanya sudah dijahit. Tidaka ada luka yang serius. Mbak sudah boleh pulang setelah ini," ucap Suster kemudian melangkah pergi meninggalkan Senja.


"Kau sudah boleh pulang?" tanya Cazim.


Senja tidak menjawab.


Cazim duduk dan membiarkan kakinya menjuntai ke bawah. Dia membuka tirai dengan sekali tarik cukup kuat.


"Senja, aku bicara denganmu!" Cazim menatap Senja yang terbaring di atas bed.


Gadis itu kemudian membalikkan badan hingga miring, membelakangi Cazim.


"Kau tidak mau menanggapiku?" tanya Cazim.


Senja masih diam. Kemudian terdengar suara isak tangis diiringi suara tarikan ingus.

__ADS_1


"Kau marah?"


Bersambung


__ADS_2