
"Tetap di rumah sakit yang lama," jawab Yakub dengan santainya.
"Di rumah sakit yang lama?" tanya Revalina dengan kedua mata terbelalak.
Ia terkejut dengan jawaban Yakub yang terucap seperti tak ada beban padahal dia sendiri dari awal meragukan rumah sakit itu.
"Iya," jawab Yakub sembari mengangguk.
Masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Kakak iparnya yang satu ini ditambah Sarah yang hanya diam melihat suaminya mengatakan hal itu, semuanya seperti acuh dengan keamanan dari pengobatan yang dijalani suaminya.
"Tenang Reva, aku sudah bicarakan hal ini sama pemilik rumah sakitnya langsung. Kali ini nggak akan ada kesalahan itu pun kalau kemarin hasil penilaiannya salah," jelas Yakub terus menatap Revalina.
"Lagian apa yang dikhawatirkan, itu rumah sakit terbaik yang ada di kota ini bahkan aku rasa terbaik di negri ini," ucap Candini dengan nada kesal.
Mendengar ucapan Candini membuatnya langsung terdiam, jika pembahasan ini terus ia lanjutkan yang ada hanya akan terus menyakitkan.
"Baiklah Kak, nanti kalau sekiranya aku ada waktu kosong aku ikut ke rumah sakit," ucap Revalina pada Yakub.
"Jelas tak ada, sibuk urus CEO nya," sindir Rival sembari membuang muka.
Reflek Revalina langsung melirik Rival yang begitu menyebalkan hari ini. Rasanya dia telah egois memikirkan perasaanya sendiri tanpa bertanya perasaan orang lain.
'Aku benar-benar kesal padamu Mas,' ucap Revalina dalam hati.
"Iya lah Revalina sebagai ajudan CEO ya harus urus CEO nya kau ini gimana sih, harusnya kau beruntung di tengah kesibukannya saja masih memikirkanmu coba lihat Mbak mu itu nggak pernah menghubungiku lebih dulu karena nggak pernah memikirkanku," tegur Yakub pada Rival, panjang lebar berujung sindiran keras pada sang istri.
"Dih, kenapa jadi aku yang kena," sahut Sarah tak terima.
Malam itu perbincangan mereka di ruang tamu tak berlangsung lama, tepat pukul 22.00 mereka mulai masuk ke dalam kamar masing-masing.
Termasuk dirinya dan Rival, ketika semua bubar dari ruang tamu saat itu juga Revalina merasa canggung harus memulai pembicaraan dengan Rival. Hatinya terus bergejolak ingin terus acuh padanya namun tak bisa dibohongi dari relung hati terdalam tak ingin membiarkan sang suami kesusahan mendorong kursi rodanya.
Tak lama tiba-tiba tangan Rival mulai menggenggam pegangan di kedua sisi rodanya, dengan cepat Revalina menggenggam pegangan yang ada di belakang punggung itu.
"Aku bantu," ucap Revalina ketus.
Ia bergegas membawa Rival masuk ke dalam kamar, masih tak ada perbincangan hingga Revalina membantunya berpindah ke ranjang pun bibir Rival terus membisu.
__ADS_1
'Ya sudahlah terserah, aku tak berharap dia mengajakku bicara. Dari pada dia bicara hanya bisa menyalahkanku den menyalakan Kak Rafa lebih baik tak usah bicara,' gerutu Revalina dalam hati.
Setelah selesai meletakkan Rival di ranjang, Revalina bergegas menuju ke kamar mandi ia tak ingin tidur dengan membawa keringat seharian ini.
"Reva," panggil Rival.
Seketika Revalina langsung menghentikan langkah kakinya namun kepalanya enggan memutar ke belakang apalagi berbalik badan demi menghadap ke Rival.
"Terimakasih," ucap Rival singkat.
"Sama-sama," sahut Revalina singkat juga.
Revalina kembali mengerakkan tungkainya lebih cepat lagi menuju ke kamar mandi berusaha tak memberi celah pada Rival untuk memanggilnya kembali. Kepedean, tapi beginilah kalau amarah berpadu dengan ego.
Beberapa menit kemudian setelah mengeringkan rambutnya Revalina mulai naik ke atas ranjang terbaring di atasnya dengan posisi memunggungi Rival.
"Reva," panggil Rival.
Telinganya mendengar namanya di panggil namun matanya memilih untuk terus terpejam dan bibir terus terkunci.
"Jangan pura-pura nggak dengar, aku tahu kamu beluk tidur," ucap Rival kembali.
Kini keduanya sama-sama duduk bersandar pada sandaran ranjang, menatap ke arah televisi mati sebagai pengalihan pandangan.
"Kita bukan orang pacaran Reva, kita ini sudah menikah kalau ada apa masalah jangan malah diam harusnya kita duduk bersama memecahkan masalah ini bersama sebelum tidur malam," ujar Rival dengan tutur katanya yang lembut.
Hati Revalina yang terlanjur membeku kini perlahan mencair mendengar nada bicara Rival yang serendah dan selembut itu.
"Apa yang membuatmu marah padaku?" tanya Rival melirik Revalina dengan wajah datarnya.
Melihat Rival yang sudah berani memulai pertanyaan juga memulai lirikan mata, ia langsung membalas lirikan itu.
"Pertama aku marah karena kamu menuduh Kakakku berbohong dan yang kedua kamu telfon Umi tadi dan yang ketiga kamu sindir aku di depan keluargamu tentang Pak Joseph," jawab Revalina dengan jelas.
"Sudah?" tanya Rival dengan santainya.
"Sudah," jawab Revalina semakin kesal.
__ADS_1
Ia semakin kesal melihat reaksi pertama Rival setelah ia mengungkapkan beberapa point kekesalan terhadap dia.
"Aku ingin kita saling cari jalan keluar bukan saling menganggap masing-masing benar, kita selesaikan tiga masalah itu malam ini juga," ucap Rival membuka perbincangan serius mereka.
"Pertama aku nggak menuduh Kakakmu, sejak awal kita bicara tak pernah sekali pun aku bilang kalau Kakakmu berbohong aku hanya bilang kalau aku merasa ada yang aneh," jelas Rival pada point pertama permasalahan hari ini.
"Tapi kamu diakhir bilang kalau kau lebih mengenal Mama, itu artinya kau memang sudah menuduh Kakakku berbohong," tolak Revalina tak puas dengan penjelasan sang suami.
"Aku emosi saat itu, tapi sungguh aku tak terpikir bahwa Kak Rafa berbohong," jelas Rival kembali.
"Jadi apa yang kamu pikirkan tentang kata aneh yang kamu sebut tadi pagi?" tanya Revalina masih mencecar Rival tentang hal ini.
"Ya aneh saja, entah penglihatan Kak Rafa yang menurun, ada yang mirip dengan Mama atau itu memang Mama tapi dia lupa kalau malam itu pergi ke pinggir kota. Siapa yang tak cemas kalau yang terjadi sebenarnya itu Mama lupa dengan apa yang sudah dia lakukan beberapa jam yang lalu," jawab Rival.
Setelah mendengar penjelasan Rival secara rinci akhirnya Revalina bisa menerima penjelasan itu dan menganggap masalah itu telah clear, lalu kini berlanjut ke point ke dua.
"Jadi ada yang masih mengganjal di permasalahan ini?" tanya Rival menatap Revalina sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak," jawab Revalina menggelengkan kepala.
"Baik kalau begitu kita bahas point yang kedua kenapa aku menghubungi Umi ya karena aku cemas kamu tak kunjung pulang mana tak ada kabar, di telfon nggak aktif, sementara itu aku tahu kau pulang dari kantor itu jam 4 sore. Suami mana yang tak khawatir sudah malam begini istri belum pulang juga," jelas Rival panjang lebar.
Penjelasan kali ini memiliki vibes yang berbeda, entah kenapa kedua lekuk bibirnya tiba-tiba saling menarik namun sekuat tenaga ia tahan agar tak terlihat tersenyum-senyum setelah mendengar ungkapan perhatian Rival pada dirinya.
'Bisa sweet juga ternyata dia, aku baru sadar. Tahu gitu aku nggak buat point itu jadi bagian dari masalah malah buat malu saja,' gumam Revalina dalam hati.
"Segitu marahnya kamu sama aku sampai-sampai ponsel kamu nonaktifkan?" tanya Rival terus menatap Revalina.
Sementara itu tubuh Revalina semakin kaku mendapat pandangan seperti itu dengan binar mata indahnya yang tak lagi menyebalkan jika di pandang balik.
"Aku cuma lagi nggak mau diganggu saja, mau menghabiskan waktu sama Umi di rumah nggak tahu kalau kau bakal telfon," jawab Revalina lirih kaku.
"Reva Reva," ucap Rival tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Revalina terdiam tak mengerti dengan arti senyuman Rival sekarang, namun ia menduga jika suami ya saat ini tengah menganggap dirinya wanita bodoh dimuka bumi ini.
"Aku nggak mungkin tiba-tiba nggak peduli sama orang apalagi sama kamu, kamu itu tanggung jawab ku dan aku sudah bersumpah di hadapan Tuhan mana mungkin aku biarkan begitu saja," ucap Rival sambil terus tersenyum.
__ADS_1
"Apa iya, bukannya di kejadian tadi siang kau membiarkan aku?" tanya Revalina kembali berani menatap Rival.
Bersambung