Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tinggalkan Aku


__ADS_3

“Nggak tau, Non.  Ganteng pokoknya.”


Chesy mengernyit.  Ia kemudian keluar kamar dan segera menemui tamu yang katanya ganteng versi Darel itu.


Oh… Ternyata Yakub.  Pria itu sudah duduk di sofa.


“Ada apa, Yakub?” tanya Chesy dan duduk di kursi ruang tamu.


“Maaf aku mengganggumu.”


“Ah, enggak kok.  Bicara saja.”


“Kamu kan guru BP di sekolahnya Rival.  Sudah sepatutnya aku membicarakan ini ke kamu.  Mengenai Rival.”


“Rival kenapa?  Bikin ulah lagi ya di sekolah?  Aku belum mendengar kabar apa pun tentang dia.”


"Rival masih dalam perawatan, kemungkinan akan lama masuk sekolah. Apakah ini akan menjadi salah satu alasan untuk Rival tidak naik kelas?" tanya Yakub.


Chesy menggeleng. "Enggaklah. Sakit nggak menjadi alasan untuk seseorang nggak naik kelas selagi itu bisa diatasi dengan ujian susulan, dan pelajaran tambahan lainnya."


"Oh, baiklah. Aku takut ini akan menjadi alasan hingga Rival tidak dinaikkan kelas sehubungan Rival di sekolah juga dianggap sebagai anak nakal."


"Kenakalan itu kaitannya bukan pada kepintaran. Nilai Rival di sekolah tetap bagus selagi dia memang pintar. Tapi kenakalan akan berkaitan dengan hukuman, DO atau skors. Inilah sangkut paut antara kenakalan dan hukuman. Nggak ada sangkut pautnya dengan nilai."


Yakub mengangguk senang. "Oh ya, ini aku bawakan kue tadi." 

__ADS_1


Chesy menatap kotak berisi kue kik. "Ini bukan sogokan kan?"


Yakub tergelak. "Tidaklah. Aku tidak mengenal arti kata sogokan. Yang aku tau elusan. He heee... Canda. Tidak enak juga kan kalau bertamu tanpa membawa buah tangan."


"Oke deh. Aku terima. Makasih." Chesy memotong kue itu dan mencicipinya. "Hmm... Enak."


"Oh ya, sekilas tadi aku dengar di jalan kalau kau sedang ada masalah dengan Cazim. Kau mau berpisah darinya. Benar begitu ya? Aku tadi kebetulan ada di belakangmu saat kau jalan kaki bersama Sarah," ucap Yakub.


Ekspresi wajah Chesy berubah merah padam. "Aku nggak suka ya kamu nguping dan kepo begini sama urusan privasi orang lain."


"Ma maaf Chesy, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bertanya saja dan ini juga tadi aku tidak sengaja mendengarnya. Kau berbicara terlalu keras di tempat umum, wajar kalau aku mendengarnya tanpa aku harus menguping."


Chesy menyesal sudah bicara di tempat umum sehingga Yakub bisa sampai mengetahui masalah rumah tangganya begini.


***


Cazim memasuki sebuah club.  Musik mendentum keras rasnaya menggedor dada.  Asap rokok memenuhi udara, aromanya berbaur dengan aroma parfum, aroma minuman keras dan aroma campur aduk lainnya.


Cazim mengedarkan pandangan ke sekitar.  Para wanita berpakaian minim dengan senyum ceria dan tawa riang membaur dengan para lelaki.  Kembali Cazim mengedarkan padangan, namun yang dicari tak ditemukan.


Cazim terus berjalan diantara keramian yang hampir memadati seisi ruangan.  


“Shit!”  Tanpa sengaja lengannya bersentuhan dengan dada wanita.


Bukannya marah, si wanita malah tersenyum dan melambaikan tangan seraya menatap ketampanan dan postur tubuh Cazim yang gagah menjadi lirikan para wanita.  

__ADS_1


Huh, Cazim tidak berminat.  Dia melengos pergi tanpa menanggapi apa pun. 


Cazim berdiri di dekat meja bartender yang sibuk mengurus minuman.  Kepalan tangannya mengetuk meja.  


“Apa, Bang?” tanya bartender diantara dentuman musik yang memekakkan telinga.  Ia sedikit berteriak supaya suaranya didengar oleh Cazim.


“Ada yang menitipkan sesuatu kemari atau tidak?  Barang untukku,” sahut Cazim sambil menunjukkan sebuah kunci.  “Katanya barangnya dititip di sini.”


“Oh… tidak.”


Cazim mengangguk.  Ia menatap ke samping dan mendapati Senja tengah berjalan ke arahnya.


Wanta itu menghampiri Cazim.  Dia tersenyum dan berdiri di sisi Cazim dengan lengan polosnya yang melekat di lengan pria itu.  


“Kau bilang akan menitipkan kunci motorku di sini.  Aku sudah belain ke sini tapi nyatanya kuncinya tidak ada.  Mana kuncinya?” tanya Cazim.  Ia berniat memakai motor milik Senja yang kemarin dibeli oleh gadis itu.  Sebab ia tidak mungkin menggunakan motor milik Alando dan membawanya pulang.  Alando butuh kendaraan.


“Maaf, aku tidak jadi menitipkan kunci motor di sini.  Soalnya aku mau pulang ke kota kita bersamamu.  Aku tidak mau pulang sendirian.  Aku ke kota ini kan karena ingin menemuimu, memang sudah sepatutnya kamu yang mengantarku pulang.”


“Senja, aku tidak berniat mengantarmu.  Aku hanya ingin pulang, dan itu pun tanpamu.. Aku sudah pernah bilang bahwa kita sudah berakhir kan?”


“Loh?  Ini gara- gara Chesy ya?”  Tatapan Senja berembun.  “Kau sudah mencintainya?


Cazim diam saja.  Dia pun masih bingung dengan perasaannya.  Tapi yang jelas dia sangat ingin dekat dengan Chesy.  Ingin menatap wajah cantik itu.  tumbuh perasaan berbeda, apakah dia jatuh cinta pada Chesy?  Tapi rasa itu tidak sama seperti ketika dia jatuh cinta dengan Senja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2