
Yunus menyusul masuk. Ia baru saja pulang, terlihat seperti kebingungan menyaksikan kondisi di sekitar yang lebih mirip seperti ada gempa.
“Jangan sentuh aku!” geram Chesy dengan tatapan tajam saat Cazim menjulurkan tangan hendak meraih lengan Chesy. Tangan pria itu pun berhenti di udara. Ia kini sadar bahwa sumber kemarahan istrinya adalah dirinya.
Sekilas netra Cazim menatap ke sekitar. Melihat ruangan yang sudah seperti kapal pecah.
“Apa yang terjadi?” tanya Cazim.
Plak!
Cazim menyentuh pipinya yang memerah setelah tangan kecil Chesy mendarat di sana.
“Astaghfirullah… Chesy! Jangan kasar pada suami!” Yunus mengingatkan. Selesaikan masalah dengan baik- baik.
“Abi nggak akan memberikan ampun pada lelaki ini jika abi tahu siapa dia yang sebenarnya.” Chesy menunjuk Cazim geram. Antara marah karena Cazim disebut sebagai pembunuh ibunya, ditambah kecemburuan yang membakar dada. Panas sekali rasanya.
“Tapi kamu bisa bicarakan baik-baik dulu. Jangan marah-marah begini! berdosa bicara lantang pada suami!” Yunus membujuk.
“Aku tahu. Aku berdosa. Biar saja berdosa! Sejak dulu abi taunya juga aku ini pendosa yang nggak bisa diatur. Abi hanya mempercayai Mas Cazim, Mas Cazim dan Mas Cazim.” Tatapan mata Chesy kembali pada Cazim. “Mas, jawab aku dengan jujur! Jangan ada kebohongan! Kamu membunuh ibuku kan?”
Wajah Cazim berubah, gurat di wajah itu tampak lebih tajam.
__ADS_1
“Itu bukan pertanyaan, tapi tuduhan,” ucap Cazim dengan suara datar.
“Jawab saja! jangan mengalihkan pembicaraan!”
Cazim menatap Chesy yang dipenuhi dengan emosi. Pria itu kemudian mendekap tubuh Chesy, memeluk erat.
Jika dalam keadaan normal, seharusnya Chesy merasakan kehangatan dari dekapan erat itu. Tapi tidak. Kini yang ada dadanya menggemuruh oleh kemarahan.
“Chesy, jangan marah!” Suara Cazim penuh bujukan, namun juga permohonan.
“Aku nggak akan berhenti marah sebelum kamu jelasin ke aku. Senja bilang, kamu sudah membunuh ibuku. Gadis itu menyimpan banyak rahasiamu, dan dia membongkar rahasia itu. kamu dan dia sudah berteman sangat lama. Kalian sangat dekat. Maka perkataan senja yang mana yang harus aku bantah? Jadi selama ini orang yang aku cari-cari itu kamu?” Chesy ingin memberontak, namun ia kesulitan melepaskan dekapan erat lengan kokoh Cazim.
“Katakan, Mas. Kalau kamu nggak mau jujur, berarti benar kamu pelakunya. Atau perlu aku hadirkan Senja ke sini untuk mengatakan semuanya?”
Cazim melepas pelukan, memberi jarak pandang. Tatapan mata gelap itu tampak teduh.
“Bicaralah!” hardik Chesy.
“Ibumu datang di waktu yang tidak tepat.”
“Jadi benar kamu membunuhnya? Jawab!”
__ADS_1
“Kau pernah mengatakan kalau Ismail, abangmu kecanduan narkoba bukan? Lalu ibumu menyusulnya di markas tepat saat abangmu over dosis. Dan benar ini adalah kesalahan besar seumur hidupku!” Cazim memalingkan wajah, tak ingin melihat kesedihan
“Jahat kamu! Jahat! Kamu pembunuh!” Chesy histeris. Bangkit berdiri dan meraih gagang sapu yang ijuknya sudah copot entah kemana. Dia ayunkan gagang itu supaya mengenai Cazim.
Eh, tapi malah hanya mengenai angin saja. Rupanya dia salah ambil, bukan gagang sapu yang dia ambil, malah sendok.
Chesy membuang sendok itu ke sembarang arah.
Plak. Sendok mengenai jidat Darel yang sejak tadi mengintip di dekat pintu. Sial sekali nasibnya, jidat nonong malah tambah nonong.
Chesy menyambar pisau apel yang ada di meja. “Aku yang akan membunuhmu. Hutang nyawa dibalas nyawa.” Chesy mengarahkan pisau kepada Cazim. Untuk apa mempertahankan lelaki pembunuh yang selama ini dia dendami dan ternyata pembunuh itu ada di dekatnya. Untuk apa mempertahankan suami yang berkhianat dan mencintai wanita lain?
Yunus mengusap air matanya. Dia sedih. Syok melihat kejadian ini.
“Chesy, hentikan! Jangan lakukan apa pun pada benda berbahaya itu! jangan, Nak!” bujuk Yunus dengan suara gemetaran. Dia mendekati Chesy.
"Jangan mendekat, abi! Biar Mas Cazim tahu bagaimana rasanya nyawa akan melayang."
"Tidak, Nak. itu berbahaya." Yunus menangis. Semuanya terasa kacau dan menyedihkan. Tatapannya kemudian beralih pada Cazim. “Dan kau, pergilah dari rumah ini selamanya! Jangan kembali!” Yunus menunjuk Cazim dengan tatapan dipenuhi kekecewaan.
Bersambung
__ADS_1