
Sebelum pukul delapan malam, Chesy sudah berada di dalam taksi yang melaju kencang membawanya ke kafe yang disebutkan. Ia berpenampilan cantik sekali mengenakan dress panjang warna biru dengan jilbab pasmina warna senada.
Ah, Chesy jadi merasa seperti remaja yang jatuh cinta. Sepanjang jalan malu- malu sendiri, senyum senyum tak menentu. Hati berbunga-bunga menantikan pertemuan dengan suami. Kenapa rasanya jadi seperti sedang pacaran begini? Bahkan tadi ia cukup lama berada di depan cermin untuk berdandan. Ingin tampil cantik.
Chesy langsung masuk ke kafe begitu taksi berhenti di tempat tujuan.
"Nona Chesy Caliana?"
Chesy terkejut mendengar namanya disebut. Ia menoleh pada pelayan yang menghampiri saat ia baru saja melewati pintu kafe.
"Ya? Saya?" Chesy menunjuk dadanya sendiri.
"Mari ikut saya."
Meski bingung, Chesy mengikuti pelayan itu.
"Meja Nona di sini. Silakan!" Pelayan menunjuk meja yang di sana sudah terdapat sekuntum bunga.
Chesy duduk. Fokusnya mengawasi bunga tersebut.
Beberapa detik mengawasi bunga, sampai-sampai ia tak sadar pelayan menyuguhkan mie dengan bentuk hati.
Oh ya ampun, ini gila! Seromantis inikah?
__ADS_1
"Ini makanan buat saya?" tanya Chesy polos.
"Iya, silakan!" Pelayan tersenyum.
Sekilas Chesy mengedarkan pandangan ke segala arah, suasana kafe luas itu cukup ramai. Manik matanya mencari keberadaan Cazim. Dimana keberadaan pria itu? Kenapa dia tidak muncul? Ini pasti kerajaan Cazim.
Tiba-tiba kursi di depannya ditarik.
Deg!
Itu suara jantung Chesy yang terkejut melihat sosok di depannya. Sosok tampan yang mengenakan kemeja cokelat dengan kopiah hitam. Cazim.
Hati Chesy berdebar saat bersitatap begini.
"Ternyata suamiku bisa segila ini ya? Aku pikir orang sepertimu nggak bisa berbuat hal-hal konyol begini." Chesy tersenyum lebar.
"Dan kamu berusaha menyenangkan aku?" Chesy gembira sekali.
Cazim hanya menarik sedikut sudut bibirnya. Dia benar- benar tampak sangat tampan saat tersenyum.
"Ini semua idemu? Atau dapat inspirasi dari drama Korea?" tanya Chesy.
Tidak mendapat jawaban, Chesy tertegun melihat Cazim yang mendadak sibuk dengan hp nya. Pria itu tampak sangat serius dengan benda itu. Tampak sibuk sekali. Bahkan ada beberapa kali panggilan yang tidak dia hiraukan, panggilan didiamkan saja. Sayangnya Chesy tidak bisa melihat itu panggilan dari siapa karena layarnya tidak terjangkau oleh matanya.
__ADS_1
"Tunggu. Tunggu sebentar di sini." Cazim meletakkan hp yang baru saja dia gunakan, sepertinya urusannya dengan hp sudah selesai. Kemudian ia berlalu pergi ke meja pelayan. Entah apa yang sedang dibicarakan pria itu pada pelayan.
Sekilas perhatian Chesy tertuju pada ponsel Cazim yang digeletakkan di meja.
Muncul keinginannya untuk melihat isi hp suaminya. Ia ingin tahu apakah suaminya masih berhubungan dengan Senja atau tidak.
Tangan Chesy meraih hp milik Cazim. Membuka ponsel mumpung belum sempat terkunci sendiri. Ia mengecek riwayat panggilan. Kosong. Tak ada apa pun. Ia kemudian mengecek whatsapp, juga tak ada chat atau panggilan di sana. Semuanya bersih.
Chesy cepat mengembalikan hp ke meja ketika melihat Cazim berjalan kembali ke arahnya.
"Ada kejutan apa lagi?" tanya Chesy.
"Lihat saja nanti."
"Hmm... Main rahasia- rahasiaan."
Seorang pelayan datang menyuguhkan dua minuman dan satu makanan untuk Cazim.
Terlihat tidak ada yang spesial dari apa yang disuguhkan pelayan. Namun Chesy baru tahu kalau minumannya diberi kalung ketika ia mengaduk jus dan mendapati sesuatu yang mengganggu di dalam minumannya itu.
"Apa ini? Kalung?" Chesy mengambil kalung itu dari dalam gelas menggunakan sedotan.
"Aku beli di jalan tadi."
__ADS_1
Chesy bajagia. Namun juga bertanya-tanya, apakah mungkin Cazim berubah secepat ini? Apakah Cazim memiliki rasa yang sama seperti Chesy yang pernah mengalami perubahan rasa secepat kilat?
Bersambung