
Chesy mulai mual melihat menu makanan yang disajikan di meja makan. Selain hormon yang berubah akibat kehamilannya, kondisi fisiknya juga tidak stabil, tidak enak badan akibat kandungan di trisemester pertama. Bawaannya seperti demam terus. Sampai kini ia terlihat pucat dan tidak sehat, lemas, juga loyo.
“Kenapa tidak makan?” tanya Yunus yang melihat Chesy hanya menghampiri meja makan tanpa berniat duduk, bahkan terlihat hendak pergi. Yunus sedang menyantap sarapan.
“Enggak, nanti aja.”
“Loh, kamu tidak ke kantor?”
Chesy menggeleng.
“Kau terlihat pucat dan tidak sehat. Kamu sakit? Abi panggilkan dokter ya?” Yunus menatap cemas pada kondisi Chesy yang lesu. Bahkan Chesy juga tampak kusut dan tidak bersemangat, belum mandi. Mengenakan baju tidur dilapisi switer.
“Apa aku kelihatan seperti orang sakit?” tanya Chesy sambil menepuk-nepuk pipinya.
“Ya sudah. Kamu tidak perlu bekerja. Istirahatlah di rumah. Nanti biar abi panggilkan dokter.”
“Nggak usah, abi. Ini nanti juga sembuh sendiri.”
“Tapi belakangan ini kondisimu kelihatan lesu, Chesy. Kau tidak sehat.”
Chesy memahami bahwa kondisinya demikian karena efek perubahan kondisi hormon dalam tubuhnya. Bawaannya jadi sakit terus alias sakit yang dibuat sendiri.
Suara bel pintu menghentikan pembicaraan mereka.
“Ada tamu. Biar saya buka pintu dulu.” Bik Parti ngeloyor dari dapur melewati ruang makan. Ia berlari menuju ke depan dan membuka pintu.
“Eeeh… Den Cazim. Masuk, Den.” Bik Parti tersenyum ramah.
“Chesy mana?”
__ADS_1
“Ada di dalam. Di ruang makan sama abinya.”
Cazim mengangguk. Ia mengucap salam dan melenggang masuk melewati Bik Parti.
Sejurus pandangan tertuju ke arah Cazim yang kini telah berdiri di ambang pintu. Pria bertubuh atletis dengan rahang kokoh itu menatap silih berganti wajah Chesy dan Yunus.
“Abi, maaf aku datang kemari disaat abi sudah mengusirku dan melarang aku kembali ke rumah ini,” ucap Cazim dengan pandangan teduh. “Aku tidak bermaksud untuk kembali ke sini lagi.”
Yunus diam saja. dia pun tidak mau banyak bicara. Menyerahkan semua urusan kepada putrinya.
Cazim mengangkat amplop putih di tangannya. Ia lalu menatap Chesy. “Aku sudah mendapat surat dari pengadilan agama.”
Chesy seketika memalingkan pandangan, teringat kalau di rahimnya sudah ada janin. Dan itu adalah anaknya Cazim. Andai saja ia bisa memulai kehidupan yang utuh bersama dengan Cazim, pasti ini akan menyenangkan sekali. Kenapa kabar bahagia mengenai hadirnya janin di rahimnya harus terjadi di saat menyedihkan seperti ini?
“Aku terima ini. Aku paham bahwa aku memang tidak pantas untuk mendampingi hidupmu, Chesy. Aku lelaki yang buruk. Aku minta maaf selama ini sudah merusak kebahagiaanmu, juga abimu. Seandainya saja pintu maaf itu terbuka lebar, maka aku akan katakan bahwa aku sangat menyesal dan ingin memulai semuanya dari awal bersamamu, Chesy. Tapi aku sadar, meski mendapat maaf sekalipun, aku tidak pantas mendampingi putri dari orang yang aku bunuh,” ucap Cazim terlihat sedang berusaha berbesar hati.
Chesy tidak menanggapi, ia berlalu pergi, melewati Cazim begitu saja. ia lalu masuk ke kamar. Menghempas duduk di pinggir kasur dengan perasaan gundah gulana. Percuma juga gugatan itu dilayangkan, toh saat ini Chesy sedang mengandung benih dari Cazim.
Perceraian tidak akan sah. Apakah ini artinya Tuhan memberikan petunjuk bahwa ia harus tetap menerima Cazim?
Chesy terkejut saat merasakan genjotan kasur di sebelahnya. Ia menoleh, ada Cazim di sisinya. Dan lihatlah, jantung Chesy menggelora saat berdekatan dnegan Cazim begini. apa lagi saat ini ia mengandung anaknya Cazim. Rasanya ada yang membuncah di dalam dada.
“Mungkin hanya dalam hitungan hari saja aku masih menjadi suamimu. Sebelum ketok palu, aku masih boleh memegang tanganmu kan?” Cazim menggenggam jemari Chesy.
Srrr…. Darah dalam tubuh Chesy menggelora merasakan sentuhan tangan Cazim.
“Aku benar-benar mencintaimu, Chesy. Kau tidak perlu terpengaruh dengan ucapanku ini, sebab aku tidak sedang berusaha mempengaruhimu. Aku hanya sedang memberi tahukan kamu bahwa aku mencintaimu, tidak perlu kau menjawabnya. Senja hanyalah masa lalu. Perasaanku padanya memudar seiring berjalannya waktu. Dan sekarang Cuma ada kamu.” Cazim mempererat genggamannya.
Tidak ada tanggapan dari Chesy, Cazim pun menggaruk kepala yang tak gatal. Ia menunduk dan mengawasi dengan tatapan serius ke arah bawah kolong ranjang dan berkata, “Eh, kok bisa ada kalajengking di kolong kasur?”
__ADS_1
“Aaa…” Chesy sontak melompat, menghambur memeluk Cazim. Kedua lengan melingkar di tubuh gagah pria itu. Ia ketakutan membayangkan binatang pencapit itu.
Senyum Cazim mengembang.
“Lututmu menjepit!” bisik Cazim membuat Chesy langsung mengangkat lututnya yang menempel sempurna di pangkal paha pria itu.
Chesy memundurkan badan.
“Maaf, tidak ada kalajengking. Terima kasih atas pelukannya.”
Seharusnya Chesy bahagia atas candaan Cazim yang tidak lucu itu, tapi hatinya sedang kebas saat ini, sehingga ia hanya cemberut saja.
“Aku salah lagi ya?” tanya Cazim. “Pada intinya, aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku menyayangimu. Aku tidak butuh balasan darimu, cukup kau tahu saja, aku sudah lega.”
Chesy masih diam. Lalu menunduk. Tiba-tiba ia menangis.
“Loh, kok menangis? Aku melukaimu ya?” tanya Cazim.
Chesy diam saja.
“Kau terlihat tidak sehat. Kau pucat. Aku panggil dokter ya?”
Chesy masih terisak tanpa memberikan jawaban.
“Apa yang membuatmu menangis? Kau merasa sedih karena kedatanganku yang hanya mengganggu pikiranmu? Atau karena kondisi kesehatanmu yang buruk? Katakan!” Cazim melipat dahi menatap Chesy yang terisak sesenggukan.
Tiba-tiba Cazim terbengong saat Chesy memeluk erat tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1