Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Meja Pagi


__ADS_3

Laki-laki itu terus melenggang masuk ke dalam kantor dengan sesekali melirik ke arah Revalina dan Rival sembari tersenyum tipis sebagai bentuk sapaan.


"Segitunya lihat pria tampan," ledek Rival dengan nada kesal.


Sekejap Revalina langsung tersadar dan langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Rival yang kini tengah kesal padanya.


"Bukan begitu Mas, aku cuma penasaran saja ada orang baru di sini," jelas Revalina.


"Ah masa," sahut Rival.


"Iya," ucap Revalina dengan tegas.


Setelah dari kantor mereka bergegas menuju ke salah satu cafe yang ada di dekat kantor, meski sedikit kesulitan mengeluarkan dan memasukkan Rival ke mobil namun Revalina tetap telaten.


Tiba di cafe, lagi-lagi seluruh pasang mata tertuju padanya ketika ia tengah mendorong Rival masuk ke dalam cafe. 


Di sana ia cepat-cepat memesan dua kopi dan snack ringan, lalu sang kasir memberinya nota dan nomor meja. Kebetulan ada salah satu meja yang berada di sudut ruangan terlihat lebih indah dari meja lain karena di sana ada dinding kaca yang menampilkan pemandangan indah taman di luar bangunan cafe.


"Kita duduk di sana saja yuk," ajak Revalina pada Rival.


"Ayuk," sahut Rival sembari menganggukkan kepalanya.


Ia pun kembali bergegas mendorong kursi roda Rival, membawanya ke meja yang ada di sudut ruangan melintasi banyaknya meja dari sisi kanan dan sisi kiri yang penuh dengan pengunjung. Saat itu ada rasa insecure dalam dirinya tak pernah terbayangkan ia dan Rival akan menjadi pusat perhatian di luar rumah, terlebih jadi bahan perbincangan.


"Pintar juga kau pilih mejanya," puji Rival tersenyum-senyum memandang ke arah dinding kaca ketika kursi rodanya tiba di meja tersebut.


"Kamu suka Mas?" tanya Revalina.


Rival langsung mengangguk, sekejap rasa insecure di diri Revalina hilang ketika melihat senyum bahagia sang suami. Menatap kagum sosok Rival yang kuat menghadapi dunia apapun kondisinya, di balik itu Revalina tersadarkan tentang apa yang dialami Rival adalah karenanya sehingga tak pantas sebagai seorang penyebab semua ini justru insecure seharusnya jadi orang menguatkan.


Tak lama kopi dan snack yang dipesan Revalina datang di antar oleh pelayan cantik yang terus memandangi Rival.


"Selamat menikmati," ucap pelayan dengan senyum ramahnya.


"Terimakasih Mbak," sahut Revalina langsung membalas senyumannya.


"Sama-sama," ucap pelayan itu namun masih melirik Rival.


Pelayanan itu langsung pergi, meninggalkan api-api cemburu yang coba menyulut emosi Revalina.


Kini bibir Revalina mulai manyun, perlu diakui pelayan cantik itu berhasil membuatnya kesal dan cemburu.


"Kenapa sih Rev cemberut begitu, padahal aku sudah menuruti mu untuk mampir ke cafe ini tapi kenapa masih cemberut saja?" tanya Rival sembari menambahkan gula pada kopinya.


"Pikir saja sendiri," jawab Revalina dengan nada kesal.


Sontak kedua mata Rival terbelalak mendengar jawaban Revalina, tatapan mata yang semula tertuju pada kopinya kini seketika beralih ke arah Revalina.


"Kamu pikir aku ini dukun, bisa tau apa yang kamu rasakan?" tanya Rival menahan tawanya dengan sekuat tenaga.


"Ceritalah ada apa jangan manyun terus," pinta Rival dengan nada bicaranya yang mendayu-dayu.


"Kamu ini kenapa?" tanya Rival secara berulang-ulang.


"Nggak papa," jawab Revalina namun terus manyun.


"Nggak papa tapi manyun terus," gerutu Rival.


Sore itu tak lama mood Revalina kembali membaik, ia terbawa dengan pembicaraan seru antara dirinya dengan sang suami meski tak mampu melupakan kejadian tadi.


Tanpa ia sadari telah mengetahui di sore ini tentang perbedaan laki-laki dan perempuan ketika cemburu terhadap pasangan, laki-laki akan selalu menyuarakan kecemburuannya sedangkan perempuan justru menunggu kepekaan sang laki-laki. Lebih tepatnya bisa membaca pikiran layaknya paranormal.


"Kamu ingat nggak, kita pernah di tinggal di tengah taman berdua sama Kak Yakub dan Mbak Sarah," ucap Rival mulai flashback ke kejadian beberapa Minggu lalu.


Revalina langsung tersenyum-senyum ia mengingatkan jelas moment itu, moment di mana dirinya masih memohon maaf dari Rival namun dengan situasi yang berbeda lebih banyak intensitas Rival berbicara padanya.


"Iya aku masih ingat itu," jawab Revalina.


"Ternyata itu Kak Yakub memang sengaja ninggalin kita dengan dalih beli ice cream, nah dia lama nggak balik-balik itu juga sengaja," ujar Rival sambil tersenyum-senyum.


"Kau tahu dia bersembunyi di mana," Rival mulai memberi soal tebakan pada sang istri.


"Di mana memangnya?" tanya Revalina sembari menggeleng kebingungan.

__ADS_1


"Di pohon beringin besar yang ada di sebelah kita," jawab Rival.


Sontak Revalina terkejut mendengar jawaban Rival, tak menyangka kedua Kakak iparnya akan bersembunyi di sana padahal jarak mereka dengan pohon beringin itu sangat dekat tapi bisa-bisanya tak terendus keberadaan mereka.


"Ya ampun, bisa-bisanya aku nggak lihat mereka," ucap Revalina terkejut.


"Sama," sahut Rival.


Ditengah tawa bahagia Rival mengungkit kejadian itu di moment lucu, Revalina justru fokus pada sikap dingin sang suami yang sampai pada puncaknya tetap enggan melelehkan sikap dinginnya.


"Saat itu apa yang ada di pikiranmu mas?" tanya Revalina dengan nada serius.


"Kalau saat itu ya aku nggak curiga sama sekali, aku pikir mereka memang beli ice cream," jawab Rival dengan santainya.


"Bukan itu," sahut Revalina.


"Lalu apa?" tanya Rival kebingungan.


Sadar jika pertanyaannya tak spesifik menuju ke arah yang diinginkannya, Revalina pun mulai mengumpulkan keberaniannya untuk kembali bertanya dengan lugas.


"Apa yang ada di pikiranmu saat kita berduaan, di moment kamu masih benci dengan ku?" tanya Revalina dengan jelas.


Bibir Rival tiba-tiba terkunci rapat, netranya enggan berpindah justru makin menautkan tatapan matanya ke mata Revalina.


Entah kenapa mendapati Rival tak kunjung menjawab pertanyaannya, membuat Revalina menjamah berbagai kemungkinan jawaban yang akan dikatakan Rival.


Degup jantung mulai tak karuan, sedang dadanya terasa sesak.


'Belum-belum perasaan ku sudah nggak karuan begini,' ucap Revalina dalam hati.


"Kamu mau jawaban jujur apa enggak?" tanya Rival dengan senyum yang tertahan.


"Ya jujur lah," jawab Revalina sedikit kesal.


Seketika Rival langsung menarik nafasnya dalam-dalam, merubah posisi duduknya lalu melipat kedua tangannya ke atas meja.


"Jujur waktu itu aku masih kesal jadi apapun yang kau katakan, jadi jangan terlalu di pikirkan itu kan aku belum tahu semuanya. Masih dalam emosi tanpa memberimu hal bersuara," jelas Rival menjawab pertanyaan Revalina.


Reflek kepala Revalina mengangguk, memahami apa yang Rival rasakan saat itu. Tak salah jika Rival mengatakan seperti itu karena pada dasarnya sulit memberi maaf pada seseorang yang telah mencelakainya.


"Kalau kamu sendiri gimana, apa yang kamu rasakan menghadapi sikap ku saat itu?" tanya Rival beralih bertanya tanya Revalina.


Bibir Revalina mendadak kaku saat itu juga, tak mampu menjawab pertanyaan Rival secara langsung.


"Emmm," gumam Revalina bingung mau jawab apa.


Rasanya ia ingin tak menjawab pertanyaan Rival, namun melihat raut wajah Rival yang seolah menunjukkan bahwa ia tengah menunggu menjawab pertanyaan darinya.


"Waktu itu aku nggak ada rasa apa-apa cuma kepengen kamu mengerti saja kalau aku juga korban fitnahan Akram dan aku ingin memperbaiki diri," jawab Revalina secara jelas.


"Tapi pasti kamu punya rasa kesal sama aku," ucap Rival kembali menodong Revalina dengan ucapannya.


"Jujur ada, sesekali waktu kamu usir aku. Tapi aku juga sadar diri karena posisi ku juga salah," ucap Revalina secara terang-terangan tak melebih-lebihkan atau malah mengurang-ngurangi.


Tiba-tiba tangan Rival mulai menggenggam kedua tangan Revalina, mengelus lembut jari-jari dan punggung tangannya seraya menatap dengan binar-binar kata yang perlahan berubah jadi berkaca-kaca.


"Maaf ya Reva, andai sejak awal aku mau dengar penjelasanmu pasti kau nggak akan mengalami rasa sakit itu," ucap Rival lirih sedih.


Sontak Revalina tercengang mendengar dan melihat secara langsung Rival meminta maaf padanya, baginya sungguh di luar nalar seorang korban meminta maaf pada pelaku yang hampir saja menghilangkan nyawanya.


"Mas, justru aku yang minta maaf. Aku sudah membuat mu jadi begini, kamu nggak ada salah sama sekali sikap mu waktu itu sangat wajar," sahut Revalina langsung membalas genggaman tangan Rival dengan sedikit panik.


"Nggak, selama ini kamu terus yang minta maaf. Sekarang gantian aku yang minta maaf," ucap Rival kekeh dengan anggapannya.


Meski sudah beberapa Minggu berlalu, mereka kembali saling memaafkan satu sama lain, ini semua gara-gara mengungkit kembali masa-masa selama hubungan mereka tidak membaik lalu berbuntut saling menanyakan perasaan dan pada akhirnya saling maaf memaafkan.


Sore itu setelah ngopi-ngopi santai, memperbincangkan banyak hal hingga lupa waktu. Tak lama terdengarlah suara adzan yang mampu membubarkan perbicangan mereka lalu membawanya ke masjid terdekat.


Rival dengan di bantu karbit masjid mengambil wudhu dan mempersiapkannya untuk sholat, saat itu Revalina merasa tenang melihat ada yang menjaga Rival meski ia tak berada di sampingnya walaupun sedih karena terpisah.


Sore itu Revalina menumpahkan air matanya selepas salam terakhir, ia benar-benar menumpahkan semuanya di hadapan Allah atas apa yang sudah dilaluinya.


Atas izin Allah pernikahannya selamat dan membaik, itu berkat kuasa Allah melalui tangan-tangan orang yang ada di sekitar Revalina yang selalu memberinya uluran tangan dan saran untuk terus bersabar, kini ia telah menerima buah dari kesabarannya.

__ADS_1


Tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa bahagianya saat ini, di akhir doanya ia meminta pada Allah untuk menyembuhkan suaminya dan membuat pernikahannya semakin bahagia.


***


Kerja di hari kedua, jam sudah menunjukkan pukul 06.40 namun Revalina masih sibuk menyiapkan hasil masakannya ke atas meja dengan mengenakan kemeja dan rok span hitam serta sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi berjalan kesana kemari mengambil masakannya yang ada di dapur.


"Reva, kalau nggak sempat ya sudah nggak usah masak kan aku sudah bilang. Lihat ini sudah jam berapa," tegur Rival dengan wajah cemas.


"Santai dulu lah Mas, aku telat masuk tuh nggak papa," sahut Revalina dengan santainya.


"Ya itu memang kantor punya almarhum papa mu tapi bukan berarti kamu menggampangkan, kamu harus kasih contoh yang baik buat karyawan lain," tegur Rival kembali.


"Iya-iya," sahut Revalina pasrah lirih.


Tak ada kata yang bisa ia ucapakan selain "iya."


"Ma, sarapan dulu Ma," ajak Revalina sesaat setelah melihat Candini keluar dari kamarnya.


Dengan langkah terseok-seok, malas. Candini mulai menggerakkan tungkainya menuju ke ruang makan. Tiba di sana Rival dengan sigap memundurkan kursi untuk sang Mama, meski merasa kesulitan namun dirinya tatap melakukan apa yang dilakukannya dulu.


"Mama, mau minum jus atau susu?" tanya Revalina masih terus melayani mertua dan suaminya.


"Susu saja," jawab Candini dengan mata yang enggan menatap Revalina.


"Oke, kalau Mas Rival mau apa?" tanya Revalina beralih Rival.


"Sama," jawab Rival.


Mendengar jawaban keduanya Revalina bergegas pergi ke dapur mengambil tiga susu untuk dirinya juga, sepeti biasa meski sarapan mereka sangat berat namun tetap minum susu.


Dalam hati Revalina terus menunggu tubuhnya akan melar pada waktunya tiba, setelah menikah banyak sekali perbedaan yang membuatnya harus kembali adaptasi.


Tak lama setelah mengambil dan meletakkan masing-masing gelas berisi susu di samping suami dan mertuanya, Revalina pun cepat-cepat duduk mengambil giliran untuk mengambil makanan secukupnya.


"Kau mau sekalian bawa bekal nggak?" tanya Rival langsung menghentikan kunyahannya.


"Enggak Mas, nanti kita beli saja," jawab Revalina.


Selama sarapan pagi berlangsung tak ada kata keluar dari mulut Candini, dia lebih memilih bungkam seribu bahasa dengan tatapan matanya yang kosong. Sejak saat itu kondisinya memang seperti ini namun sekarang semenjak diurus Sarah mulai mau keluar dari kamarnya.


Tepat jam 07.00 Sarah datang dengan tergesa-gesa, merasa jika dirinya telah terlambat, saat itu Revalina tak menyalahkan Sarah sebab ia pun baru selesai sarapan dan menyelesaikan pekerjaan rumah.


Setelah memastikan mertuanya aman bersama Sarah, barulah ia bisa lega melepasnya dan bisa pergi ke kantor dengan tenang.


Selama dalam perjalanan Rival tak berhenti menegurnya, apalagi ketika melihat jalanan yang macet, penuh dengan orang-orang yang buru-buru hendak masuk ke kantor juga ke sekolah.


Jam segitu masih banyak orang-orang dengan seragam putih abu-abu bertebaran dimana-mana, melihat hal itu Revalina seperti mendapatkan ide untuk mengalihkan pembicaraan dari pada Rival terus menegurnya.


"Anak-anak jaman sekarang seragam bisa di modif begitu, dandan cantik, pakai sepatu trendy dan bisa masuk kelas sesuka hatinya," ucap Revalina sembari memandangi anak SMA yang sedang naik motor di setiap sisi mobilnya.


"Itu mah titisan Revalina, suka membangkang dan menyalahi aturan sekolah. Siswa yang keren itu bisa datang tepat waktu dan ikuti semua aturan yang ada, bukanya malah seperti itu," sahut Rival dengan tak terima.


"Huhhh," Revalina mulai menghembuskan nafas beratnya.


Lagi-lagi tetap kena saja dirinya, agaknya pagi ini tak ada celah untuknya mengalihkan pembicaraan semua terasa salah dan terus menjurus pada dirinya, entah pengalihannya yang kurang tepat atau bagaimana, ia tak tahu.


Beberapa lama kemudian akhirnya mereka tiba di kantor, dengan cepat Revalina mendorong kursi roda Rival menuju ke lift yang ada di lantai satu itu.


"Reva, sudah kau masuk duluan saja aku bisa menyusul," pinta Rival pada Revalina.


"Tanggung Mas, lagi pula aku mau berangkat jam 10 juga nggak masalah. Santai saja," sahut Revalina tahu kemana arah pembicaraan Rival.


Padahal jantung Revalina sudah tak karuan mengingat CEO itu sudah kembali ke kantor, sejak semalaman ia sudah membayangkan sosok CEO itu yang pastinya orang-orang di atas 50 tahun dengan masa kerja paling lama di kantor ini serta selau menduduki bagian-bagian penting.


Terbayang bagaimana rasa takutnya ia menghadapi orang seperti itu dengan kesalahannya yang sudah terlambat masuk ke dalam kantor mesku kantor itu miliknya juga.


Tiba di lantai ruangan kerjanya, ia melihat satu lantai pada ruangan itu sepi seperti tak berpenghuni sama seperti lantai bawah yang hanya ada resepsionis dan security di sana.


"Mas, apa aku salah hari ya?" tanya Revalina lirih, lemas.


Bersambung


Ada yg punya I n n o v e l?

__ADS_1


Baca novel Emma Shu judul Benih Satu Miliar di sana


__ADS_2