Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Balasan Setimpal


__ADS_3

"Memberi keterangan palsu itu bukan membantu namanya tapi malah makin menjerumuskan adik saya ke lembah hitam," tegas Yakub.


Terlihat amarah Yakub terus berkobar, sementara itu Rival juga hendak menyusul amarahnya namun masih sesekali tertahan oleh perasaannya yang sangat menyayangi adik perempuan satunya.


"Mohon maaf Pak Probo, kalau tawaran Bapak tetap merubah BAP saya rasa suami dan adik ipar saya nggak akan mau. Dari pada suasana semakin memanas lebih baik Bapak pulang," ucap Sarah dengan baik-baik.


Seluruh pasang mata langsung tertuju pada Sarah, termasuk Rival yang baru saja bergabung tapi pengacara ini justru diusir oleh Sarah.


"Baik kalau begitu, saya kasih waktu kalian untuk berpikir kembali. Dalam hidup memang keadilan itu perlu ditegakkan tapi hubungan darah itu lebih kuat dari pada seseorang istri, jangan sampai kalian menyesal kehilangan Dalsa berikut dengan Bu Candini," ucap Probo untuk terakhir kali.


"Saya permisi," pamitnya beranjak pergi dari rumah.


Seorang ajudan di teras langsung sigap memayungi Progo hingga masuk ke dalam mobil, dilihat dari wajahnya, tutur kata, gerak-gerik, apa yang dibawanya dan dikenakan Rival merasa dia bukan pengacara sembarangan.


"Kenapa Kakak usir dia, padahal aku masih mau maki-maki. Aku yakin dia yang punya ide begini nggak mungkin Mama tahu kalau BAP bisa dirubah," gerutu Rival dengan nada kesal.


"Kau yakin mau salahkan aku?" tanya Sarah lebih kesal lagi.


"Mas, gimana sih masak mie ditinggal jadi gosong tuh," amuk Revalina menghampiri ke ruang tamu, merengek kesal.


Seketika semua ketegangan tiba-tiba terpaksa hilang ketika Revalina datang, bahkan Rival langsung beranjak menyambut Revalina dengan senyuman termanisnya.


"Ada apa Reva?" tanya Rival dengan nafas yang tiba-tiba terengah-engah.


"Itu Mas, kamu tadi lupa ya lagi rebus mie instan," jawaban Revalina kesal.


Saat itu juga semua ikut beranjak, merespon kekesalan Revalina lebih tepatnya mendukung.


"Gimana sih, ceroboh sekali jadi orang," gerutu Yakub ikut kesal.


"Jadi apa sekarang dapurnya," teriak histeris Sarah langsung berlari ke arah belakang.


Sarah panik langsung berlari ke arah dapur, dia terlihat sangat menyayangi dapur layaknya seorang wanita yang sudah menikah pada umumnya.


"Tuh gara-gara kamu tuh," gerutu Revalina sembari menunjuk ke arah Sarah yang kini telah menjauh pergi.


"Kenapa jadi aku?" tanya Rival melirik sinis enggan di salahkan.


"Gimana sih orang dia yang masak Mie, siapa lagi yang salah," sahut Revalina makin kesal.


"Sudah-sudah ini mau sampai kapan berantem terus yang ada keburu kebakaran ini rumah," ucap Yakub mulai melerai dengan cara melintas di tengah-tengah mereka.


Kini Yakub mulai menyusul Sarah yang sudah ada di dapur, laku tak lama Rival dan Revalina pun ikut menyusul.


Setibanya di sana, tak ada yang parah hanya saja panci kecil itu gosong tak ada air yang tersisa hal ini sungguh tak seimbang dengan teriakan Revalina yang begitu mengejutkan tadi. 


"Alhamdulillah," ucap Sarah sembari menghembuskan nafas leganya.

__ADS_1


"Alah cuma panci yang gosong, aku kira dapur ikut gosong," gerutu Rival melirik kesal ke arah Revalina.


"Tapi kalau air sampai habis begini bisa kebakaran betul, untuk Reva tadi lihat kalau enggak sudah aku jadikan mangsa serigala kau," sahut Yakub membela Revalina.


"Sudah, lain kali para laki-laki kalau mau makan apa-apa suruh aku atau Revalina saja yang masak. Para laki-laki di larang masuk dapur!" tegas Sarah sembari terus memegang dadanya.


Mendengar ucapan Sarah, Rival dan Yakub reflek saling bertatapan. Rival menatap lemas sementara Yakub menatap seakan mengisyarakatkan bahwa Yakub menyalahkannya atas turunnya larangan ini.


"Kenapa begitu Mbak, aku itu bisa masak Mbak cuma tadi lagi lupa saja," jelas Rival memohon kepercayaan Sarah.


Kepala Sarah terus menggeleng, menolak ucapan Rival sementara itu Revalina terlihat begitu senang dengan peraturan baru yang Sarah buat.


"Bagus Mbak, biar nggak merusak dapur lagi," ucap Revalina mendukung Sarah.


Hari itu tanpa omongan resmi semua paham dengan apa yang harus dilakukan masing-masing untuk menjaga rahasia bahwa Candini sudah menggaet pengacara untuk menyelesaikan kasus, namun di balik itu Yakub berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya agar pengacara-pengacara itu tak lagi mengawal kasus ini.


Jadi bukan berarti menutupi adanya langkah yang diperbuat Candini untuk kebebasan Dalsa disetujui oleh mereka, namun mereka sepakat ingin menjadikan Dalsa orang yang punya minimal etika dan adab dan pendidikan seperti itu langka dan hampir saja musnah.


Rival sebagai kaum ikut-ikut, akhirnya memutuskan untuk sepaham dengan Yakub dan Sarah.


'Lebih baik aku sepaham dulu, urusan nanti gimana-gimana ya biarlah jadi urusan nanti tiga Dalsa ada Mama dan Revalina adak Yakub yang bisa membela di setiap saat,' gumam Revalina dalam hati.


Malam harinya ia dikejutkan dengan kiriman file berisi surat undangan dari kantor polis seluruh keluarga Dalsa melakukan pemeriksaan ulang.


"Hah, apa-apaan ini. Perasaan aku nggak minta BAP ulang," ucap Rival bertanya-tanya, ia masih tak connect dengan otaknya yang mulai lelah memikirkan permasalahan yang hanya seputar itu saja.


"Hust, jangan kencang-kencan di halaman belakang ada Revalina," Sarah tiba-tiba muncul dari belakang.


POV Revalina.


Keesokan harinya Revalina mendapat kabar dari Rafa di kantor bahwa Dalsa telah membuat keterangan bahwa Akram terlibat dalam pembunuhan tersebut, sehingga kini Akram tengah dalam upaya penangkapan.


"Hah, serius ini Dalsa bilang begitu Kak?" tanya Revalina antara percaya dan tidak percaya.


"Iya, tapi kan ada benarnya dia bilang begitu memang Akram terlibat," jawab Rafa dengan nada serius.


Apa yang di katakan Rafa memang benar tapi yang ada di pikiran Revalina saat ini adalah tuduhan Dalsa pada Akram justru memvalidasi laporan yang ada tentang dirinya sendiri.


"Iya kalau itu aku tau Akram terlibat meski di suruh tapi dia memang ada dendam tersendiri, tapi buat aku speechless adalah dengan Dalsa bilang begitu berarti secara nggak langsung dia mengakui perbuatannya," ujar Revalina dengan kedua mata yang membesar serta senyum lebar.


"Hah," Rafa baru terkejut.


"Oh iya, kenapa aku baru kepikiran. Iya ya, memang ya kalau keburukan mau disembunyikan di lobang semut juga bakal ketahuan juga," sahut Rafa.


"Benar Kak, dan satu lagi karma. Aku percaya karma itu ada, jadi seandainya mereka nggak dapat hukuman yang adil aku percaya tangan Tuhan yang akan bergerak langsung menegur mereka," ucap Revalina dengan amarah menggebu-gebu teringat kembali dengan video penyiksaan Rajani.


Meski sadar bahwa Yakub tak akan membiarkan hal itu terjadi akan tetapi ia sebagai seorang manusia tak akan pernah tahu hati manusia lain, sekalipun itu suami sendiri karena lawannya saat ini adalah iparnya sendiri.

__ADS_1


Saat Revalina menyebut "karma." Seketika Rafa tak berkedip menatap Revalina dengan tatapan kosong.


"Kak, hello. Jangan melamun begitu ah," ucap Revalina sembari melambaikan tangan tepat di depan muka Rafa.


Sontak Rafa langsung tersadarkan dari lamunannya sesat setelah Revalina melambaikan tangan.


"Aku bukan melamun cuma lagi berpikir saja, beberapa hati lagi akan ada proses sidang dan aku belum hubungi pengacara sampai sekarang. Aku takut kita justru kalah dalam persidangan," jelas keresahan Rafa.


"Ya sudah Kak, cari saja pengacara kenalan Kakak siapa kek kan banyak kenalan Kakak yang jadi pengacara," sahut Revalina dengan santainya.


Rafa terdiam beberapa detik seakan memikirkan ucapan Revalina, tak bisa dipungkiri segala langkah yang ditempuh dalam permasalahan ini begitu berat karena Dalsa adalah adik kandung Rival.


"Semua nggak sesimple itu, ada perimbangannya, ini bukan lagi soal Dalsa tapi dua keluarga yang terlanjur menyatu," ujar Rafa dengan tatapan kosong.


Kini giliran Revalina yang termenung memikirkan ucapan Rafa, ia jadi berpikir apakah Rafa menyesal menikahkan dirinya dengan Rival. Di satu sisi ia bersalah karena tak memberi tahu Rafa dari awal, jika tak termakan hasutan Akram mungkin saja semua tak akan serumit sekarang.


Hari ini Revalina berangkat ke kantor seorang diri setelah mengalami insiden kebakaran kemarin, Rival sebenarnya ingin ikut namun pagi-pagi izin tidak ikut ke kantor dengan alasan ingin bertemu dengan partner bisnisnya.


Beruntung di hari pertama berkerja kembali Revalina tak diberi tugas berat melainkan hanya melakukan pengecekan ulang dan menginput data, 


Sesekali Revalina ke pantree seorang diri membuat kopi untuk dirinya sendiri, saat melintasi banyak ruangan demi ruangan lantai demi lantai ia merasakan kembali jadi trending topik di kantor dengan masalah yang berbeda. Banyak kaum hawa yang tak bisa mengontrol nada bicaranya sehingga Revalina bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan di belakangnya.


'Begini rasanya hidup dengan banyak masalah, di satu sisi anak pemilik perusahaan. Auto jadi pembicaraan sepanjang tahun,' ucap Revalina dalam hati.


Cepat-cepat ia membuat kopi laku setelah itu bergegas pergi dari sana. Beberapa menit kemudian ia baru menyesali aksinya keluar dari ruangan pergi ke pantree seorang diri.


"Tahu begitu aku tadi suruh office boy saja," gerutu Revalina lirih kesal.


"Reva, kebetulan sekali kau ada di sini," panggil Joseph melangkah cepat mendekati Revalina.


Melihat Joseph mencari-carinya seketika membuat Revalina jadi tegang, apalagi melihat nafasnya yang begitu terengah-engah.


"Iya, ada apa Pak?" tanya Revalina menatap bingung.


"Sebentar aku nafas dulu," ucap Joseph dengan nafas terengah-engah.


"Silahkan Pak," sahut Revalina memberikan waktu untuk Joseph bisa mengatur nafasnya.


Beberapa puluh menit kemudian dengan nafas yang masih terengah-engah, Joseph kembali bersuara namun kali ini dengan vibes yang berbeda, begitu serius hingga membuat Revalina deg-degan.


"Tadi ada polisi masuk ke ruangan ku, mereka tanya keberadaanmu karena di ruangan nggak ada," ujar Joseph.


"Hah," desah Revalina terkejut setengah mati dengan aduan Joseph padanya.


"Kenapa bisa ada polisi mencariku, memangnya aku habis berbuat apa?" tanya Revalina bingung, pusing tujuh keliling memikirkan hal ini.


Kening Revalina seketika langsung mengerut tajam, berpikir keras. Pikirannya tertuju pada Dalsa, hanya Dalsa yang ada dipikirannya ketika mendengar profesi polisi disebut.

__ADS_1


"Ada apa Pak, polisi-polisi tadi bilang apa?" tanya Revalina mulai panik.


Bersambung


__ADS_2