Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sial


__ADS_3

"Kalau perkiraanku, ya dia lagi kesal sama seseorang di Masjid tadi, dulu waktu dia kecil juga sering begini, santai saja biarkan dia lama-lama juga balik lagi ke setelan awal," ujar Yakub dengan kalimatnya yang berujung candaan.


Mendengar penjelasan Yakub membuat Revalina mencoba untuk mengikutinya, tak ada salahnya sebab Yakub adalah orang yang puluhan tahun bersama Rival dan tahu jelas apa yang sudah dilalui adiknya.


Revalina hanya bisa terdiam tak bisa berkata-kata lagi, baginya penjelasan Yakub sudah cukup jelas baginya.


Keesokkan hatinya satu rumah disibukkan dengan persiapan menuju ke pengadilan untuk menghadiri persidangan pertama kasus kematian Rajani, semua nampak antusias kecuali Rival dia terlihat begitu tak bersemangat bahkan terbilang orang terakhir yang bersiap-siap pagi itu.


"Rival, jam sidangnya memang jam 9 tapi sebelum itu kita harus ada persiapan," tegur Yakub.


"Iya," sahut Rival singkat.


"Iya-iya saja," gerutu Yakub dengan nada kesal.


Akhirnya Yakub melenggang pergi meninggalkan Rival yang baru saja membersihkan diri.


Melihat hal itu Revalina hanya bisa diam, lalu bertanya-tanya dalam diamnya. Ia masih bingung dengan sikap Rival saat ini.


'Awet sekali sikap dinginnya Mas Rival, kata Kak Yakub nggak lama juga balik lagi. Lah ini apa sampe seharian tetap begini,' ucap Revalina dalam hati sembari terus memandangi suaminya dari kejauhan.


Ting ting ting ting ting.


Dering ponsel Revalina, sontak ia pun bergegas meraih ponsel dari saku celananya. Terlihat Rafa kini tengah menghubunginya, lalu di saat yang bersamaan Sarah mendapatkan telfon entah dari siapa yang membuat dia menjauh mencari tempat yang berjarak dengannya.


Tak tunggu waktu lama lagi, dengan cepat Revalina mengangkat telfon dari Rafa.


Revalina: Hallo Kak, Assalamualaikum.


Rafa: Waalaikumsalam.


Revalina: ada apa Kak?.


Rafa: cuma mau ngingetin kalau kamu nanti nggak duduk di belakang tapi duduk di meja para lawyer, kita berdua ada di sana.


Revalina terdiam sekejap mencermati ucapan Rafa yang di rasa aneh dan tak masuk kala baginya.


Revalina: kenapa aku ahrus duduk di sana, kan aku bukan pelapor.


Rafa: tapi kamu juga keluar korban yang punya banyak kunci untuk membuka kedok Dalsa.

__ADS_1


Revalina: ya sudah terserah, gimana baiknya saja.


Rafa: nggak ada rasa enak nggak enak ketika di persidangan kau harus profesional utarakan semuanya apa yang kamu tahu.


Revalina: iya kak.


Perbincangan keduanya hanya seputar itu, hingga tibalah saatnya Revalina mulai bergegas berangkat dengan cepat ia berpamitan untuk menyudahi telfon dari Rafa. lagi-lagi disaat yang bersamaan Sarah pun juga batu saja menutup telfonnya.


'Mbak Sarah lagi teleponan sama siapa ya,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


"Ayo Reva," ajak Sarah.


"Iya Mbak," sahut Revalina mulai melenggangkan kakinya sembari meraih tasnya yang ada di atas meja.


Pagi itu dengan sengaja Revalina mengenakan kemeja dan jas sebab seketika sidang selesai ia harus tetap masuk kantor.


Selama di perjalanan menuju ke pengadilan Rival terus terdiam tak mengajaknya untuk berbicara sedikitpun, sesekali Revalina coba meliriknya namun makin lama lelah juga melirik orang dengan jangka waktu yang lama namun tak dilirik balik akhirnya Revalina hanya bisa mendiamkannya sampai dia mau bicara sendiri nantinya.


Sesampainya di persidangan keduanya terusĀ  saling diam, hingga pada saat persidangan di mulai ketika ia menyampaikan jawabannya ketika langsung bertanya.


Selama proses sidang berlangsung, Revalina tahu bahwa Dalsa sekarang ini begitu terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan lawyer dari pihak Revalina dan keluargaku.


'Pantas saja Mbak Sarah hari itu langsung pulang, nggak menginap lagi di sana," ucap Revalina dalam hati.


Beberapa jam kemudian akhirnya sidang ditutup dengan ketukan palu hakim.


Tok tok.


Seketika semua langsung bubar termasuk hakim sendiri.


Saat itu juga Revalina dan Rafa bersalaman dengan para lawyernya yang sudah bekerja secara total dalam persidangan ini.


"Nggak salah aku pilih lawyer muda, ternyata kerjanya bagus juga," ujar Rafa sembari tersenyum-senyum menatap mereka semua.


"Terimakasih semua," ucap Revalina pada semua tim lawyer termasuk Levin sebagai pemilik PH.


"Sama-sama," sahut mereka semua.


Di sebrang sana tak sengaja Revalina melihat lirikan Dalsa dan Candini yang begitu menukik tajam ke arahnya padahal mereka semua tengah berdiskusi dengan lawyer arogan itu.

__ADS_1


*****


POV Akram.


Di malam itu dengan badan sekujur tubuh yang dipenuhi luka lebam hingga membuat kakinya cedera, pada akhirnya kakinya tak bisa lagi bergerak, lalu setelah menyantap roti dan menutupnya dengan tegukan air mineral, ia memutuskan untuk tidur di pinggir ruko tersebut.


"Bangun, hey bangun," bentak seseorang.


Suara bentakan tersebut seketika membuat Akram terbangun dari tidurnya, terlihat sosok wanita bertubuh gemuk kini tengah menendanginya dengan kaki yang pada tumitnya terlihat pecah-pecah.


"Hey malah bengong, pergi sana," usir wanita itu kembali.


Karena kesal d Ngan wanita itu Akram pun akhirnya segera beranjak dengan tubuh oleng karena hanya satu kakinya yang bertumpu.


Tak hanya itu rasa sakit di seluruh tubuhnya secara bersamaan kembali terasa menghantam tubuhnya sesaat setelah dirinya terbangun.


Ia langsung meraih satu botol air mineral sisa yang ia punya, lalu meraih pula kotak p3k milik laki-laki yang menolongnya semalam.


"Pergi sana jangan pernah kembali lagi," ucap wanita itu meneriaki Akram dari belakang.


'Kurang ajar sekali wanita tua itu, awas saja aku bakal sumpahi mampus kau,' ucap Akram dalam hati sembari terus melangkahkan kakinya dengan langkah terpincang-pincang.


Di jalanan tepatnya pada trotoar pinggir kota Akram bersimpangan dengan banyak orang, sadar kondisinya yang babak belur sepeti ini membuat seluruh pasang mata ketika melihatnya selalu menunjukkan reaksi muka yang gak mengenakkan.


"Mama lihat paman itu kakinya pincang," ucap seorang anak kecil pada ibunya sembari menunjuk ke arah Akram.


Saat itu Akram masih bingung dengan mereka semua, di tengah rasa bingungnya yang belum terjawab tiba-tiba anak kecil tadi menghampirinya sembari memberikan selembar uang dengan nominal lumayan rendah ke Akram.


Dengan posisi masih melongo nyatanya tangan Akram memiliki reflek yang bagus, langsung menerima uang tersebut.


"Yee di terima," ucap anak kecil itu kegirangan berjalan kembali ke arah Ibunya yang menunggu di sana.


"Terimakasih Adek," ucap Akram lirih mengingat anak kecil itu sudah semakin jauh dari pandang matanya.


Melihat uang yang bisa ia dapatkan secara cuma-cuma akhirnya membuat kepala Akram traveling kemana-mana, kini pandangan matanya tertuju pada perempatan lampu merah yang tak jauh darinya.


"Ramai juga di sana, sepetinya aku bisa manfaatkan keramaian di sana," ucap Akram sembari tersenyum tipis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2