Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pergilah


__ADS_3

"Chesy," panggil Cazim.


"Ya?" Chesy menoleh dengan tatapan risau.


"Kau tidak apa-apa?"


"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu," sahut Chesy. Hatinya kebas dengan situasi ini. Entahlah, ia bingung. Disaat ia mencintai Cazim dan berharap bisa menjalani rumah tangga semestinya, malah berbagai ujian datang menghantam. Setelah ia tahu kalau Cazim adalah pembunuh ibunya, sekarang pun suaminya itu malah ditangkap polisi atas kasus lain. Lalu bagaimana dengan janin di kandungannya? Haruskah terlahir tanpa seorang ayah?


"Jangan sedih!" Cazim meraih jari tangan Chesy. "Kau terlihat sedih sekali. Aku tahu kasus ini membawa dampak buruk terhadap kau dan keluargamu, ini akan menjatuhkan nama baik keluargamu. Tapi aku janji akan atasi ini, untukmu." 


Bukan itu alasan Chesy bersedih. Ah, tapi Cazim tidak akan pernah mengerti.


"Nama baik keluargamu akan aku jaga," imbuh Cazim seolah beranggapan bahwa kesedihan Chesy terletak pada rasa takut akan runtuhnya nama baik keluarganya.


"Dan soal keinginan abimu, ini pasti yang membuatmu menjadi risau kan? Aku akan pastikan orang tuaku menemui abimu, dengan atau tanpa aku. Di sini, aku akan menyelesaikan masalahku," ucap Cazim lagi.


Chesy tidak menjawab, ia malah meneteskan air mata.  Ia benci sekali dengan situasi cengeng begini, tapi entahlah.  Ia merasa ingin menangis di saat seperti ini.  Bawaannya kesal dan sedih.  


“Chesy, kau harus kuat.  Aku tahu kau wanita garang dan galak.  Mana mungkin situasi seperti ini membuatmu jatuh.  Ayolah, jangan menangis lagi.”  Cazim berusaha menenangkan Chesy.  Setelah kalimat yang dia ucapkan itu, dia bingung harus berkata apa lagi untuk menenangkan sang istri.


Cazim benar- benar kelimpungan jika sudah melihat Chesy menangis.  Bingung caranya menenangkan.  


Akhirnya Cazim meraih pundak Chesy dan merangkulnya erat.  “Sudah, jangan menangis.  Aku tidak pantas untuk ditangisi.”


“Berusahalah untuk bebas.  Mungkin aku salah karena mengharapkanmu bebas disaat kamu sudah melakukan kesalahan, tapi aku butuh kamu,” lirih Chesy.

__ADS_1


Mendengar kalimat itu, Cazim pun menyatukan kedua lengannya ke punggung Chesy.  Ia menarik sudut bibirnya.  Tanpa perlu Chesy bicara secara terang tentang perasaannya, cukup dengan kalimat itu, Cazim sudah mengerti bahwa Chesy masih memiliki rasa cinta terhadapnya.


“Aku jahat ya?  Sudah membuat banyak masalah di hidupmu.  Tapi seharusnya kau jangan menangisi aku.  Kalau menangis pasti bibirnya beleberan,” bisik Cazim membuat Chesy memundurkan badan, cepat mengusap wajah dan membersihkannya dari lelehan air mata. 


Chesy mencubit pinggang Cazim sangat kuat.  Pria itu hanya meringis kecil.  Dia terlihat tenang dan bahkan ada senyum kecil di wajah itu.


“Ini nggak lucu.  Bukan saatnya bercanda dengan konyol,” kesal Chesy, namun juga ingin tersenyum karena merasa terhibur.


Senyum kecil di wajah Cazim masih kelihatan.  “Aku tidak mau melihatmu menangis.  Kau terlihat jelek saat menangis.  Lihatlah, hidungmu pun memerah seperti jambu.”


Ya ampun, bisakah Cazim menunda momen komedi tidak bermutu itu?


“Maaf.  Aku sudah membuat pertemuan abimu dengan papaku terkendala,” ucap Cazim.  Kali ini tampak lebih serius.


“Lupakan.  Lupakan itu.  Aku hanya ingin kamu bebas, itu aja.”


“Ini kan baru penahanan saja.  Proses yang aku jalani ini masih sangat panjang.  Kalau pun aku dipenjara, maka kau gugat cerai saja aku.  Kau boleh mencari kebahagian lain. Kutunggu gugatanmu. Carilah sosok yang pantas untukmu," ucap Cazim.


Tangan Chesy mengepal. Hatinya kebas. Tubuhnya bergetar. Perkataan Cazim membuatnya runtuh. “Jangan bicara kebodohan.  Kamu yang baru aja bilang kalau kamu akan menyelesaikan masalahmu ini, kamu akan pertemukan abi dan papamu, dengan atau tanpa kamu.  Lantas apa maksud ucapanmu ini?”


“Untuk mempertemukan abimu dengan orang tuaku, mungkin itu bisa kulakukan, tapi untuk kebebasanku, aku tidak bisa menjaminnya.  Aku akan atasi ini, tapi jaminan lepas dari tahanan tidak bisa aku pastikan.”


Chesy memukul pipi Cazim dengan telapak tangannya cukup kuat, membuat Cazim memejam sebentar dan mengelus pipinya yang mendadak memerah. Ia tampak biasa saja meski dipukul sekeras itu.


“Kalau kamu nggak mau berjuang, ya udah.  Mendingan nggak usah pikirkan aku sekalian.  Aku maunya kamu bebas dan mempertanggung jawabkan semua itu tanpa harus dipenjara.  Pikirkan aku!  Pikirkan anakmu!”

__ADS_1


Ekspresi Cazim yang sejak tadi tampak tenang, mendadak tegang.  Apa tadi?  Anak?


“Chesy, kau tidak salah bicara?”


“Ada anakmu di perutku.  Apa kamu nggak mau berjuang untuk anakmu?” ketus Chesy.


Sekarang Cazim bingung harus senang atau sedih.  Di tengah masalah pelik yang menimpanya, muncul kabar gembira.  Dan kenapa peristiwa itu harus terjadi di saat istrinya sedang hamil?


“Pergilah temui papa di kantornya.  Katakan semuanya kepadanya.  Katakan bahwa kau mengandung cucunya, dan dia harus menemui abi.  Katakan juga padanya, bahwa aku sedang berada di sini.”  Cazim mengabaikan dendam dan kebenciannya terhadap papanya, seketika itu juga.  Sebesar itukah efek dari kabar tentang keberadaan bayi di perut Chesy?  Sampai-sampai ia lupa dengan dendamnya selama ini.


Chesy terdoam dengan luka yang sulit dijabarkan.


“Aku belum sempat menemui papa.  Pertemuan itu ternyata sulit sekali. Aku sempat pergi ke kantornya dan menitipkan pesan ke resepsionis, tapi tidak ada tanggapan sampai sekarang,” ucap Cazim yang tidak ditamggapi olej Chesy karena terlanjur kecewa.


“Saudara Cazim, waktu Anda sudah habis!”  Seorang pria berseragam menghampiri Cazim.


Cazim mengangguk. Ia bangkit bersama dengan Chesy yang juga berdiri.  Ia lalu menyebutkan nama sebuah perusahaan milik papanya.  “Pergilah!”


Chesy menunduk.


Cazim meraih pipi Chesy dan mendaratkan kecupan di kening istrinya, membuat polisi jomblo itu jadi galau tingkat akut.  


Chesy segera balik badan, meninggalkan Cazim. Sengaja ia balik badan duluan dan tidak mau melihat punggung Cazim meninggalkannya.  Biarlah ia egois untuk sesaat.  Lebih baik Cazim yang melihatnya pergi dari pada ia yang harus melihat punggung Cazim meninggalkannya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2