Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Lampu


__ADS_3

Chesy keluar dari kamar dan menuju ke kamar sebelah.  Ia memutar kunci dan membuka pintu.  Kunci kamar itu dipegang olenya. Ia tahu Senja tidak akan mungkin bisa membuka pintu karena mengaku tidak bisa berjalan. Maka di sini Chesy lah yang mesti berperan membuka dan mengunci pintu.


Klik.


Chesy menekan saklear lampu hingga menyala.


“Mau buang air kecil, hm?” tanya Chesy degan kedua tangan melipat di dada.


Senja menggaruk pelipis, ia sadar ternyata Chesy yang membuka chat.


“Iya.  Aku kan tidak tahu berapa nomer ponselmu, jadi aku kirim pesan ke Cazim untuk minta bantuan.”  Senja tersnyum.  “


“Ayo, aku bantu!”  Chesy menjulurkan tangannya berniat membantu.


“Memangnya kamu bisa gendong aku ke kamar kecil?”


“Nggak perlu harus digendong, Senja.  Kalau Cuma melangkah beberapa meter aja, kamu bisa jalan pakai satu kaki kok.”


“Satu kakiku juga sakit.  Aku tidak bisa menahan kakiku.  Kenapa tidak Cazim saja yang membantuku?”


“Ayo kemari!”  Chesy menarik lengan Senja dan memaksanya turun.  Dia merangkul pundak Senja dan melingkarkan lengan gadis itu ke lehernya, lalu dipapah menuju ke kamar kecil.


“Aduduuh..” Senja terus merintih ketika memaksa diri untuk berjalan dengan satu kaki.


“Aku menahanmu, jadi jangan cemas.”  Chesy mengantar sampai ke kamar kecil.  “Apa perlu kutunggu di sini?” 


Senja menggeleng.  “Keluarlah.”


Setelah selesai, Senja berteriak memanggil Chesy.  Kembali Chesy memapah Senja dan membimbingnya ke kasur.


“Tidurlah!”  Chesy meninggalkan kasur.  Mematikan lampu dan membiarkan lampu tidur saja yang menyala.  Ialalu kembali ke kamarnya.


Cazim pulas sekali.  Sejak ditinggalkan, sampai kini posisi tidurnya tidak berubah.  Chesy berbaring menghadap Cazim yang miring menghadapnya.  Dia pandangi wajah itu, tampak polos sekali saat tertidur.  Dia memang pria yang tampan.


Chesy mengangkat tangan dan meraba wajah Cazim, entah kenapa ia ingin menyentuh wajah itu, hingga Cazim menggeliat akibat sentuhan tangan Chesy.

__ADS_1


Masih dalam keadaan terpejam, tangan Cazim menangkap tangan Chesy.  Dia menggenggam tangan istrinya meski masih pulas.


Chesy perlahan melepaskan pegangan tangan Cazim.  


Lima belas menit berlalu, Chesy belum bisa tertidur.


Lagi-lagi hape Cazim berbunyi.  Ada chat masuk.  Dari Senja lagi.


.


‘Cazim, aku haus, mau minum. Tapi tidak bisa jalan untuk ambil air.  Bantuin ya.’


.


Ya ampun, bisakah gadis itu tidak mengusik?


Chesy menyibakkan selimut dan turun dari kasur. Meninggalkan kamar, lalu menuju ke kamar sebelah. Ia melihat Senja duduk di atas kasur.  


Senja terkejut melihat Chesy masuk ke kamarnya. Lampu utama yang menyala dengan terang benderang membuat Chesy dapat menangkap jelas wajah Senja yang gugup.


"Aku.... Aku tidak  minta kamu ambilkan kok. Kamu tidak perlu mengambilkan minum untukku kalau tidak ikhlas." Senja menatap wajah tak bersahabat di depannya.


Chesy masih berdiri di dekat pintu. "Siapa bilang aku nggak ikhlas?"


"Ekspresi wajah dan nada bicaramu sudah cukup menjelaskan. Lagi pula aku tidak minta kau untuk mengambilkan minum."


"Maksudmu, kamu nggak minta aku yang ambilkan minum, tapi kamu minta Mas Cazim, begitu?" Chesy mengulum senyum ledekan.


"Kamu tidak boleh ya kalau aku minta tolong ke Cazim?"


"Kamu minta Mas Cazim masuk ke kamar ini, berdua bersamamu di sini, begitu?" Chesy tersenyum sinis.


"Ayolah, Chesy. Jangan sensitif. Aku kan hanya minta tolong saja. Apa itu salah? Lagi pula Cazim hanya mengambilkan air minum saja untukku. Buang pikiran negatif di kepalamu supaya kamu tidak sensitif begini." Senja tersenyum, menganggap apa yang dia lakukan itu hanyalah sebatas pertemanan biasa bagi anak-anak kota, dan tidak ada yangs alah dengan pernyataannya.


Sayangnya tanggapan Chesy berbeda, dia yang aham dengan aturan agama, tentu tidak membenarkan perkataan Senja.

__ADS_1


"Mungkin bagi pergaulanmu itu baik, tapi sayangnya enggak menurutku. Perlu kamu tahu Senja, Cazim itu sudah memiliki istri, jadi tidak wajar jika dia masuk ke kamarmu hanya berdua saja."


"Oh... Pemikiranmu terlalu kolot dan primitif, sama seperti pemikiran nenek-nenek jaman dulu." Senja nyengir.


"Ya sudah, ambil sendiri saja minumnya!" titah Chesy menunjuk gelas di meja.


"Loh, kakiku kan sakit, tidak bisa jalan. Bagaimana caranya aku mengambilnya? Justru aku chat Cazim karena aku tidak bisa mengambil sendiri, makanya minta bantuan Cazim, tapi malah kamu yang datang dan kelihatan tidak ikhlas membantuku."


Chesy tersenyum simpul. "Aku tau kamu bisa ambil minum sendiri, kok."


"Jangan bersikap seperti Tuhan, seakan tahu apa yang aku rasakan."


"Apa menurutmu lampu di kamarmu ini bisa nyala sendiri? Tadi saat aku keluar dari kamar ini, aku sengaja mematikannya supaya kamu bisa bobok nyenyak." Chesy menatap ke arah lampu di plafon atas. "Sakelar lampu ada di dekat pintu ini." Chesy menyentuh sakelar lampu yang berada di sisi bingkai pintu. Posisinya jauh dari ranjang.


Seketika muka Senja memerah. 


"Siapa yang menyalakan lampu? OB? Tapi kunci kamarmu ada sama aku. Sengaja aku pegang kuncinya karena akulah yang bakalan memakai akses kaluar masuk pintu ini, kamu kan nggak bisa jalan, jadi nggak mungkin bida buka tutup pintu. Rupa-rupanya aku dikibulin. Ya udah, pegang sendiri kuncinya." Chesy melempar kunci ke kasur. "Setelah ini, kamu bisa ambil minum sendiri, ke kamar kecil pun sendiri ya, jangan minta bantuan. Awas, bahaya loh ngaku-ngaku nggak bisa jalan. Entar Tuhan kabulkan beneran!" Chesy melenggang keluar, meninggalkan Senja yang menahan muka panasnya.


***


Pagi itu mereka langsung melanjutkan perjalanan setelah sarapan di hotel yang sama. 


Kali ini Senja berjalan sendiri meski dengan tertatih dan pincang, tanpa digendong. 


"Kota antar Senja aja dulu!" ucap Chesy yang diangguki oleh Cazim.


"Rumahku itu melewati wilayah perumahannya Cazim, jadi baiknya ke rumah Cazim saja lebih dulu," sahut Senja yang duduk di belakang.


"Oh, jadi kamu cuma mau diantar sampai rumah Mas Cazim aja nih? Terus nanti pulang sendiri, begitu? Baguslah," sahut Chesy dengan senyum lebar.


"Bukan begitu maksudku.  Aku pulangnya diantarin, dong. Kan rumahku dan rumah Cazim tidak begitu jauhan. Paling hanya jarak dua kilo meter saja."


"Aku antar kau pulang dulu, Senja. Aku dan Chesy punya urusan privasi yang harus kami selesaikan, dan tanpa harus ada orang lain," ucap Cazim membungkam Senja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2