Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Empat Lelaki S2


__ADS_3

Revalina tidak masuk kelas, dia memilih bolos dan pergi meninggalkan kampus setelah insiden itu.  Lebih baik kabur dari pada mengikuti kelas, ia pasti tidak akan konsentrasi lagi.


Seperti biasa, tempat Revalina bolos adalah mall.  Dia menghabiskan waktu di mall.  Keramaian membuatnya lupa dengan kejadian menyebalkan tadi.  Sampai tak terasa ia sudah menghabiskan waktu beberapa jam lamanya.  


“Akram!” panggil Revalina pada sosok pria yang melintas di depan, tak lain teman kuliahnya.


Pria yang dipanggil itu pun menoleh.  Pria berbadan tegap, berkaca mata.  Dia terkenal rajin membaca.  Dia satu kelas dengan Rajani.  Berbeda dengan Revalina yang berlainan kelas.  “Hei, Revalina!  Sendirian?”


“Iya.  Kamu kok udah keluar dari kampus?  Apa anak- anak sekelasmu udah pada bubar?” tanya Revalina.


“Iya.  Kelas kami sudah selesai.  Kamu pasti mau nanyain kembaranmu itu kan?”


“Iya.  Berarti dia juga udah selesai kelas dong.  Aku harus jemput dia.”


“Tadi dia ke perpustakaan.  Sepertinya dia akan lama di sana.  Oh ya, kamu barusan kena kasus kan?  jadi bagaimana endingnya?”


“Orang tuaku dipanggil.  Anehnya, orang tua Dalsa enggak dapet panggilan.  Ini nggak adil.  Pak Rival itu berat sebelah.”


“Oh, jadi ditangani Pak Rival?”


“Iya.”


“Wajarlah.”


“Kok wajar?”  Revalina mengernyit.


“Pak Rival itu kan abangnya Dalsa.  Banyak orang yang tidak tahu hal ini.  Untuk apa lagi dia memanggil orang tuanya Dalsa sedangkan dia adalah walinya Dalsa juga kan?”


Sialan!  Pantas saja dia berat sebelah.  Rupanya ada udang di balik batu.  “Ya udah, aku duluan.”  Revalina meninggalkan Akram.

__ADS_1


Ting.


Pesan dari Rajani masuk.


‘Revalina dimana?  Rajani udah selesai kelas.’


Revalina membalas.


‘Revalina di mall.  Ya udah biar Revalina jemput.’


Rajani.


‘Gak usah.  Rajani nyusul ke mall aja naik taksi.  Rajani juga mau belanja.  Nanti pulang ke rumah baru barengan.  Revalina di mall mana?’


Revalina.


Revalina memasukkan hp ke tas sambil berjalan menuju tolilet.  Ia memasuki wc untuk buang air kecil.  Setelah itu, ia keluar dari wc untuk merapikan hijabnya.


Pintu toilet terbuka dan beberapa orang pria masuk, membuat Revalina kaget dan sontak menghardik, “Hei, toilet lelaki nggak di sini.  Di sebelah sana!”


Dua pria itu tidak menggubris, malah mendekat dan langsung membekap Revalina dengan gesit.


Kejadian itu begitu cepat, hingga Revalina tak sempat berteriak.  Bahkan tak sempat membela diri.  Sapu tangan yang dibekapkan ke mulut Revalina membuatnya pengap dan aroma aneh mendadak mengusik pernapasannya, kepalanya pusing setelah menyedot aroma aneh itu.  dia lalu tak sadarkan diri.


***


Mata Revalina terbuka, ia membelalak kaget menyadari dirinya berada di sebuah tempat asing.  Ruangan itu pengap, seperti gudang yang sudah lama tidak dipakai.  Ada lemari rusak, meja, kursi dan banyak benda tidak layak lainnya.  Lantai kotor.


Revalina ingin menjerit, tapi tidak bisa.  Mulutnya dilakban erat.  Pipi menempel di lantai kotor. Kedua tangan diikat ke belakang, demikian juga kaki yang disatukan dan diikat kuat. 

__ADS_1


Siapa para lelaki yang menyusup masuk toilet mall dan membekapnya seperti ini? 


Revalina menjejak- jejakkan kaki, berusaha melepaskan ikatan di kaki, namun sia- sia. Malah mata kakinya jadi sakit sekali akibat gesekan itu. Tangan pun tidak bisa melakukan apa pun, ikatan di tangannya sangat kuat. Tas teronggok di lantai, beberapa meter dari posisinya. 


Pintu ruangan dalam keadaan tertutup. 


Revalina kesulitan menggerakkan tubuh, ia menggesekkan punggung dan menggerakkannya, berusaha mendekati pintu, namun tidak berhasil. Jarak pintu cukup jauh, ia kesulitan menggapainya. 


Ya Tuhan, kenapa bisa jadi begini? Siapa para lelaki biadab yang menangkap dan membawanya ke tempat itu? Apa niat mereka?


Revalina terus menggerak- gerakkan badannya, menggesek- gesekkan ke lantai seperti ikan belut. Ia bergerak menuju ke tasnya yang berada di dekat dinding. Namun sial, malah tubuhnya terguling dan jatuh ke bawah lantai yang mendadak terbuka. Niat mendekati tas, malah terguling begini. 


Iya, lantai tempat Revalina terguling itu ada yang terbuka dan menyebabkannya nyemplung ke dalamnya. Rupanya lantai itu bawahnya merupakan lubang yang bisa menampung satu orang di dalamnya, nyaris seperti kuburan saja. Lantai dalam kondisi miring, satu kotak porselin dalam keadaan sedikit terbuka, setidaknya porselin yang terbuka berukuran sekitar satu jengkal, hingga pandangan Revalina bisa menjangkau ke arah atas lantai melalui celah yang terbuka sejengkal itu. Sepertinya tadi kaki Revalina menyentuh sesuatu hingga membuat lantai rahasia itu terbuka dan ia malah masuk ke bawah lantai tanpa sengaja. Sepertinya lantai itu dulunya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda rahasia oleh si pemilik rumah. Namun sehubungan rumah sudah tidak dipakai lagi, maka posisi lantai rahasia itu pun tidak dalam posisi baik lagi sehingga masih memperlihatkan celah saat sudah terbuka. 


Untungnya posisi badan Revalina dalam keadaan menelentang saat terjatuh hingga ia masih bisa melihat keadaan di atas lantai melalui celah. 


Ponsel Revalina berdering. Entah siapa yang menelepon. Tak lama kemudian, Revalina melihat Rajani memasuki ruangan itu. 


Loh, Rajani menyusul. Syukurlah Rajani datang, Rajani bisa menemukan lokasi itu berkat share loc dari hp Revalina. Rupanya sejak tadi yang menelepon hp Revalina adalah Rajani. Ia terus mencari keberadaan Revalina dengan menelepon nomer itu. Dan kini Rajani menemukan hp Revalina setelah mengikuti suara deringannya.


"Revalina!" seru Rajani memanggil kembarannya. "Revalina, kamu dimana?" Rajani memungut tas Revalina. Tampak sangat cemas. "Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Revalina menjejak- jejakkan kakinya ke dinding untuk menimbulkan suara, berusaha berteriak keras namun suaranya tidak keluar karena berada dalam bekapan lakban. Bahkan Rajani juga tidak mendengar suara dari bawah lantai. Suara itu terlalu sulit sampai ke atas.


Tiba-tiba muncul empat pria, membuat Rajani terkejut. Tatapan mata para pria itu jelas tatapan tak bersahabat. Keempatnya mengenakan masker di mulut sampai ke hidung, membuat Rajani tidak bisa mengenali wajah mereka. 


"Siapa kalian?" Rajani mundur dua langkah. Ketakutan menatap mata sangar nan tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2