Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tentang Kebersamaan


__ADS_3

"Coba telfon balik, sepertinya penting," ucap Rival.


Seketika ia menatap Rival mencerna ucapannya lalu tak lama kembali menatap layar ponsel.


"Ah, nanti juga telfon lagi kalau memang penting," sahut Revalina memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya.


"Ayuk kita pergi," ajak Revalina untuk yang kedua kalinya.


Ia bergegas pergi membawa suaminya menuju ke salah satu resto andalan ketika jam istirahat hanya sebentar karena jaraknya yang dekat.


Klekkk.


Pintu kembali di tutupnya, kursi roda kembali ia dorong dengan pelan menuju ke lift yang beberapa puluh meter ada di depannya.


Di saat yang bersamaan Joseph keluar dari ruangannya, menatap ke arah Revalina dan Rival dengan tatapan terkejut.


"Mau makan siang di luar?" tanya Joseph pada keduanya.


"Iya," jawab Rival.


"Boleh aku ikut, kebetulan aku bingung mau makan siang di mana nggak ada teman pula," ucap Joseph.


Revalina tak berani menjawab permintaan Joseph, ia tahu Rival tak suka jika dirinya terlalu dekat dengan laki-laki lain.


"Boleh, silahkan," sahut Rival sembari tersenyum.


Reflek kedua netra Revalina mendelik terkejut mendengar sahutan Rival, tak disangka dia akan memperbolehkan Joseph ikut makan siang bersamanya.


Siang itu mereka pergi dengan menaiki satu mobil, yaitu mobil Joseph. Revalina duduk di depan bersama supir sedangkan Rival duduk di belakang bersama Joseph.


Suasana di dalam mobil terasa dingin, mereka masih sama-sama asing apalagi Revalina yang masih belum terlalu akrab dengan atasannya sendiri.


"Kalian sudah lama menikah?" tanya Joseph mulai memecah keheningan.


"Baru satu bulan," jawab Rival sembari melirik Joseph.


"Oh pantas saja ada hawa-hawa pengantin baru," ucap Joseph sembari terkekeh.


"Bisa saja Pak Joseph ini," sahut Revalina mulai bersuara.


Perbincangan ringan itu terus berlanjut sampai saling melempar candaan antara Rival dengan Joseph, dari spion yang ada di hadapannya Revalina melihat keduanya tertawa lepas tanpa beban. 


'Semoga mereka jadi semakin dekat, dan aku harap tugas ke luar kota yang akan dilakukan Minggu depan bisa dapat izin dari Mas Rival,' ucap doa Revalina dalam hati.


Tak lama mereka tiba di resto, semua cepat-cepat turun dari mobil. Joseph dengan sigap mengambil kursi roda dari bagasi mobilnya lalu membantu Rival berpindah duduk di kursi roda seolah tak memberi celah untuk Revalina menyentuh Rival.

__ADS_1


"Biar aku saja," ucap Joseph, menyela Revalina yang akan membantu Rival.


"Terimakasih, padahal aku perlahan bisa sendiri," ucap Rival sembari tersenyum.


"Sama-sama," sahut Joseph.


Terlihat Joseph begitu telaten mengikuti gerakan Rival yang sangat pelan, akhirnya tak lama Rival berhasil duduk di kursi roda itu.


"Yuk kita masuk," ajak Joseph.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam resto, kali ini Revalina yang mengambil alih kemudi kursi roda itu dirinya yang mendorong sampai menuju ke salah satu meja yang pas untuk Rival makan.


Seketika waiters berjalan cepat ke arahnya dan langsung menyodorkan buku menu.


"Silahkan dilihat menunya, kami ada beberapa menu best seller di sini," ucap waiters muda dengan paras cantik.


"Best sellernya apa saja?" tanya Revalina sembari membolak-balik menu.


"Biasanya di sini itu spaghetti ya," ucap Joseph menebak menu best seller itu.


"Iya betul Pak, ada banyak varian saus dan topingnya bisa pilih sesuai selera," jawab waiters itu sembari tersenyum ke arah Joseph.


"Waw," celetuk Revalina menatap lembar yang menunjukkan gambar menu spaghetti dengan tatapan lapar.


"Kamu jangan makan mie lagi ya," ucap Rival mulai memperingati sang istri.


"Ini kan spaghetti bukan mie," elak Revalina dengan nada kesal.


"Sama saja mie juga. Dari pada spaghetti mending kamu beli nasi," sahut Rival kekeh dengan ucapannya.


Tiba-tiba Rival mengambil buku menu itu, mulai memesan semaunya tanpa meminta persetujuan Revalina setelah itu buku menu itu bergilir ke Joseph.


"Apaan sih Mas, aku kan juga mau pesan," gerutu Revalina kesal.


"Sudah itu sudah bagus, lebih sehat dari pada yang lain," ucap Rival dengan tegas.


"Kamu ini seperti Umi ya, suka marah-marah," ledek Revalina dengan wajah kusutnya dan makin kusut ketika melihat  waiters itu pergi membawa buku menu dan list orderan.


Tak diduga Rival langsung menatap kedua bola mata Revalina dengan dalam di hadapan Joseph.


"Aku bukan marah cuma tegas saja, aku tahu kau suka makan makanan yang nggak sehat. Nanti kalau kamu sakit siapa yang rawat aku," jelas Rival.


Mendengar hal itu Revalina langsung tersipu malu, entah kini mungkin kedua pipinya memerah padam seperti hatinya ia benar-benar tak tahan dengan perhatian yang terselip pada kalimat Rival.


'Bisa saja dia buat ku malu,' ucap Revalina dalam hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba sekelebat cahaya kecerdasan melintas di kepalanya yang membuat kedua matanya terbelalak lalu melirik Rival kembali dengan sorot mata tajam.


"Bisa-bisanya ya, perhatian tapi ada maksudnya. Mana maksud tujuannya begitu lagi," gerutu Revalina pada Rival.


Tak ada sahutan Rival hanya terkekeh apalagi Joseph sejak tadi menahan kikihannya kini akhirnya terlepas juga.


"Kalian ini lucu juga ya, aku jadi seperti lihat Kakak beradik lagi berantem," ucap Joseph menatap keduanya.


"Lebih tepatnya Om sama keponakan Pak, soalnya dia sudah tua," sahut Revalina dengan nada meledek.


Rival yang semula duduk dengan tenang langsung menegakkan posisi duduknya, menatap Revalina dengan tatapan kesal.


"Enak saja, jangan percaya Pak Joseph. Saya sama dia bedanya cuma beberapa tahun saja nggak pantas disebut Om," elak Rival tak terima dengan sebutan Revalina padanya.


"Tenang Pak Rival, saya lebih percaya Bapak ketimbang Reva," sahut Joseph dengan santainya.


Revalina mendelik terkejut mendengar sahutan Joseph, namun ia tak kesal sebab ini semata-mata hanya untuk guyonan saja. 


Makin lama mereka semakin akrab seiring dengan perbincangan yang juga makin terbuka satu sama lain, Rival dan Joseph banyak membahas tentang pekerjaan sebelumnya dan membahas perusahaan.


Ketika membahas tentang perusahaan tiba-tiba Joseph menatapnya dengan tatapan entah mengisyaratkan suka atau kagum yang pasti ia sekarang takut apalagi Rival juga tengah menatapnya penuh arti.


"Istri Pak Rival ini pintar sekali, saya salut dia bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan kerja di kantor ketika saya menjelaskan sesuatu tak pernah ada pengulangan, dia selalu bisa mengerjakan dengan tepat," puji Joseph pada Revalina.


Revalina mulai menelan salivanya ketika melihat ekspresi wajah Rival yang seperti dipaksa untuk terus tersentuh, dari yang semula banyak bicara kini mendadak diam sembari menatapnya.


"Tapi nggak cepat Pak, saya masih banyak kurangnya," sahut Revalina dengan nada lirih.


"Ah kalau masalah kecepatan itu bisa berubah seiring berjalannya waktu, tapi ketepatan kamu di satu Minggu ini luar biasa patut di acungi jempol sepuluh," ucap Joseph terus menuju Revalina.


Kali ini ia tak bisa berkata-kata lagi, takut Joseph akan terus memujinya di hadapan Rival yang kini tengah meradang.


"Terimakasih Pak, semoga seterusnya bisa ada peningkatan," ucap Revalina sembari menganggukkan kepalanya lalu menunduk.


Rival benar-benar hanya diam saat itu, dia begitu tak pandai menyembunyikan kekesalannya membuat Revalina tak enak hati dengan Joseph.


'Sudahlah Mas, nggak enak sama Pak Joseph,' ucap Revalina dalam hati.


"Oh iya, untuk rencana tugas kita di luar kota itu kau sudah siap?" tanya Joseph beralih ke pembicaraan serius.


Sontak kedua netra Revalina terbelalak, degup jantung kian berdegup kencang. Sungguh tak disangka Joseph akan menanyakan hal ini di depan Rival.


'Ya Tuhan, padahal aku lagi kumpulkan keberanian buat minta izin ke Mas Rival malah keduluan Pak Joseph yang bilang,' ucap Revalina dalam hati, panik.


Tak tahu lagi ia harus berkata apa, mengalihkan pembicaraan pun rasanya tak sopan apalagi berbohong pada seorang CEO tentang perkejaan. Sebagai seorang Ajudan pribadi tak pantas rasanya menolah tugas ini, namun entah bagaimana bibirnya harus bergerak menjawab pertanyaan itu tanpa membuat Rival atupun Joseph merasa sakit hati.

__ADS_1


"Ke luar kota?" tanya Rival terkejut menatap bingung ke arah Joseph dan Revalina.


Bersambung


__ADS_2