
"Kenapa gadis ini bisa lepas?" tanya salah seorang pria heran melihat tawanannya bebas dari ikatan.
"Aku tadi sudah mengikat tangan dan kakinya dengan kuat."
"Bodo amat dengan semua itu. Yang penting sikat sekarang!"
"Jangan mendekat!" teriak Rajani ketakutan melihat empat pria itu melangkah mendekatinya.
"Jangan takut, kau hanya akan diajari bagaimana rasanya kenikmatan dunia. Kau akan diajari caranya bersenang- senang." Salah seorang pria mengejar Rajani yang berusaha kabur.
Rajani tidak bisa kemana- mana, aksesnya untuk kabur tidak ada. Semua arah telah ditutup oleh empat pria yang menghadang jalannya. Hingga kini tubuh Rajani sudah berada dalam dekapan salah seorang pria.
Lalu pria lain memegangi satu tangan Rajani dengan erat, pria yang mendekap itu pun melepas dekapan. Kini, dua pria masing- masing memegangi tangan Rajani, dua pria lainnya masing- masing memegangi kaki kiri dan kanan Rajani.
Sekali sentakan, tubuh Rajani terhentak ke lantai di posisi terbaring. Gadis itu meronta dan menjerit minta tolong, namun usahanya sia- sia belaka.
Para pria itu melucuti pakaian dan jilbab Rajani dengan tarikan kasar hingga semuanya terlepas sesaat setelah sobek. Paha Rajani dipisahkan. Lalu ke empat pria itu melakukan apa saja terhadap Rajani yang tanpa sehelai benang. Bergiliran mereka melakukan aksi biadab, tak peduli Rajani menjerit kesakitan, bahkan darah perawan mengotori lantai. Mereka rakus sekali, menyalurkan hasrat keji itu dengan penuh nafsu. Semuanya bekerja disaat salah satunya melampiaskan hasrat.
Revalina sebenarnya sudah sejak tadi menggerak- gerakkan kakinya dan menggedor- gedorkan ke dinding, namun suara di bawah lantai tidak cukup terdengar sampai ke atas, ujung- ujungnya Revalina malah kehabisan tenaga, berkeringat dan dehidrasi di sepetak ruangan gelap dan pengap. Ia pun hanya bisa merasa lemas dan menangis dengan wajah bersimbah peluh menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kembarannya digilir dengan biadab oleh para lelaki keji itu. Ia bisa melihat perbuatan itu dengan jelas melalui pantulan cermin lemari yang akses pemandangannya dapat dilihat jelas melalui celah.
Revalina melihat dengan jelas bagaimana Rajani menjerit hebat, bagaimana suara ******* bergantian para pria itu hingga Rajani merasa lemas dan tak bertenaga lagi untuk melawan.
Lalu empat pria itu meninggalkan ruangan setelah puas dengan kekejian itu. Meninggalkan Rajani yang terkulai lemas setelah dipasangkan kembali pakaian yang sudah sobek- sobek.
__ADS_1
Revalina terantuk besi menonjol di dinding, membuat bokongnya sakit sekali akibat antukan itu, entah apa fungsi besi menonjol itu. Revalina kemudian berjuang keras melepas ikatan di tangan dengan cara menggesek- gesekkan tali ke besi. Berhasil. Ikatan terlepas.
Revalina kemudian melepas ikatan di kakinya. Ia mendorong lantai ke atas dan bangkit berdiri untuk naik. Cukup sudah pengalamannya untuk uji nyali di kuburan. Iya, kondisi di sepetak ruang gelap itu nyaris seperti di dalam kuburan saja.
Revalina berhasil naik dan menghambur mendekati Rajani. Ia meraih tubuh lemas itu.
"Rajani! Ya Tuhan, apa yang telah terjadi?" Revalina menangis histeris melihat Rajani sudah dalam keadaan tak bernyawa. Dengan tangan gemetaran, Revalina menutup mata Rajani yang dalam keadaan terbuka. Menghapus air mata yang membasuh wajah kembarannya itu.
Revalina meraih tubuh Rajani, memeluk erat tubuh itu. Tubuhnya bergetar seiring tangis yang pecah hebat. Tak pernah ia merasa sesedih ini, juga merasa semarah ini. Di tengah deru tangisnya, ia memendam dendam dan amarah yang memuncak.
"Akan aku balaskan sakitmu ini, Rajani. Mereka akan mendapatkan hukuman." Tatapan mata Revalina tajam, tangannya mengepal erat pada baju yang dikenakan Rajani dalam pelukannya.
***
"Revalina, makanlah!" Chesy membawa piring berisi makanan kesukaan Revalina.
"Sudah satu minggu sejak kepergian Rajani, kamu masih begini saja. Berdiam di kamar, nggak kuliah, nggak makan, nggak ngapa- ngapain. Makan hanya sesekali aja." Chesy menatap panik.
Revalina masih diam. Di kepalanya masih membayang kejadian menyayat yang menimpa Rajani. Masih teringat lekat bagaimana Rajani digilir dengan kasar oleh empat pria itu. Sungguh biadab dan tidak berperikemanusiaan.
Revalina ingat Dalsa pernah membisikkan tentang tantangan empat pria yang bakalan menghancurkan kehormatannya, apakah mungkin dalangnya adalah Dalsa?
Setelah kejadian menyayat itu, Revalina membawa pulang Rajani sendirian. Ia menukar pakaian Rajani dengan pakaian baru yang dibeli di toko, membersihkan tubuh rajani seolah tidak terjadi apa pun pada kembarannya itu. Ia lalu mengatakan bahwa pada semua orang bahwa Rajani mengaku sakit sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir. Ia menutupi fakta yang sebenarnya dari semua orang, tak satu pun ada orang yang boleh tahu kejadian sebenarnya, termasuk Chesy dan Rafa.
__ADS_1
Revalina juga meminta supaya dirinya sendiri saja yang memandikan tubuh Rajani, kembarannya untuk penghormatan terakhir tanpa ada satu pun yang boleh memandikannya. Sedangkan Chesy dalam keadaan menangis dan terpukul, lalu pingsan saat mengetahui Rajani pulang hanya dengan nama.
Revalina mengurus Rajani sendirian, tak boleh ada yang mengganggu, dengan alasan dirinya sangat menyayangi Rajani.
Chesy mengambil amplop surat yang tergeletak di meja. Lalu membacanya. Surat panggilan orang tua ke kampus. Tertulis tanggal panggilannya sudah berlalu seminggu yang lalu.
Belum selesai kepedihan akan kehilangan Rajani, ternyata masih ada kasus lain yang menambah keruh pikiran. Masalah apa yang membuat Revalina terjerat kasus di kampus?
Chesy malas mempertanyakan itu. Dia sudah sangat paham dengan perilaku anak- anaknya, kalaupun Chesy dipanggil ke kampus karena kasus yang dibikin oleh Revalina, maka artinya anaknya itu sudah melakukan kesalahan.
Hanya helaan napas panjang yang keluar dari mulut Chesy, menandakan lelah batin dan pikiran.
“Makanlah!” Chesy mendorong piring dengan muka jengah.
Revalina hanya menatap piring saja tanpa berniat menyentuhnya. Nafsu makannya benar- benar hilang.
"Kalau kamu nggak mau makan, kamu bisa sakit!" kesal Chesy melihat Revalina yang hanya diam saja. Chesy menyentak piring yang narus aja dia angkat dengan kuat ke meja hingga menimbulkan suara gebrakan kuat. "Bukan cuma kamu aja yang kehilangan. Semua oramg juga kehilangan. Jangan menambah masalah dengan tingkahmu ini!" Chesy kemudian menghambur pergi.
Revalina tertegun. Andai saja Chesy tahu apa yang ada di pikiran Revalina, apakah mungkin Chesy akan berkata seperti itu? Revalina merasa terbanting atas kejadian yang dia saksikan. Ia kemudian mengambil piring, menyantap makan sampai habis.
Revalina bangkit dari kasur, melenggang keluar. Ia berniat hendak pergi dari rumah. Namun sebelumnya, ia menuju ke kamar Chesy terlebih dahulu, diam- diam ia ingin melihat Chesy. Baru saja uminya itu marah terhadapnya, hati Revalina meras abersalah sudah membuat uminya marah atas sikapnya. Pasti perasaan Chesy campur aduk sekarang. Mungkin Chesy sedang menikmati kemarahannya terhadap Revalina saat ini.
Dugaan Revalina salah. Rupanya Chesy tengah menangis sambil memeluk foto Rajani.
__ADS_1
“Keapa harus kamu, sayang?” Chesy sesenggukan. Kepergian Rajani bagai mimpi bagi Chesy, wanita itu kerap menangis karena merasa sangat kehilangan. Dan inilah yang ia sembunyikan dari anak- anak. Ia kerap terlihat tegar dan biasa saja di depan anak- anaknya setelah keperhian Rajani, namun ternyata ia menyembunyikan rasa sedih itu.
Bersambung