Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dimanfaatkan Calon Istri


__ADS_3

"Dia tegang karena mungkin nggak nyangka sebentar lagi akan jadi istri Dosen," ucap Rafa, tersenyum meledek ke arah Revalina.


"Nggak nyangka atau nggak sabar?" tanya Chesy pada Revalina dengan senyum yang sama seperti Rafa.


"Nggak sabar lah," Rafa menyahut pertanyaan Chesy, memotong suara yang sudah ada di ujung bibir Revalina.


Revalina mendelik, memelototi Rafa yang terus saja meledeknya.


"Aku belum jawab ya," gerutu Revalina kesal.


"Wih galak juga," Rafa terus meledek Revalina tanpa ampun.


Satu tepukan lembut mendarat di paha Revalina, Chesy dengan tatapan teduh mulai memberi kode melalui tatapannya.


"Nggak boleh marah-marah sama Rafa, dia sudah bantu banyak untuk pernikahan mu," tegur Chesy dengan nada bicara lembut mendayu.


"Salah sendiri Umi, dia menyebalkan jadi orang," sahut Revalina tetap tidak mau kalah apalagi salah.


Tiba-tiba Chesy beranjak dari duduknya, mengibaskan gamis panjang yang terlipat sewaktu duduk.


"Sudahlah jangan berantem, dari pada berantem nggak jelas mending kalian bahas kartu undangan. Nggak lucu kan kalau semua sudah rampung tapi nggak ada kartu undangan," ucap Chesy lalu berundur pergi meninggalkan Revalina dan Rafa berdua di ruang tamu.


"Huhhh," Revalina menghembuskan nafas beratnya.


Apa lagi ini. Niat dalam hati untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam pernikahannya saja tidak ada, bisa-bisanya ia dipasrahkan untuk mengurus kartu undangan dengan Rafa.


"Reva, jangan kebanyakan melamun. Cepat pilih mana yang bagus," Rafa menyodorkan laptop miliknya.


Terlihat ada beberapa desain modern kartu undangan, jari-jarinya sibuk menggeser mouse menampilkan beberapa desain pilihannya.


Entah kenapa kedua mata Revalina begitu berat hanya untuk sekedar terbuka menatap layar monitor, rasa malas seakan menguasai diri.


"Kalau menurut mu ini bagus nggak?" tanya Rafa memilih desain modern klasik.


"Bagus," jawab Revalina tanpa menatap jelas desain yang dipilih Rafa.


"Em, tapi kelihatannya kurang bagus. Atau yang ini saja," Rafa beralih ke desain lain.


"Bagus, semua yang kau pilih bagus. Aku serahkan semua sama kamu," ucap Revalina dengan jelas.


Rafa terkejut lantas menatap bingung Revalina yang duduk di sampingnya.


"Kamu ini nggak seperti pengantin lain, minimal ikut pilih segala sesuatunya bukannya pasrah begini," ucap Rafa keheranan.

__ADS_1


Mata Revalina makin malas berada di ruang tamu berhawa mistis itu, tak terpikirkan sebelumnya jika dirinya akan dibanding-bandingkan dengan pengantin lain. 


Simpel jawabannya, itu karena pengantin lain menikah karena cinta sementara Revalina menikah karena dendam.


Pengorbanannya ia lakukan untuk Rajani, ia hanya ingin membekuk pelaku dan menyeretnya ke kantor polisi sebagai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada Rajani.


"Tentukan desain kartu undangan mu, aku mau semua sesuai dengan apa yang kamu mau. Sementara itu aku akan urus pengajian dan acara siraman nanti," ucap Rafa sambil mengutak-atik laptopnya.


Netra Revalina mendelik kebingungan. Dua hal yang akan diurus Rafa terasa asing di telinganya, tak menyangka ada banyak proses dalam pernikahan bukan hanya ijab kabul, pesta lalu selesai.


Malam harinya Revalina kembali bertempur dengan skripsi nya, tangan kanan mengetik lanjutan skripsi sementara tangan kiri membuka lembar demi lembar yang habis babak belur dihantam coretan pulpen Dosen pembimbing.


Ia baru saja fokus mengamati revisiannya, menelaah kembali nasehat-nasehat Dosen pembimbingnya serta mengingat-ingat kekurangannya dalam menyusun skripsi.


Tapi makin lama justru otak semakin buntu, memaksanya untuk terus berputar mengolah materi dengan serius hanya akan membuat otaknya berasap.


"Ah, aku tak bisa seperti ini terus. Aku menyerah," Revalina pasrah.


Ia langsung menutup laptop miliknya, memunguti kembali lembar-lembar revisian yang berserakan menata kembali ke tempatnya. 


Saatnya membanting tubuh, menarik selimut dan tidur.


********


Esok harinya Revalina mulai kelabakan setelah mendapat pesan dari Dosen pembimbing bahwa besok akan ada bimbingan, sementara ia belum merevisi apapun apalagi menambah isi materi skripsinya.


Ia kebingungan harus seperti apa, terlanjur menghubungi Dosen pembimbing semalam bertanya tentang jadwal bimbingan dan sekarang sudah dijawab. Jika ia batalkan sama saja mencari mati di akhir perjuangan.


"Reva, kamu ini kenapa?" tanya Chesy menatap bingung.


Revalina lebih bingung lagi melihat Uminya datang membawa spatula lengkap dengan clemek bermotif bunga-bunga.


Melihat Uminya, Revalina tiba-tiba punya ide cemerlang.


"Umi," panggil Revalina dengan nada mendayu-dayu.


"Kenapa?" tanya Chesy mengernyit kebingungan.


"Aku boleh kan minta Pak Rival kesini?" tanya Revalina. "aku bingung mau pilih desain kartu undangan yang mana. Kemarin Rafa nggak kasih saran sama sekali," jelasnya.


Raut kebingungan Chesy seketika berubah menjadi senyum paling lebar, tampak bahagia mendengar pertanyaan putrinya.


"Tentu boleh, tapi nanti kalau Umi sudah terlanjur pergi kamu jangan tutup pintu. Di buka saja kalau perlu di luar ngobrolnya biar tidak terjadi fitnah," jawab Chesy berujung pesan tegas pada Revalina.

__ADS_1


"Oke Umi," sahut Revalina senang mendengar jawaban Uminya.


Tak ingin membuang waktu, Revalina segera mengirimkan pesan untuk Rival memintanya untuk datang ke rumah dengan mengatas namakan Umi.


Revalina : Pak, Umi minta kamu cepat ke sini. Ada beberapa hal tentang persiapan pernikahan kita yang harus diselesaikan.


Rival : Iya, aku ke sana sekarang.


Tak perlu menunggu lama Rival langsung membalas. Ternyata semudah itu untuk membuat Rival gerak cepat, urusan nanti ternyata yang dikerjakan Rival beda biarlah jadi urusan nanti.


Sekarang Revalina tinggal mempersiapkan laptop, tumpukan revisi skripsinya, alat tulis dan yang paling utama adalah camilan.


Ia tak bisa berfikir jika tidak ada kesibukan di dalam mulutnya, jadi camilan lah solusinya.


"Assalamualaikum," salam Rival berdiri di luar pintu.


"Waalaikumsalam," jawab salam Revalina bersamaan dengan Chesy yang keluar dengan abaya yang baru dibelinya kemarin.


"Umi," panggil Rival lirih mencium tangan Chesy.


"Masuk Nak Rival, Umi tinggal dulu ada urusan sebentar," ucap Chesy.


"Reva, Umi pergi dulu ya," pamit Chesy pada putrinya.


"Iya Umi hati-hati," sahut Revalina tersenyum sumringah.


"Iya, assalamualaikum," salam Chesy pada keduanya.


"Waalaikumsalam," jawab Revalina dan Rival berbarengan.


Chesy pun melenggang pergi meninggalkan rumah dengan kondisi pintu yang terbuka lebar, lagi-lagi berharap tidak akan ada fitnah.


Persis seperti yang ada di bayangan Revalina, ia bisa melancarkan ide cemerlangnya tanpa ada gangguan.


"Jadi mana yang harus aku selesaikan?" tanya Rival sembari perlahan duduk di sofa.


"Ini," jawab Revalina menggeser laptop ke arah Rival.


Sontak kening Rival mengerut kebingungan melihat isi dalam layar laptop Revalina, berulang kali menatap Revalina dan berujung menebar pandangan ke arah meja yang ternyata penuh dengan Lembar-lembar revisian skripsi.


"Maksudnya apa ini, kau meminta ku ke sini untuk urus pernikahan kita kan?" tanya Rival sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, tapi sebelum itu tolong bantu aku kerjakan skripsi ini. Besok pagi-pagi aku ada bimbingan," jawab Revalina memasang wajah sedih.

__ADS_1


"Hah?" Rival terkejut.


Bersambung


__ADS_2