
"Chesy, jika melihat kesalahan itu, memang aku yang salah. Tapi kita bisa bicarakan ini." Cazim menatap teduh.
Chesy masih menangis. Tidak sanggup menjawab. Hatinya kebas. Jika saja abinya tidak memeluknya seperti sekarang ini, maka ujung pisau di tangannya itu pasti sudah menusuk tubuh Cazim. Sampai gemetaran tangan Chesy memegangi pisau itu.
"Berikan aku waktu untuk bicara. Tidak sekarang. Kau bisa tenangkan dirimu. Aku ingin bicara bukan untuk memberikan pembelaan, karena memang aku sudah melakukan kesalahan dengan melakukan pembunuhan itu. Tapi ini mengenai kita," ucap Cazim tenang.
"Pergilah! Pembunuh istriku tidak punya tempat di sini." Yunus meneteskan air mata. Ia terpukul.
Cazim tidak bisa bicara lagi. Apa pun yang ia katakan tentu tidak akan mengubah keadaan, bahwa ia mendapat cacat di mata istri dan mertuanya. Kenyataannya adalah dia pelaku pembunuh ibunya Chesy. Titik.
Cazim melangkah pergi meninggalkan rumah.
Air mata Yunus berderai. Sesekali ia usap dengan punggung tangan. Ia tidak mengatakan apa pun hingga akhirnya bangkit dan berjalan menjauh dengan wajah sembab.
"Abi!" Chesy menatap punggung sang ayah.
Yunus mengangkat tangan tanda tak mau bicara. Ia sedang terpukul. Hatinya ngilu. Hanya ingin menangis. Karena ternyata sosok yang telah membuatnya kehilangan sosok istri yang sangat dia cintai adalah Cazim, tak lain orang yang dia percayai, orang yang dia agungkan, bahkan orang yang dia percayai untuk menjaga dan membimbing putrinya.
Chesy membiarkan abinya berlalu pergi. Abinya ingin menenangkan diri.
"Beresin ini!" titah Chesy pada Darel yang ketahuan nyelip di balik dinding. Ia menunjuk ruangan yang berantakan.
"Eh, iya." Darel segera mematuhi perintah.
***
Bar bar bar....
Chesy menggedor pintu rumah kontrakan Cazim.
Dari suara gedoran, menunjukkan bahwa dia tidak sedang baik-baik saja. Kemarin Cazim baru saja mengakui bahwa pria itu adalah pelaku pembunuhan itu. Sekarang ia ingin menjumpai Alando, si gembul yang dulu sempat berkata kalau dia bersedia membongkar siapa Cazim yang sebenarnya.
__ADS_1
Sarah menemaninya. Sarah sengaja ikut ke sana karena tidak mau terjadi hal- hal buruk pada Chesy disaat sahabatnya itu sedang dalam keadaan ngamuk. Soalnya ia paham betul bagaimana Chesy saat kesal begitu. Bisa-bisa semuanya hancur. Hidung orang pun bisa kena timpa batu olehnya.
Chesy tadi sempat mampir ke rumah Sarah dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya.
Chesy kembali menggedor pintu.
Tak juga dibuka, Chesy kesal dan langsung mengambil sepotong kayu yang bertengger di samping rumah, ia melayangkan kayu ke arah pintu.
Blug!
"Aduh!" Alando keliyengan dan kepalanya mendadak dikelilingi bintang-bintang. Tepat saat ia membuka pintu, kayu mendarat di jidatnya.
Meski murni kecelakaan alias tanpa ada unsur kesengajaan, namun Chesy tetap saja menyesalkan kejadian itu. Tujuannya adalah pintu, tapi malah salah sasaran. Membuat hidung dan kening Alando menjadi merah.
"Aku bisa menuntut mu atas penganiayaan." Alando memegangi hidung dan keningnya.
"Aku nggak bermaksud begitu. Aku mengetuk pintu sejak tadi dan kamu nggak membukanya," jelas Chesy.
"Aku mencarimu."
"Aku? Oh, ya sudah. Masuklah. Bicara di dalam saja."
Chesy menggeleng. "Aku ingin tanyakan banyak hal padamu."
"Pasti tentang Cazim."
"Nggak mungkin tentang perutmu yang buncit kan?"
Alando mengelus perut buntalnya.
"Katakan padaku apa saja tentang Cazim," tegas Chesy.
__ADS_1
"Memangnya apa yang mau kau tahu? Bukankah kau sudah tahu kalau dia itu mafia dan sedang dalam pengejaran polisi? Dia berada di sini karena bersembunyi setelah markasnya digerebek kawanan polisi."
"Lalu? Apa lagi?"
"Jadi begini, Cazim itu sebenarnya adalah bagian dari tik penegak hukum."
"Maksudmu?" Chesy mengernyit tidak mengerti.
"Cazim itu sebenarnya adalah polisi."
Chesy semakin tidak mengerti. Polisi? Tapi juga mafia? Bahkan dikejar polisi? Masak polisi dikejar polisi? Maksudnya bagaimana? Otak Chesy yang kecil itu kesulitan menangkap masalah yang sebenarnya.
"Aku nggak mengerti. Jelaskan semua ini!" pinta Chesy.
"Jangan setengah- setengah kalau ngomong," sergah Sarah. "Aku ikutan bingung ini."
"Profesi Cazim itu Dirtipidum Bareskrim Polri. Dia menjabat cukup tinggi di dunia kepolisian. Tapi ya itu, dia menjadi mafia di tubuh polri. Dia yang seharusnya memberantas narkoba, tapi malah menjadi bagian dari pekerjaan itu, yaitu melindungi gembong narkoba sehingga transaksi bisa lancar jaya," jelas Alando. "Salah satu pelaku bisnis narkoba waktu itu adalah Ismail, selain pebisnis, dia juga pengkonsumsi, dia sampai overdosis dan meninggal. Tepat saat Cazim berada di tempat distribusi narkoba, justru ibumu muncul. Di sanalah Cazim khilaf membunuh ibumu. Cazim itu penegak hukum, namun menyelewengkan tanggung jawabnya dan menjadi mafia di kepolisian. Banyak pengikutnya, termasuk Hamdan. Cazim meninggalkan jasad ibumu, tapi ternyata para mafia narkoba itu menyimpan jasad ibumu di lemari pendingin untuk menghilangkan jejak. Yang akhirnya tetap tercium oleh pihak kepolisian. Berhubung Cazim yang menangani kasus itu, maka bukti pun sangat mudah dia lenyapkan. Tidak sulit baginya membuat situasi korban kesulitan mencari keadilan. Dan akhirnya, saat dia terbukti melakukan manipulasi keadaan dan terlibat dalam kasus itu, pihak yang berwajib memutuskan untuk menjadikan Cazim sebagai tersangka. Cazim lalu kemari dan menjadi orang alim. Dia lari dari pengejaran polisi. Tapi sehubungan dia masih memiliki antek- antek di tubuh kepolisian, contohnya Hamdan, maka dia masih sedikit aman. Dan satu lagi, Senja tahu semuanya soal ini. Dialah yang selama ini membantu Cazim dan selalu mendukung Cazim. Mereka bersahabat cukup lama."
Chesy mendadak menjadi lemas. "Cazim itu datang terlihat sebagai lelaki yang baik, semua orang mempercayai itu. Bahkan abi juga sangat meyakini itu. Apa lagi dia punya dasar pengetahuan ilmu agama yang tinggi, itu menambah kepercayaan semua orang. Aku sudah curigai ini sejak awal, tapi manipulasi sosial yang dilakukan oleh Cazim sangat halus. Sebenarnya aku sudah menerima baik buruknya dia sejak aku mengakui bahwa aku mencintainya, tapi saat aku tahu bahwa dia pembunuh ibuku, bagaimana aku bisa hidup berdampingan dengan dia?" Chesy berkaca- kaca. "Abi pun kini nggak mau menerima dia lagi."
"Sabar, Ches." Sarah bingung harus bicara apa.
"Aku benci keadaan ini. Aku ternyata mencintai pembunuh ibuku sendiri. Begitu banyak rahasia yang disimpan Cazim. Dan aku nggak akan pernah memaafkan dia. Katakan kepadanya, bahwa aku akan menggugat cerai dia." Chesy langsung menghambur pergi disusul oleh Sarah.
"Ches, kamu serius mau gugat Cazim?" Sarah mengikuti langkah Chesy.
"Lalu menurutmu aku harus bertahan pada pembunuh ibuku? Dia itu jahat, Sarah."
"Iya aku tau. Lalu bagaimana nasib Cazim? Apakah kamu bakalan kasih tau pihak yang berwajib bahwa orang yang dikejar oleh mereka sekarang ada bersamamu, begitu?"
"Itu urusan nanti." Chesy berlari menuju rumahnya. Sedangkan Sarah berhenti di depan rumahnya.
__ADS_1
Bersambung