Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tato


__ADS_3

"Jangan sampai ada yang tahu soal ini. Cukup kita berdua saja!" bisik Revalina lagi.


"Dibunuh?" Akram tercekat.


"Dia digilir empat pria. Ketiga pelaku udah mati konyol. Damar, Reno, dan terakhir Marco. Masih ada satu nama lagi yang belum ketahuan. Entah siapa pelakunya. Aku belum tahu."


Akram mengusap wajah beberapa kali. Tampak frustasi. "Ya Tuhan, kenapa ini bisa menimpa Rajani? Dia gadis baik."


"Kamu terpukul kan? Apa lagi aku? Aku jauh lebih terpukul."


"Tapi bagaimana kamu tahu nama tiga pelaku itu?"


"Aku ada di lokasi kejadian saat peristiwa itu. Dan yang paling menyedihkan, aku nggak bisa berbuat apa- apa saat peristiwa itu menimpa Rajani." Revalina kemudian menceritakan semua yang terjadi padanya, termasuk saat ia dibekap dari toilet mall, kemudian sampai ia terguling dan masuk ke dalam lubang bawah tanah hingga menyaksikan kejadian menyayat itu dengan mata kepala sendiri.


"Satu nama terakhir belum ketahuan, tapi yang jelas dia memiliki tato di punggung dekat pundak. Tato kuda. Aku akan memburunya," bisik Revalina.


"Aku akan membantumu. Akan aku cari orang itu sampai ke ujung dunia sekali pun." Gigi Akram menggemeletuk kuat. "Aku sebenarnya mencurigai seseorang."


"Siapa?"


"Pak Rival."


Revalina terkejut.


"Apakah mungkin Pak Rival yang mengajak tiga temannya itu hanya demi membalaskan rasa sakit dalsa kepadaku? Tapi dia bersedia dijodohkan denganku, apakah mungkin dia pelakunya?"


"Apa pun itu, kita tidak tahu apa niat Pak Rival terhadapmu. Sekarang intinya, kamu harus lihat apakah Pak Rival memiliki tato kuda itu atau tidak. Kalau punya, fix pelakunya adalah Pak Rival."


Ya Tuhan, apakah sehina itu perilaku seorang dosen? Apakah hanya karena ingin menyenangkan hati adiknya, dia sampai menjatuhkan moralnya dengan perilaku bejat itu? Lalu apa tujuan Rival hingga bersedia dijodohkan dengan Revalina? Apakah dia memiliki niat busuk lainnya setelah ini karena dia sadar sudah menjadi pelaku pembunuh Rajani? 


"Aku harus menyelidiki ini," ucap Revalina.


"Aku pasti membantumu."

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya aku bisa melihat tato di punggungnya? Mana mungkin aku membuka bajunya kan?" 


"Itu mudah. Kita akan bikin rencana untuk bisa membuat Pak Rival membuka bajunya."


Revalina mengangguk. "Besok aku akan bikin Pak Rival buka baju di hadapanku."


"Jangan besok."


"Kenapa?"


"Besok kan Pak Rival tidak masuk kampus. Tidak ada jadwal kelas." 


"Nggak harus di kampus kok, dimana aja bisa."


"Sabar. Ini tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Aku pasti bantu kamu kok. Jangan sampai gegabah ini membuat semuanya gagal. Pelaku terakhir pasti sudah bisa membaca keadaan, dia akan waspada mengingat tiga temannya sudah ke neraka duluan. Kamu bisa kan ikuti aba- aba dariku? Aku ingin semua ini berjalan lancar."


Revalina menghela napas. "Okelah. Aku setuju." 


***


Dua hari telah berlalu sejak pembicaraan dengan Akram di kantin kampus. 


"Pak Rival masuk kampus hari ini. Kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk kamu melancarkan aksimu." 


Demikian ucapan Akram via telepon yang diterima oleh Revalina di perjalanan menuju kampus tadi.


Revalina telah memikirkan matang- matang apa yang akan dia lakukan untuk membuat Rival membuka kemeja di hadapannya. 


Di sisi lain, Rival tampak melangkah gontai di ruangan luas dimana semua orang pasti melewati ruangan itu saat pertama kali memasuki gedung kampus. 


Langkahnya tegas, setegas wajahnya yang terlihat berwibawa, disegani dan dipatuhi. Sosok atletis dengan postur tubuh tinggi dan wajah tampan, dipadu sifatmya yang cool membuatnya dikenal sebagai dosen tampan idola para mahasiswi.


Tak ayal, penampakannya selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswi. Dia sosok yang sempurna, eksotis di mata para ladies.

__ADS_1


Bruk!


"Aaakh..." Rival mengerang merasakan panas yang menyiram dadanya hingga kemudian rasa panas itu mengalir di kulitnya. 


Tatapannya tajam mengarah kepada Revalina yang memegangi satu cup kopi. 


"Ya ampun, maaf Pak. Maaf." Drama dimulai. Revalina berakting seolah kejadian barusan itu tidak disengaja. Ia yang tadi sudah berdiri di balik tiang besar menunggu kemunculan Rival pun langsung menubruk pria itu sesuai aba- aba dari Akram melalui via telepon. Sampai detik ini sambungan telepon dengan Akram masih terhubung. Revalina menggunakan earphone tanpa kabel di telinganya. 


Akram memantau dari jarak jauh. Pura- pura mainan hp, juga pura- pura tak owduli atas insiden yang terjadi antara Revalina dan Rival. Ada banyak orang di sekitar sana. 


Kepanasan, Rival menyentak- nyentakkan kemejanya. Menjauhkannya dari kulit, namun kemejanya itu terlalu ketat sehingga ia kesulitan menjauhkan kemeja dari kulitnya.


"Cepat lepas, Pak. Lepas!" Revalina menarik kuat kemeja Rival hingga beberapa kancingnya terlepas dari kaitannya. Lalu tangan mungil Revalina melepas sisa kancing yang masih terkait.


Bret.


Kemeja sampai sobek saat Revalina menarik kuat dengan sekali sentakan, kini kemeja terlepas dari tubuh six pack Rival.


 Semua orang bisa menyaksikan dada bidang, perut rata dan lengan berotot milik Rival yang terpajang. Kejadian itu begitu cepat hingga Rival tak sempat berkelit saat Revalina merampas baju yang dikenakannya. Hanya saja, kemeja di ujung lengan masih nyangkut di kedua pergelangan tangannya.


Tatapan Rival tajam ke mata Revalina. 


Revalina segera memutari tubuh Rival untuk melihat tato.


Deg! Jantung Revalina berdentum sangat kuat melihat tato di punggung Rival, sama persis dengan tato si pelaku. Sejenak bayangan menyayat tentang Rajani pun menari di kepalanya. Emosinya naik seketika itu juga. Andai saja tidak ada siapa- siapa di sana, dan jika saja membunuh itu tidak dosa, maka Revalina sudah mencekik leher berotot Rival dan menjadikan lelaki itu sebagai almarhum.


Kini Revalina kembali berada di depan Rival. Ekspresi Revalina sudah berubah tajam setelah tadi memohon- mohon untuk minta maaf.


Rival menyentak ujung lengan kemejanya hingga lolos dari kedua pergelangan tangannya. Ia menenteng kemeja dengan satu tangan.


"Setelah ini temui aku di ruangan!" titah Rival dengan suara rendah, intonasi tinggi. Ia melenggang menuju lift. Lalu langsung ke toilet membersihkan badannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2