
Malam itu, Revalina menghampiri pintu kamar Chesy. Uminya itu tengah membaca Al Qur’an di meja menggunakan lampu meja. Suaranya syahdu sekali.
Revalina berdiri di dekat pintu, menyandar sambil terus mendengarkan ayat demi ayat yang dibacakan.
Puas mendengarkan beberapa ayat yang dilantunkan, Revalina pun melangkah meninggalkan pintu.
“Yakin langsung pergi? Apa nggak mau bicara dulu sama Umi?”
Suara itu membuat langkah kaki Revalina terhenti. Ia menoleh, menatap sang umi yang masih duduk di kursi mengenakan mukena lengkap menghadap Al Quran. Padahal Chesy asik dengan bacaannya, tapi kok ya bisa tahu kalau ada Revalina yang sedang mengintip di pintu. Orang tua memang selalu punya kejelian dalam segala hal.
Revalina tersenyum, balik badan kemudian menghampiri uminya. Ia mengalungkan lengannya ke leher Chesy dari arah belakang, menempelkan kepala samping ke pipi Chesy.
“Revalina Cuma mau lihat keadaan Umi aja, kok. Seharian kita nggak ketemu.” Revalina berusaha meluruhkan kemarahan Uminya supaya uminya tidak marah berkepanjangan atas masalah penolakannya terhadap Rival. Sejak penolakan itu, Chesy terkesan dingin erhadap Revalina.
“Hm.” Chesy hanya mengangguk. Ia menutup Al Quran.
“Umi! Revalina mau jadi calon istrinya Pak Rival.”
Kaliat itu membuat Chesy terkejut. Seketika ia melepaskan rangkulan Revalina dan menatap wajah gadisnya dengan intens. “Kamu bilang apa?”
“Revalina mau jadi calon istrinya Pak Rival,” ulang Revalina sambil duduk di kursi.
Chesy memutar posisi duduk hingga kini berhadapan dengan Revalina. “Umi nggak mau memaksa kamu, Nak. Kamu boleh kok mencari pilihanmu sendiri, tapi wajib cari yang seiman, taat pada ajaran Allah, dan paham dengan agama.”
Revalina tersenyum. “Nggak harus cari sendiri, Umi. Kan umi udah pilihkan untuk Revalina.”
“Jangan kamu menyetujui ini hanya karena kamu merasa nggak enak sama umi. Sebab nanti kalau nggak ada masalah di tengah jalan, kamu bakalan salahin umi.”
“Umi, ini udah jadi keputusan Revalina kok. Dan keputusan ini tidak berdasarkan pengaruh dari mana pun, tapi murni atas kata hati Revalina. Mana mungkin Revalina akan nyalahin umi.” Revalin tersenyum memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi.
“Are you sure?”
__ADS_1
Revalina mengangguk. “Lagian, kalau Revalina nggak mau jadi calon istrinya Pak Rival, umi kan juga ngambek. Revalina didiemin dan dijauhin. Gimana Revalina bisa tenang?”
Chesy meraih pundak putrinya, lalu merangkul dan membiarkan kepala anaknya itu nyender di dadanya. Dia elus lengan putrinya dengan lembut. “Revalina, umi sebenarnya nggak marah sama kamu. Umi bersikap dingin sama kamu bukan karena satu persoalan saja. Tapi ada banyak hal yang membuat Umi bersikap dingin ke kamu. Mulai dari kepergian abi kamu, kepergian Rajani, ditambah kamu membuat ulah di kampus yang bukan hanya sekali, lalu kamu melakukan penolakan di depan keluarga Tante Sarah dengan cara yang nggak elegan. Umi malu sama Tante Sarah dan Om Yakub. Semua masalah yang muncul rasanya bersumber dari kamu. Jadi umi kesal sama kamu bukan semata- mata karena penolakanmu terhadap Rival.”
“Sejak dulu Revalina memang selalu beda ya, Umi. Revalina selalu bikin masalah. Revalina paling nakal.”
“Syukurlah kalau kamu sadar.” Chesy mejepit ujung hidung Revalina membuat putrinya itu nyengir. “Tapi bukan berarti sadar saja cukup, harus dibarengi dengan niat untuk memperbaiki diri. Bagaimana caranya supaya nggak melulu bikin masalah. Kan begitu.”
Revalina mengangguk. “Umi pasti sedih lihat tingkah Revalina selama ini.”
“Tapi kamu nggak pernah lihat Umi membedakan kamu dengan anak- anak yang lain kan? Seperti apa pun kenakalan anak, kewajiban orang tua tetap menyayanginya.”
“Semua masalah memang bersumber dari Revalina. Termasuk kepergian Rajani, Umi pasti berharap kenapa nggak Revalina aja yang pergi? Kenapa harus Rajani? Rajani itu kan anak baik. Dialah yang bisa membanggakan orang tua, bukan Revalina.”
“Stop, Revalina!” Tiba- tiba Chesy menyentak lengan Revalina hingga putrinya itu menjauh dari pelukannya. “Kamu bicara apa?”
Revalina menarik napas melihat ekspresi wajah uminya yang merah padam.
Chesy tampak beristighaf, berushaa menguasai emosinya.
“Revalina, umi nggak bermaksud membentakmu. Umi hanya nggak suka kamu berpikiran negatif. Apakah umi pernah menyalahkanmu atas kepergian Rajani?”
“Tapi setidaknya Umi lebih mengharapkan Rajani yang masih hidup.”
“Setiap orang tua pasti berharap anak- anaknya panjang umur.”
Revalina menunduk. Sebenarnya ia hanya ingin mengatakan bahwa Rajani adalah korban salah sasaran. Seharusnya Revalina- lah yang menjadi korabn peleceh*n itu, bukan Rajani. Tapi semua itu hanya sampai di ujung lidah tanpa sanggup tersampaikan.
“Umi, maaf!”
Chesy mengangguk.
__ADS_1
Revalina pun menghambur dan memeluk Uminya. Tangisnya pecah. “Jika selama ii Revalina selalu saja membuat Umi kecewa, Revalina bersungguh- sungguh ingin menjadi anka baik untuk Umi.”
“Jangan berbuat baik karena umi, tapi berbuat baiklah karena Allah. Sebab jika perbuatan baikmu diniatkan hanya untuk mencari perhatian manusia, maka itu nggak akan tulus. Tapi saat diniatkan karena Allah, percayalah semua akan indah.”
Revalina tak bisa menanggapi lagi. Ia hanya tersedu.
“Sudah, jangan menangis. Kok, malah cengeng begini? sejak kapan seorang Revalina suka menangis?” bujuk Chesy. “Umi senang kamu berubah jadi lebih baik begini. umi senang kamu punya niat untuk menjadi anak yang baik. Itu saja sudah cukup membuat Umi bangga padamu.”
Chesy melepa spelukan Revalina. Dia usap air mata di pipi putrinya. “Ayo, senyum!”
Revalina pun melebarkan bibir.
“Cieeeee…. Yang udah berminat sama Pak Rival. Rupanya jatuh cinta juga ya sama Pak dosen ganteng?” ledek Rafa yang sudah sejak tadi berdiri di pintu sambil mengunyah buah pir.
“Apaan sih?” Revalina memasang wajah jutek.
“Dih, ngambek. Tapi apa yang Rafa bilang betul kan? siapa sih yang tahan sama ketampanan Pak Rival yang secara casingnya aja udah perfect begitu. Belum lagi kalau dengar suaranya melantunkan ayat- ayat suci Al Quran, wiiih Revalina bakalan jatuh cinta ke dua kalinya.”
Bluk!
Bantal dilempar oleh Revalina dan hanya mengenai bingkai pintu.
“Ha haaaa…” Rafa tergelak setelah melompat untuk menghindari lemparan dari Revalina. Ia berlalu pergi masih dnegan suara tawa yang menjengkelkan.
“Umi, lihat tuh, Rafa nyebelin.” Revalina mengadu.
Chesy hanya tersenyum saja tanpa menanggapi.
***
Bersambung
__ADS_1