
Cazim melempar kaosnya ke atas celana yang sudah teronggok di tepi kolam.
Chesy terkejut melihat kulit badan Cazim yang ternyata tanpa tato, tidak ada satu pun bekas tato di sana. Mampus! Setelah ini abinya pasti tidak mempercayainya lagi. Ia gagal membuktikan pernyataannya. Cazim gerak cepat.
Yunus menatap badan itu dengan cermat. Tidak ada apa pun yang dia dapati dari badan Cazim. Pernyataan putrinya yang mengatakan adanya tato di badan Cazim ternyata tidak benar.
Cazim menuju ke kolam renang.
Byurr...
Cazim menarik tangan Chesy terjun ke kolam renang. Wanita itu terpaksa berenang sesaat setelah tubuhnya membentur air. Padahal rencananya ia hendak berpaling dan kabur saja setelah tau Cazim ternyata tidak ada tato. Chesy hanya ingin menunjukkan apakah Cazim ada tato atau tidak, bukan ingin berenang beneran. Sebab badannya terasa sakit, kakinya juga sakit akibat tabrakan tadi pagi. Tapi ia belum sempat berkelit saat Cazim menarik tangannya hingga ia terjun bebas ke dalam kolam.
Chesy berenang menuju ke ujung, demikian Cazim yang juga berenang ke area yang sama dengan yang dituju oleh Chesy.
"Aku tidak yakin kau ingin berenang bersamaku. Kau tidak menyukaiku kan? Lantas kenapa memintaku berenang bersamamu di sini? Ada yang tidak beres dengan permintaanmu ini," ucap Cazim saat menghentikan renangnya.
__ADS_1
Chesy memalingkan wajah, tidak mau menatap Cazim mengingat mereka sangat dekat dengan kondisi Cazim yang bertelanjang dada.
"Kau mau menunjukkan tato di tubuhku pada ayahmu?" tebak Cazim membuat Chesy terkejut.
Pria ini selalu benar saat menebak- nebak. Terbuat dari apa isi kepalanya itu, tebakannya selalu benar.
"Niatmu tidak akan terlaksana, baby!" Cazim tersenyum, terkesan sedang meledek Chesy, menunjukkan kemenangannya.
"Kemana kamu buang tatomu itu? Gila ya, demi mendapat kepercayaan abi dan semua orang, kamu sampai rela menghapus tatomu itu."
"Aku bisa gila punya suami yang sama sekali nggak aku ketahui asal usulnya. Keluarganya pun aku nggak tahu. Kamu mau marah lagi karena aku menuntutmu untuk mengenali keluargamu, hm?"
"Maaf soal pagi tadi. Aku sudah membuatmu kesal. Tapi aku yakin kalau aku mengejarmu pasti kau juga menolak, jadi aku biarkan saja kau berjalan. Jarak sekolah juga sudah dekat."
Chesy memalingkan wajah, mengusap wajah yang dibasuh air.
__ADS_1
"Aku tahu, maksudmu mendesak ingin mengetahui keluargaku bukan untuk mengenali mereka, tapi untuk menyelidiki seluk belukku." Cazim menyenderkan punggungnya ke pinggiran kolam. Kedua lengannya juga naik ke pinggiran kolam. Lalu lengan itu merentang di sana.
"Jangan mencemaskan tentang keluargaku, aku pasti akan mengenalkanmu pada mereka. Tidak sekarang. Abi juga sudah pernah membahas ini padaku, beliau bisa memahami saat aku katakan bahwa ayahku sedang di luar kota. Kalau dia kembali, maka aku pasti akan mengenalkan kalian padanya."
Sepanjang Cazim berbicara, Chesy mengawasi kulit tubuh Cazim, berpikir bagaimana caranya Cazim menghilangkan tato itu dengan cepat, bahkan tanpa bekas. Tekhnologi jaman sekarang memang canggih.
"Kenapa melihat tubuhku sampai begitu? Kau terpesona?" Cazim menyiramkan air ke tubuh kekarnya.
Pertanyaan konyol itu membuat Chesy memalingkan wajah sambil mengumpat dalam hati.
"Satu lagi, soal Senja," ucap Cazim.
Chesy kaget mendengar pria itu menyebut nama Senja. Duh, apakah semua sudah ketahuan?
Bersambung
__ADS_1