
"Ma, jangan pingsan lagi Ma," rengek Yakub panik seperti anak kecil.
"Ma," panggil Rival sepatah kata namun wajahnya terlihat mendadak pucat pasi.
Sementara itu Sarah tetua mengusap tangannya secara berulang-ulang, tak kalah paniknya.
Tak lama pandangan Candini perlahan berangsur membaik, kabur di matanya pun hilang seiring dengan kewarasan dam dirinya yang perlahan terkumpul sempurna.
"Mama butuh istirahat jangan diajak berdebat dulu," ujar Sarah sesaat setelah melihat kondisi Candini perlahan membaik.
Tanpa sepatah kata pun Rival dan Yakub bergegas pergi dari kamar, entah karena ingin memberi waktu pada Candini untuk beristirahat atau justru karena tak sanggup menahan lisan untuk tak mengajak Candini berdebat akhirnya keduanya memilih pergi.
******
POV Akram.
Setelah melewati berbagai drama keluarnya ia dari pelabuhan, akhirnya kini ia bisa menghirup udara bebas dengan nafas yang terasa lega.
Di jalan raya, Akram sengaja membuka kaca jendela mobil sedikit untuk menikmati udara luar negri sembari melepaskan masalah yang ada.
'Aku harus cari sara buat pergi juga dari mobil ini, aku nggak mungkin lama berada di dekat orang lain bisa bahaya,' gumam Akram dalam hati.
Diliriknya Dia terlihat masih fokus menyetir mobil, sejak tadi perbincangan di antara keduanya hanya terjalin beberapa kali saja lalu setelah itu lama tak ada lagi perbincangan.
"Oh ya, kamu itu memang sengaja nggak bawa mobil atau gimana?" tanya Fiona menatap bingung.
"Sengaja, aku juga lagi sekolah juga dan memang sekalinya nggak bawa kendaraan, jadi nanti teman ku yang jemput tapi karena tadi ada dia ada halangan makanya nggak bisa jemput aku di pelabuhan," jawab Akram mengarang cerita sedemikian rapi. Sesekali manik matanya memutar.
"Oh begitu," sahut Fia menganggukkan kepalanya seakan paham dengan jawaban Akram.
"Terus sekarang aku antar kamu kemana ini?" tanya Fia mulai kebingungan.
Agaknya sejak tadi Fia menunggu dirinya berucap, namun ia justru tak ku kunjung berucap lebih dulu.
Secara kebetulan Akram melihat halte di depan dengan jarak beberapa ratus kilometer, tanpa pikir panjang ia langsung membidik halte itu sebagai tujuan.
"Di sana," tunjuk Akram ke arah halte tersebut.
Tiba-tiba Fiona melongo, entah apa yang tengah dilihatnya sekarang.
"Di halte situ?" tanya Fia melirik Akram dengan satu alis terangkat ke atas.
"Iya," jawab Akram dengan raut kebingungan.
"Seriusan, apa nggak aku antar ke rumah teman kamu saja?" tanya Fia mulai menawarkan diri.
"Nggak perlu terimakasih, aku cukup di turunkan di halte situ saja," jawab Akram dengan nada bicaranya yang lembut.
Beruntung Fia langsung mengiyakan permintaan Akram tanpa lagi mendebat.
Tibalah mereka di halte, dengan cepat Akram keluar dari mobil lalu memberi ucapan terimakasih pada Fia dan lambaian tangannya.
__ADS_1
"Sampai ketemu nanti," ucap Fia membalas lambaian tangan Akram.
Setelah berucap demikian Fia langsung pergi membawa mobilnya melesat jauh dari pandangan matanya, sementara itu Akram berdiri dengan terdiam kaku.
"Sampai ketemu nanti, aku nggak mau ketemu lagi masalahnya," gumam Akram lirih.
Di halte tersebut Akram benar-benar ingin naik bus dan segera mencari kontrakan untuk ia tinggali sembari cari cara untuk mencari pekerjaan wfh agar aman tapi agaknya pekerjaan seperti itu masih saja ada syarat mengenai identitas.
Beberapa lama menunggu tak kunjung ada bus datang menghampirinya, lama-lama kesal juga. Akhirnya terbersit dalam pikirannya untuk memesan sebuah taxi.
Tanpa pikir panjang, Akram lantas langsung menyetujui pikirannya. Dengan cepat ia mulai merogoh sakunya untuk mengambil uang di sana, sambil berangan menghitung uang yang ia bawanya.
"Sepetinya aku perlu menghitung uang ku sekarang, aku perlu betapa budget yang bisa aku keluarkan untuk sewa kontrakan," gumam Akram.
Saat pertama kali tangan merogoh ke saku celana, kedua netra Akram terbelalak, tak ingin berburuk sangka Akram pun merogoh di kantung celana yang lain namun ternyata ia temukan juga. Tak hanya pada kantung celana saja melainkan seluruh kantung yang melekat di tubuhnya ia periksa dengan menahan rasa panik ditengah riuhnya jalanan kota itu.
"Ya Tuhan di mana, masa semuanya ketinggalan di pelabuhan nggak lucu," ucap Akram mulai bertanya-tanya.
Pikirannya semakin kalut, dompet itu tak kunjung ia temukan juga. Lalu tak lama ia batu teringat bahwa tak hanya dompetnya saja yang hilang melainkan koper miliknya pun hilang, lebih tepatnya ketinggalan.
"Ya Tuhan," ucap Akram memegangi kepala dengan kedua tangannya sembari menghembuskan nafa beratnya.
"Yah, yah gimana ini koper saja aku nggak bawa padahal ada uang juga di situ juga, gimana caraku cari wanita itu," ucap Akram kebingungan kepikiran koper miliknya yang masih berada di bagasi mobil Fia.
Hari itu Akram tak bisa membeli apapun untuk ia maksa menahan perut rasanya sudah bergetar riuh dengan para cacing yang mulai demo, untuk makanan saja ia tak bisa apalagi naik bus. Terpaksa ia pun berjalan kaki di trotoar sembari memegangi perutnya yang sudah lama bergetar kelaparan.
"Aduh kenapa hidupku di luar negri jadi begini, bukannya enak malah di terus," gerutu Akram sepanjang jalan.
Krukkkkkkkk.
Bunyi getaran perutnya semakin terdengar jelas, semakin jelas semakin kuat ia menekan perutnya sendiri.
Di tengah kota tak kenal di siapapun segala rencana untuk bisa tinggal dan hidup di sana ternyata sia-sia.
Belum genap sehari ia berada di negri orang sudah merasakan siksa yang salah dengan siksa dan saya yakin akan menggembleng ucapannya.
Sadar akan keputusannya yang justru membuatnya lebih sengsara, Akram tetap tak menyesali hal itu baginya bisa berada di luar menghirup udara bebas sudah lebih dari cukup ketimbang terus berada di dalam ruang ber-AC.
Siang hari panas matahari saat itu perlahan mulai terik dan membakar tubuh, di posisi kelaparan lalu menerima sinar matahari pasti auto pusing lalu berujung pingsan.
Akram tak bodoh, ia tak mungkin mau mencelakakan dirinya di tengah negri orang yang tak satu pun orang di sana mengenalinya kecuali Fia. Tanpa pikir panjang ia langsung belok ke salah satu ruko minimarket dengan mobil-mobil dan motor penuh menutupi lahan parkir.
Di pinggir ruko sana, ia numpang berteduh dengan duduk di lantai termenung menatap langit indah siang itu.
"Aku lapar," rengek Akram lirih seakan tengah berkomunikasi pada Tuhan.
"Ya Tuhan, bisakah kau turunkan makanan untukku?" tanya Akram pada Tuhan sembari terus menatap ke langit.
Beberapa lama kemudian secara bergantian orang-orang keluar dari mini market menyantap berbagai macam makanan lalu tak lama ia melihat seorang laki-laki muda melepeh dan tak melanjutkan makan roti itu lalu membuangnya ke tempat sampah dengan posisi roti yang masih sangat banyak hanya tergigit oleh laki-laki itu sedikit saja.
"Masih banyak sudah dibuang saja," gumam Akram lirih.
__ADS_1
Akram terus memandangi orang tersebut.
Orang yang membuang roti ke sampah itu bergegas pergi mengendarai mobilnya, saat itu juga naluri Akram bekerja tanpa berpikir langsung mengambil roti dalam sampah tersebut.
"Masih bagus, cuma kotor sedikit saja," ucap Akram lirih menatap roti yang kini sudah ada di tangannya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Tak lama orang-orang dari dalam mini market kembali berhamburan keluar membuat Akram mendadak malu dan terpaksa menepi ke sudut ruko yang di penuhi dengan tumpukan galon, ia bersembunyi di sana dan mulai menyantap roti itu dengan lahap sembari menahan tangisnya.
'Kalau saja aku nggak ceroboh, pasti aku nggak akan seperti sekarang,' ucap Akram dalam hati sembari terus menyantap roti itu.
Setelah menyantap habis roti itu dalam kurun waktu kurang dari satu menit, kini rasa lapar itu berangsur pergi berganti dengan rasa haus yang tak tertahankan.
Akram kembali celingukan setelah membidik tempat sampah di depan mini market itu, entah kenapa ia yakin di sana bisa menemukan makanan dan minuman bekas orang.
Setelah di rasa sudah aman, dengan cepat Akram berlari menuju ke tempat sampah kembali mengorek-ngorek sampah tersebut yang penuh dengan sisa makanan berbau busuk dengan lalat yang mengerubungi setiap sisi.
Sialnya tak ia temukan air minum di sana, untuk pertama menjadi gelandangan ia masih ingin mendapatkan yang layak makan dan layak minum hingga tak terpikirkan bahwa di tepi ruko terdapat wastafel dengan air kran yang masih berfungsi.
Diliriknya ke arah wastafel tersebut, Akram hanya berdecih kesal sembari menangkringkan kedua tangan pada kedua sisi pinggangnya.
"Nggak mungkin aku minum air kran, bisa-bisa cacing di perut ku masih bertambah," ucap Akram.
Di tempat sampah ruko tersebut, ia tak lagi menemukan makanan apalagi minuman. Terpaksa ia berpindah tempat mengunjungi tempat sampah di ruko-ruko lain yang ternyata lebih berbau busuk lagi ketimbang mini market tadi.
"Hmmm kambing, bau sekali," umpat Akram kesal membanting kardus-kardus sampah yang ada di tangannya.
"Sialan memang, orang-orang apa nggak mikir ya punya tempat sampah baunya busuk begini masih saja di pakai," gerutu Akram kesal.
Brakkkkk.
Akram menendang tempat sampah tinggi berwarna hijau itu dengan sekuat tenaga.
"Hey, apa yang kau lakukan," teriak seseorang dari belakang Akram.
Mendengar suara yang begitu berat dengan teriakan yang menggema di kedua telinganya, dengan cepat Akram menoleh ke belakang dengan rasa takut.
Jantung tiba-tiba terasa berdegup dengan kencang, rasanya kini seakan tersambar petir di siang bolong. Tak di sangka orang yang meneriakinya adalah seorang security ruko tersebut tengah mengacungkan senjata ke arahnya.
"Apes aku," ucap Akram lirih lemas.
"Kurang ajar, mau buat obat kau di sini?" tanya Security melangkah cepat ke arah Akram
"Sekarang cuma satu jurus yang aku punya," ucap Akram kembali.
"Kaburrr!" teriak Akram berlari sekencang-kencangnya dari security berwajah seram itu.
Beberapa meter pertama rasanya sudah seperti mau mati karena security itu terus mengejarnya, dengan nafas yang tersengah-engah seperti hampir habis ia terus berlari dengan sekuat tenaga.
"Berhenti!" perintah Security dengan keras.
Bersambung
__ADS_1