
“Apa kamu sudah punya keputusan untuk kasusnya Cazim?” tanya Yunus.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”
Yunus mengangguk dengan ekspresi yang sulit ditebak, dia jelas terlihat galu dan gundah. Ayah mana yang tidak gundah saat tahu putrinya akan bercerai? Setiap orang tua tentu mengharapkan kelanggengan dalam rumah tangga putrinya. Namun bertahan pun tidak dianjurkan. Serba salah.
“Lalu… Bagaimana dengan kasus yang sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib? Apakah kamu akan meminta abi mencabut laporan, atau bagaimana?” tanya Yunus.
“Setidaknya, kalau aku udah pisah dari Mas Cazim, kenapa lagi kita mesti memikirkan hal itu? Biar aja itu jadi kerjaan polisi, Abi. Kita nggak perlu kasih tau keberadaan mas Cazim, kita juga nggak perlu cabut kasusnya.”
Yunus tidak membantah. Biarkan saja semua berjalan seperti kemauan Chesy. Ia tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.
“Lagian, menurut penjelasan Alando, kasusnya Mas Cazim itu nggak Cuma satu aja. Mas Cazim juga mafia, dia menjadi penegak hukum namun juga melindungi pengedar narkoba. Anak buahnya sudah banyak yang ditangkap semenjak kerajaan yang dia bentuk di kepolisian runtuh karena meninggalnya kapolri lama dan berganti menjadi kapolri baru. Abi nggak perlu bingung dengan nasib Mas Cazim. Kalau pun dia ditangkap atas kasusnya, ya biar aja.”
Yunus menghela napas berat. “Andai saja abi tahu hal ini sejak awal. Mana mungkin abi akan serahkan kamu kepadanya. Bahkan abi pun belum mengenal siapa orang tuanya,” sahut Yunus penuh penyesalan.
“Semua udah terjadi, abi. Kita hanya perlu memikirkan masa depan. Entah apa kata orang-orang nanti saat tahu anak seorang ustad bercerai. Bukan Cuma aku yang menanggung malu, abi juga. Tapi ya sudahlah, aku kuat kok. Aku ke kamar dulu. Badan rasanya nggak enak. Mau istirahat dulu.” Chesy tersenyum simpul, kemudian berdiri dan masuk ke kamar.
Belum sempat merebahkan tubuh ke kasur, suara adzan sudah berkumandang.
Yaah… padahal Chesy ingin beristirahat, ia merasa tidak enak badan beberapa hari ini. Seperti demam. Ngilu semua tulang persendiannya.
Kalau saja disaat kondisi begini ia datang bulan, maka ia akan melanjutkan niatnya untuk berbaring dan tidur. Tapi karena ada panggilan shalat, ia harus segera menjalankan ibadah itu.
__ADS_1
Saat situasi begini, Chesy merindukan datangnya masa mens. Ah, kenapa ia tidak juga datang tamu bulanan?
Chesy mulai mengingat-ingat, kapan terakhir ia datang bulan. Ia melihat kalender. Lingkaran yang menandakan tanda datang bulan di kalender sudah berlalu hampir dua bulan. Padahal biasanya tamu bulanan datang secara rutin setiap bulannya.
Loh, kenapa ia tidak menyadari hal itu? Pantas saja rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak merasakan momen nyeri di pinggang.
Ya ampun, apakah ini artinya ….
“Tidaaaak!” Chesy menjerit. Ia menghempaskan tubuh ke kasur dengan wajah tenggelam di bantal.
“Ada apa, Non?” Bik Parti muncul karena kaget, kebetulan ia melintas dan mendengar sara teriakan Chesy.
“Ah, enggak.” Chesy menggelengkan kepala.
“Tapi wajah Non pucat.”
“Loh, kemana, Non? Ini kan sudah malam. Sudah masuk waktunya shalat? Bukannya shalat kok malah keluar?” Bik Parti yang kebiasaan nyerocos itu nanya mulu.
“Mau shalat di masjid, Bik.” Chesy menghambur keluar.
“Tumben. Shalat di masjid?” Bik Parti bingung.
Chesy menuju ke masjid terdekat untuk melaksanakan shalat isya. Setelah salam, ia langsung menghambur ke apotik yang tidak jauh dari masjid. Ia membeli test pack. Bukan hanya satu buah saja, tapi dua.
__ADS_1
Tangannya gemetar saat menerima benda pipih dua buah itu dan dimasukkan ke tas.
Sesampainya di rumah, ia tidak sabar ingin langsung melihat hasilnya. Ia masuk ke kamar mandi, melaksanakan ritual sesuai petunjuk seperti yang dituliskan di kertas. Meski anjurannya dilakukan di pagi hari supaya mendapat urine yang tepat, namun Chesy tidak peduli. Keapa harus menunggu besok? Sekarang juga bisa.
Dia memakai satu buah test pack untuk malam ini, dan esok satunya akan dieksekusi.
Matanya terpejam menunggu beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam.
Kenapa jantungnya deg-degan begini? Dan anehnya, kenapa hatinya berdebar? Antara bahagia dan sedih membaur jadi satu. Kenapa ia bahagia seakan berharap hamil?
Satu… dua… tiga…
Chesy membelalak melihat dua garis merah yang tampil di test pack.
Hamil?
Kalau sudah kelihatan dua garis dengan jelas begini, untuk apa Chesy melakukan eksekusi pada test pack berikutnya.
Ini sudah fix, Chesy hamil.
Artinya, ada janin di rahim Chesy. Benarkah ia akan menjadi seorang ibu? Kenapa rasanya bahagia dan deg-degan? Tapi ada pula kesedihan mengiringi.
Membingungkan.
__ADS_1
***
Bersambung