Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Takut


__ADS_3

"Om polisi!” seru Rajani saat melihat Cazim berdiri di tengah- tengah ruang tamu.  Ia baru saja keluar dari kamar, lalu menghambur pergi begitu melihat pria berseragam itu menghuni ruangan santai. Sudah seminggu berlalu sejak Cazim dan Chesy bertemu waktu itu.


Meski Cazim tidak mengenakan seragam polisi, namun ingatan Rajani benar- benar luar biasa.  Rajani tetap mengenali wajah Cazim.  Ia tidak pangling.


Rajani menabrak Chesy yang baru saja muncul dari ruangan lain membawa segelas kopi.  Untungnya kopi tidak tumpah, Chesy begitru cepat mengangkat gelas, menghindarkan dari aksi tabrakan.  Kopi selamat.


“Ada apa, sayang?” tanya Chesy.


“Umi, ada Pak Polisi yang pernah Rajani jumpain di sekolah.  Rajani nabrak Pak Polisi sampai celananya pak pol kotor kena es krim Rajani.  Sekarang Pak Polisinya ada di sini.  “Tuh.”  Rajani menunjuk Cazim.  “Pak Polisinya mau nangkap Rajani ya, Umi?  Rajani salah?”


Polos sekali bocah umur tujuh tahun itu.  


Chesy mengusap pucuk kepala Rajani.  Masak anak takut sama bapaknya?


“Rajani, jangan takut sama pak polisi yang itu ya, pak polisinya baik.  Pak polisi ke sini mau nemuin umi, bukan mau nangkap Rajani.  Pak polisinya mau silaturahmi dengan Rajani, Revalina dan Rafa.”


“Beneran?”  Rajani masih agak takut.


“Benar.  Jangan takut,” sahut Cazim dengan senyum lebar.


“Pergilah panggil Revalina dan Rafa.  Kalian temui umi di sini ya!” titah Chesy sambil mengusap pipi tembem putrinya.


“Baik, Umi!”  rajani patuh.  Ia bergegas masuk dan memanggil dua saudara kembarnya.


Chesy meletakkan gelas kopi ke meja dan duduk di salah satu sofa.  “Minumlah!”


Cazim menyusul duduk, bersebelahan dengan Chesy.  Hampir tidak ada jarak, dan memang jarak terkikis habis.  Mulai dari paha sampai ke pundak, semuanya menempel seperti perangko.


“Sudah lama tidak begini,” celetuk Cazim dengan tenang, sambil meneguk kopi.


“Aku seperti nggak melihat Cazim yang kasar dan menakutkan.  Malah kelihatan seperti seorang yang haus dengan belaian,” bisik Chesy dengan bola mata berputar.


Cazim tertawa kecil.  “Aku suka kau masih seperti yang dulu, benar-benar tidak berubah.  Tujuh tahun sama sekali tidak memberikan perubahan apa pun dalam dirimu.”

__ADS_1


“Oh ya?  Kamu nggak tau aja, Mas.  Ada banyak yang berubah, dan itu kamu nggak lihat.”


“Nah, ini apa yang dibahas?  Jangan-jangan…”


“Stop berpikiran yang enggak- enggak,” potong Chesy sambil mencubit perut keras Cazim.  


Tidak ada pengaruh apa pun bagi Cazim meski mendapat cubitan keras itu.  dia tampak santai.  Hanya kulit wajahnya saja yang sedikit memerih.


“Umii…”  Tiga bocah kembar datang berlarian, mereka menghambur dan mengerumuni Chesy.


“Halo, anak- anaknya Umi yang ganteng dan cantik-cantik.”  Chesy tersenyum senang melihat tiga bocah itu yang tumbuh dengan sehat.


Cazim menatap wajah- wajah menggemaskan itu dengan raut tegang.  Tadinya ia merasa bahagia saat berniat ingin menemui anak- anaknya, tapi saat benar- benar sudah melihat dengan jelas di depan matanya sendiri, hatinya malah kebas.  Dia tegang dan gugup.  Nyaris seperti orang demam panggung, sekujur tubuhnya panas dingin.  


Ternyata anak-anaknya sudah besar.  Cazim tidak menyangka jika ia sudah memiliki anak sebanyak itu.  semuanya terasa mimpi.  Air matanya menggeang di pelupuk mata, terharu.  Namun dia tahan sebisa mungkin supaya tidak tumpah.  Dia akan diejek sebagai ellaki lemah dan cengeng oleh tiga bocah menggemaskan itu bila ia menangis.


“Revalina, Rafa, dan Rajani, kenalin ini namanya Cazim.  Panggil aja Abi Cazim. Dan…”


“Dengarkan umi bicara dulu, baru boleh ngomong, oke?” pinta Chesy dengan senyum.


Ketiga bocah itu mengangguk.  


“Jadi… kalian akan memiliki abi, sama seperti teman-teman kalian yang lain.  Nah, inilah abinya kalian.  Namanya Abi Cazim.  Pekerjaannya adalah polisi.  Ayo, salim sama abi!” titah Chesy dengan lembut.


Ketiga bocah itu diam semua, satu pun tidak ada yang beranjak untuk menyalami tangan Cazim.


“Kok pada diem?” tanya Chesy.


“Masak sih tiba- tiba kami punya abi?  Memangnya selama ini abi kemana? Kok Pak Polisi itu mendadak aja jadi abi kami?” tanya Revalina.


Mulut bocah satu itu memang nyerocos terus, namun mewakili suara hati yang lainnya.


Pertanyan begitu membuat Chesy kehabisan kata- kata untuk menjelaskan.  Pertanyaan anak kecil memang polos dan selalu ngena.

__ADS_1


“Maaf, abi selama ini bertugas.  Abi bekerja jauh sehingga kalian tidak bisa bertemu dengan abi,” sahut Cazim. Ia mendekati tiga bocah itu, jongkok di hadapan mereka, menatap satu per satu wajah- wajah itu.  ia tersenyum. “Kalian anak hebat, kalian selalu membuat umi kuat.  Jadi abi percaya kalian bisa menjaga umi, sebaliknya umi bisa merawat kalian dengan baik.  Makanya abi berani jauh dari kalian.”  Cazim terpaksa berbohong.  Mereka masih terlalu kecil, akan sulit menangkap penjelasan Cazim.


“Abi selama ini kerja, begitu?” polos Revalina lagi.


Cazim mengangguk.


“Kok, lama sekali kerjanya?  Sampai nggak pernah nemuin kita?” Revalina penasaran.


Cazim mengusap jilbab putrinya.  


“Iya, abi kerjanya memang lama,” sahut Chesy.  “Pekerjaan orang besar itu memang sulit dan rumit, anak kecil tidak akan pernah bisa memahami.  Nanti kalau besar juga bakalan tahu kok.  Ada juga orang yang bekerja sampai puluhan tahun di luar negeri, tujuannya adalah untuk mencari nafkah.”


Tidak ada lagi pertanyaan dari Revalina.  Memang cukup sulit memberikan penjelasan yang sesungguhnya.  Apa bila mereka diberi tahu kejadian yang sebenarnya, maka otak kecil mereka tidak akan sangup memahaminya.  Biarlah masa lalu terkubur dan tidak perlu kuburan itu dibuka lagi, akan buruk bila yang ada dalam kubur bangkit kembali.


“Ayo, siapa yang mau salim sama abi?” ucap Chesy semangat.


Rajani langsung menyambar tangan Cazim, menyalami dan mencium punggung tangan abinya.


Srrr… darah di tubuh Cazim mendesir merasakan sentuhan dingin bibir kecil anak kandungnya.  Jiwanya seolah bergetar.  Ternyata begitu dahsyat efek ikatan batin antara anak dan ayah.  


Bergiliran, Revalina dan Rafa menyalami tangan Cazim. 


Seketika, Cazim merengkuh ketiga anak itu, mendekap dalam pelukan hangatnya.  Hatinya basah.  


Saat itulah air mata Chesy meleleh.  Berderai deras.  


Tuhan begitu baik, menyatukan kembali keluarga kecil mereka dengan cara yang tidak diduga- duga.  Andai Chesy egois dan masih memikirkan luka lamanya, pasti kebahagiaan ini tidak akan pernah terwujud.


Chesy menghambur dan ikutan memeluk tiga anaknya, bersama dengan Cazim di dalamnya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2