Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menegangkan


__ADS_3

"Reva, ayo hampiri Dalsa. Minta doa juga darinya," bisik Chesy tepat di telinga kanan Revalina.


Sontak jantung serasa terkena sambaran petir di siang bolong, tak menyangka Umi akan memintanya mendekati si wanita menyebalkan itu.


"Sepetinya doa dia nggak manjur Mi," sahut Revalina lirih sambil melirik kesana kemari memastikan tak ada yang memandangnya apalagi mendengar pembicaraan keduanya.


"Hust, nggak boleh gitu. Doa dari orang lain itu justru manjur apalagi sekarang dia jadi ipar mu," tegur Chesy dengan tegas.


"Iya-iya Mi," sahut Revalina terpaksa mulai menggerakkan tungkainya menuju ke arah Dalsa seorang diri. 


Tidak seperti pengantin pada umumnya yang selalu bergandengan tangan menyambut tamu, Rival sekarang justru sibuk dengan para tamu yang masih berbau saudara sementara Revalina sendiri juga begitu, melenggang pergi tanpa pamit pada Rival. Impas.


Nampak wajah sengit Dalsa semakin tak tertolong, tahu akan kehadiran Revalina tak membuatnya ekspresinya berubah.


'Menyebalkan sekali rasanya pengen ku tonjok mukanya, lalu bukan karena Umi yang minta aku nggak sudi mendekatinya,' gerutu Revalina dalam hati.


Tiba dirinya tepat di hadapan Dalsa, ia coba mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membuka pembicaraan dengan adik kandung Rival ini.


"Dalsa, kamu belum ucapakan selamat untuk Reva. Ayo ucapakan sekarang," tiba-tiba Candini dari arah belakang merangkul pundak Revalina.


Sontak Revalina terkejut tapi juga senang, dengan adanya Candini membuat dirinya tak perlu berbicara pada Dalsa. Tapi tak kalah terkejutnya melihat perubahan ekspresi Dalsa yang begitu ceria ketika Candini datang.


"Oh ya. Aku kira tadi sudah, ya Tuhan bisa pelupa begini aku," ucap Dalsa sambil memegangi keningnya.


"Selamat ya Reva, semoga samawa dan betah jadi Kakak ipar ku," ucap Dalsa dengan ceria.


Revalina terdiam beberapa detik merasa aneh dengan kalimat terakhir Dalsa. "Apa maksudnya, awas saja kalau setelah ini dia berbuat macam-macam."


"Amin, terimakasih Dalsa," sahut Revalina dengan senyum yang sama.


"Amin. Pasti Reva betah karena Dalsa itu anak yang baik, setahu Mama dia itu anaknya penyayang," ucap Candini sambil terkekeh menatap Revalina.


Reflek kedua bola matanya membesar sebuah reflek yang tak mampu ia tahan. Terkejut bukan main mendengar sebuah fakta di luar nalar, di mana Candini mengatakan bahwa putri bungsunya adalah seorang penyayang.

__ADS_1


'Kalau penyayang dia nggak mungkin bunuh Rajani,' ucap Revalina dalam hati, kesal.


Siang itu acara di tutup dengan doa, setelah para tamu undangan meninggalkan gedung barulah semua pihak keluarga beranjak dari gedung itu menuju hotel. Hanya memerlukan beberapa puluh langkah saja mereka sudah berhadapan dengan pintu lift, satu persatu masuk mulai dari Revalina dan Rival.


"Ayo kita naik bersama," ajak Revalina pada semua keluarga yang malah memilih mematung di depan lift, tak segera masuk.


"Nggak, kalian berdua saja naik duluan," sahut Chesy sambil tersenyum-senyum malu.


"Lah kan kamar kita satu lantai, ayuk dari pada nanti nunggu malah capek," bujuk Revalina meski sedikit kebingungan.


Semua kompak menggelengkan kepala, saat itu juga tanpa permisi tangan Rival cepat memencet tombol menutup pintu lift sontak membuat Revalina terkejut, ternganga tak percaya.


"Pak, apa yang sudah kamu lakukan. Kasihan mereka," gerutu Revalina kesal.


"Orang mereka kekeh nggak mau ikut, ya sudah jangan dipaksa," sahut Rival dengan santainya.


"Nggak mau bukan artinya nggak mau beneran, mereka itu emang harus dipaksa," elak Revalina, tak terima dengan sahutan santai Rival padanya.


Rival memutar bola matanya sambil terkekeh. "Lah seperti itu jangan kamu samakan sama dirimu sendiri."


"Ctingg," bunyi pintu lift terbuka.


Keduanya bergegas keluar dari lift, dengan gaun yang menyeret-nyeret Revina berusaha mengangkat sedikit gaunnya membawanya melintasi lorong-lorong kamar. Tak terasa setelah melewati beberapa pintu Revalina tersadarkan akan sesuatu hal.


"Kenapa Rev?" tanya Rival ikut menghentikan langkahnya.


"Hey, kamu salah belok Pak. Lorong kamar mu ada di sebelah sana, kalau sebelah sini itu lorong kamar punya ku sana punyanya Mama dan Kak Rafa," jelas Revalina menunjuk-nunjuk ke arah lorong pada arah kiri dari lift.


Bukannya segera mengeksekusi penjelasan Revalina, Rival justru meringis menahan senyum.


"Apa kau lupa kalau kita sudah menikah?" tanya Rival sembari menaikkan sebelah alisnya.


Seketika Revalina mendelik, terkejut dengan kebodohannya. Tak terpikirkan sama sekali dalam otaknya yang tinggal secuil ini bahwa Rival sekarang sudah menjadi suaminya dan sudah sepantasnya berbagi kamar dengannya. 

__ADS_1


Seakan tahu Revalina tengah malu akan kebodohannya, Rival melenggang lebih dulu menuju kamar sementara Revalina masih terdiam dengan pikiran yang masih berkecamuk. Masih membutuhkan waktu untuk sekedar menyusul Rival, mengikuti langkahnya sekarang. Namun seakan Tuhan sedang berbaik hati menolongnya siang hari ini, nampak dari kejauhan seorang perias dan asistennya keluar dari kamar sambil menenteng high heels dengan corak khas pengantin.


Tak ingin melewatkan kesempatan, dengan cepat ia menghampiri dua makhluk itu.


"Hallo kak, mau pada kemana nih?" tanya Revalina pada perias dan asistennya.


"Hallo, ini mau keringkan sepatu. Tadi bisa-bisanya ketumpahan air padahal sepatu ini yang akan kamu pakai sore nanti," jawab perias itu sambil tersenyum manis, tapi tak mengubah kesuraman yang ada sebelumnya.


"Buat asisten Kakak saja yang keringkan, Kakak bantu aku copot gaun sama dandanan ini," pinta Revalina pada perias itu.


"Okelah," sahut perias dengan mudahnya.


Mereka pun mulai masuk ke dalam kamar meninggalkan asisten yang masih merasa kebingungan.


Akhirnya yang diinginkan Revalina terwujud tanpa harus ngoyo. Ia telah berhasil membawa perias itu kembali ke kamar untuk hal yang sangat sepele padahal semua bisa di lakukan sendiri.


Ketika mereka menginjakkan kaki di kamar, seketika mendapatkan sorotan mata tak enak dari Rival yang masih santai-santai di ujung sofa.


"Maaf Pak, saya kesini diminta Kak Reva buat bantu lepas riasan dan gaunnya," ucap Perias sambil mengangguk menunduk sopan pada Rival.


Namun Rival tetap memilih bungkam seribu bahasa, entah kesal atau kecewa yang dia rasakan sungguh hanya dia san Tuhan yang tahu.


"Kita mulai dari mana ini Kak?" tanya Revalina dengan tatapan mata ke arah kaca besar yang penuh dengan tubuhnya.


"Dari gaun dulu, sini aku bantu bukakan," jawab Perias mendekat ke arah Revalina.


Reflek tangan Revalina menahan langkah perias itu semakin maju dan membuka semulus helai lainnya di tengah podcast itu sangatlah penting.


"Nggak papa Kak, ganti di depan suami itu nggak papa," tegur Perias sambil tersenyum-senyum malu.


"Ih bukan begitu, aku cuma lagi ini..." Ucapan Revalina terhenti, bingung dengan topik pembahasan yang berpotensi mengarah kesana sangatlah besar.


"Tidak apa apa," Perias itu lebih kekeh lagi, tanpa aba-aba kini kedua tangannya mulai menyentuh resleting punggung pada gaun Revalina.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2